
“Rafa, udah berapa kali sih gue bilang, kita nggak ada urusan lagi. Gue ini udah punya suami. Ngerti nggak, sih?” Anna menatap jengah lelaki di hadapannya.
“O ya? Tapi Rafa belum mau berenti sebelum Anna nyadar siapa lelaki yang sekarang jadi suami Anna itu.”
Diam-diam, Joli memilih pergi karena merasa tidak dianggap oleh Rafa. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi perempuan selain tidak dianggap oleh orang yang disayangi, seperti yang Joli alami sekarang. Dan ia sudah hilang dari sana ketika Anna menoleh ke kursi.
“Rafa, apa yang lo katakan tentang Alan itu nggak bener. Gue percaya suami gue dari pada lo.”
Rafa tertawa, lebih terkesan meledek kepercayaan Anna yang seperti lelucon di matanya. “Mendingan Anna tanyakan langsung ke Cintya apa aja yang udah Alan lakukan sama gadis itu, berapa banyak uang yang udah Cintya dapatkan dari Alan. Rafa tau banyak soal Alan dan Cintya karena Cintya itu kakak Rafa. Rafa sering ngeliat Alan nganterin Cintya pulang. Asal Anna tahu, Cintya itu pacaran sama Reno, sahabatnya Alan. Tapi Alan sendiri bisa nikung Reno, macarin Cintya secara diam-diam.”
Anna malah tersenyum geli mendengar perkataan Rafa. “Kalaupun apa yang lo bilang itu bener, berarti Alan nggak ada bedanya sama lo. Jadi buat apa lo capek-capek ngejelasin semua ini? Maaf Rafa, gue nggak percaya omong kosong ini, omong kosong yang keluar dari orang yang udah terbukti ngibulin gue. Sekali lagi gue tegasin, gue lebih percaya suami gue.” Anna melewati Rafa dan melenggang pergi tanpa memperdulikan Rafa yang berteriak menyerukan bahwa apa yang ia katakan itu adalah fakta.
***
Sepulang dari kampus, Anna langsung berbelanja ke mall. Ia memilih-milih boneka. Koleksi boneka di kamarnya sudah banyak, tapi Anna sangat menyukai boneka. Rasanya koleksinya masih kurang.
“Anna?” Seseorang menepuk pundak Anna.
Kini Anna dan Cintya sudah duduk di salah satu meja kafe. Keduanya sedang menyesap jus. Sesekali Anna mengaduk-aduk jus dengan sedotan saat merasa canggung. Apa yang harus ia katakan pada Cintya saat Cintya menuntut agar ia berpisah dengan Alan?
“Anna, kapan kamu pisah dari Alan? Sejauh ini Alan belum bisa ambil keputusan karena takut menjadi sasaran amukan papanya jika menceraikanmu, dia bilang masih mencari waktu yang tepat.”
Anna mengesah, semakin bingung harus bicara apa. Tatapan antusias Cintya, ditambah cintanya yang terpancar melalui matanya, membuat Anna semakin tidak tega.
“Tadi Alan menelepon dan bilang akan menemuiku jam sepuluh untuk membahas masalah ini, tapi ternyata ada meeting dan dia batal menemuiku. Kebetulan kita ketemu di sini, kurasa ini waktu yang tepat untuk kita bicara.”
Cintya menarik nafas kemudian menyedot jusnya.
“Aku bosan menunggu terlalu lama, aku udah membuang waktu bertahun-tahun demi menunggunya. Waktu terus berjalan dan usiaku juga semakin bertambah. Aku nggak bisa menunggu lama lagi. Di usia sekarang, aku harus menikah bukan? Mau sampai kapan aku menggadis?”
Anna membelalak. Kalimat apa yang baru saja ia dengar? Ia cepat-cepat menyedot jus dari sedotan untuk membasahi kerongkongan yang tiba-tiba mongering. Bukankah Alan dan Cintya sudah menikah? Bahkan mereka sempat berbulan madu ke luar negeri?
TBC