Holy Marriage

Holy Marriage
Perhatian



“Maaf, aku agak lambat. Bentar lagi aku pulang. Ini juga udah mau pulang. Tunggu di rumah. Aku OTW sekarang. Jangan disuruh buru-buru, entar nabrak.” Alan menekan tombol kunci mobilnya. “O ya, kamu jangan lupa makan. Daa…” Alan terkejut saat membalikkan badan dan menabrak makhluk empuk. Matanya membulat melihat sosok manusia yang kini berdiri di hadapannya. Anna. “O my God, kamu di sini?” kejut Alan memperhatikan istrinya yang tiba-tiba nongol.


“Hm.” Anna mengangguk sambil memasukkan ponsel ke tas, sementara tatapan matanya mengarah ke mata Alan. “Ngapain kamu di restoran? Tapi tadi pamitannya ke kantor.”


“Oke oke, entar kujelasin. Ayo, masuk ke mobil dulu.”


“Enggak. Aku mau penjelasanmu dulu.”


“Anna, kita udah hampir telat dan kamu masih mau buang waktu?” Alan menatap arloji di tangannya.


Andai saja saat itu Anna tidak terburu-buru menghadiri acara pernikahan Angel, tentu Anna sudah meminta Alan mengantarnya menemui Cintya. Anna meminta mereka bicara bertiga agar masalah segera selesai. Tapi Alan benar, waktu mereka tidak lama.


Alan membukakan pintu mobil dan menuntun Anna memasukinya.


Anna berdecak dan mengelus dada. Sabar, Anna. Ia berusaha mengubah ekspresi agar lebih rileks saat menatap Alan yang sudah duduk di sisinya.


“Tadi ada urusan mendadak, urgent banget pokoknya. Aku jelasin pun mungkin kamu nggak bakalan ngerti. Yang jelas soal kerjaan.” Alan bicara dengan pandangan fokus ke depan, konsentrasi menyetir mobil yang kini sudah melaju meninggalkan restoran. Cara bicaranya santai dan rileks. “Perutku tadi laper banget, jadi ya aku makan di restoran setelah urusanku selesai. Kan tadi aku udah bilang mau makan di jalan. Toh, kamu juga yang pesenin supaya aku nggak telat makan, kan?” Alan menyentil dagu Anna dengan jari telunjuknya.


“Tapi kenapa mesti sama Cintya?” selidik Anna.


“Eits, jadi kamu tadi ngeliat Cintya juga?” Alan mengayunkan sebelah alis, menanggapi pertanyaan dengan begitu santainya. Seakan-akan tidak ada yang salah pada dirinya. “Iya, tadi emang ada Cintya di sana. Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba dia bisa muncul. Kayak sundel bolong aja bisa muncul tiba-tiba. Aku pun kaget ngeliat dia langsung duduk di depanku. Kamu cemburu?”


“Masih aja kamu tanya aku jeles apa enggak? Kamu suamiku. Dan kamu deket sama perempuan yang jelas-jelas suka sama kamu. Iya, aku cemburu. Aku cemburu. Kamu puas?”


“Hehee…” Alan meraih tangan Anna dan mencium punggung tangannya.


“Semulia-mulianya laki-laki adalah yang memuliakan wanita. Jika seseorang mencintai Allah dan Nabi lebih dari siapapun, dia akan mencintai dan menghormatiku, tetap setia padaku karena cinta itu ada kekuatannya kepada Allah. Dan aku percaya kamu adalah laki-laki yang memuliakan wanita.”


“Makasih.”


“Udah, nyetir aja sana. Entar nabrak.” Anna menarik tangannya.


Alan kembali fokus menyetir meski ia lebih sering melirik wajah Anna di sampingnya. “Nggak pa-pa kok kamu cemburu, tandanya kamu sayang sama aku.”


“Apa yang kamu bicarakan dengan Cintya tadi? Kamu udah putusin dia?”


“Aku nggak sempet bicara apa-apa. Waktuku singkat sekali. Udah sarapan?”


Selalu saja begitu. Alan kerap kali mengalihkan pembicaraan. “Aku makan roti aja tadi.”


“Mau sarapan dulu?”


“Nggak usah. Kamu bilang sendiri kita udah hampir telat dan kamu masih punya waktu untuk menawariku sarapan? Kita langsung ke rumah Ayah aja.”


“Kesehatanmu nomer satu.”


Hati Anna berdesir mendengar kata-kata itu. Setiap kata yang terucap dan mengandung unsur perhatian, jantung Anna selalu berdebar.


TBC