Holy Marriage

Holy Marriage
Hai, Naga



“Aku harus mendampingimu!”


Alan mengingat satu kalimat yang diucapkan oleh Anna saat ia hendak meninggalkan rumah William dengan tujuan menemui Naga. Itulah sebabnya kenapa kini Anna ada di sisinya saat di dalam mobil.


Anna menghela nafas melirik ekspresi Alan yang tegang dan dipenuhi emosi. Sorot mata pria itu juga tajam menusuk.


Andra menyetir di depan dengan penuh konsentrasi.


Sementara Azzam dititipkan di rumah William. Biasanya bocah itu menjadi rebutan nenek, kakek, bibi, dan semua orang yang melihatnya. mudah-mudahan Azzam tidak mengamuk dan marah-marah saat menjadi rebutan. Membayangkan Azzam mengamuk saja rasanya Anna sudah pusing, bagaimana jika orang lain yang menghadapi tingkah ngamuknya Azzam, pasti lebih pusing lagi.


“Mas Alan, jangan pakai emosi, kamu bisa selesaikan ini dengan baik-baik. Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan, Mas Alan,” sebut Anna mencoba meredam kekesalan sang suami. Mungkin dnegan kelembutan, Alan bisa lebih tenang.


“Kamu tahu ini masalah besar, Anna. Stefi hamil di luar nikah. Dan kamu tahu kalau keluargaku menjadi sorotan publik. Ini bukan masalah sepele, dan tidak mudah bagi keluarga besarku menghadapi ini. ketika kehamilan Stefi menjadi konsumsi publik, saat itulah kami menghadapi aib besar. Aku hanya memikirkan papa dan mama, ini menjadi beban besar bagi mereka. Dan sebagai putra sulung, aku memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini, demi mama dan papa, demi nama baik keluarga.” Alan bicara panjang lebar.


Anna mengangguk.


Sebenarnya Alan sedang dalam situasi bahagia sekembalinya dari liburan ke luar negeri karena kondisi kesehatannya yang membaik, bahkan sakit kepalanya juga berangsur membaik. Saat ia berada di luar negeri, ia mengira kalau kebersamaannya dengan Anna dan Azzam adalah msa-masa terakhirnya, ia sengaja meninggalkan pekerjaan, meninggalkan hal-hal penting dalam dunia bisnisnya, bahkan juga tidak lagi berminat untuk meneruskan sederet jadwal pengobatan dnegan dokter pribadi pilihannya. Namun situasi justru berubah drastic setelah kondisi kesehatannya justru berangsur membaik.


Kepulangan Alan ke Indonesia seperti membawanya ke dunia baru hingga ia memiliki harpan baru pula untuk bisa hidup bersama keluarga kecilnya. Tapi apa yang sekarang terjadi dengan Stefi? Adiknya itu malah membuat kasus baru yang membuat kondisi baik dalam benak Alan memudar dan berganti dengan emosi.


Sesampainya di rumah Naga, Alan langsung menerobos masuk pada pintu yang setengah terbuka. Ia melihat Naga sedang fokus pada laptopnya.


Brak!


Naga yang melihat laptopnya tiba-tiba tertutup pun terkejut hingga tersentak dan sontak mengangkat wajah.


“Alan?” kejutnya menatap wajah merah padam di hadapannya. ia mengernyit sesaat memikirkan apa yang terjadi. Detik berikutnya ia bangkit berdiri, lengannya membenahi kerah kemejanya yang sedikit berantakan. “Aku tidak mendengarmu masuk kemari. Sudah lama aku ingin kau mengunjungiku kemari, tapi baru sekarang kau datang.” Naga berbicara seperti tanpa dosa. Ia tersenyum dan menunjuk sofa, “Ayo duduk! Mau minum apa, biar kusuruh pembantu menyiapkan minum untukmu.”


“Aku tidak perlu berbasa-basi, naga,” ucap Alan dingin. Ia tidak mengucapkan kata-kata dnegan nada tinggi, melainkan dengan nada datar, namun sorot matanya sudah cukup menjadi saksi betapa emosinya sedang naik ke ubun-ubun.


Pandangan Naga tertuju ke arah Anna yang baru masuk menyusul Alan.


“Kau kemari bersama istrimu? Good, aku menunggu momen ini,” ucap Naga, lagi-lagi seperti tanpa masalah.


“Naga, aku bicara denganmu!” Alan mengalihkan perhatian.


“Ya, aku tahu. Kau kemari pasti ingin bicara denganku. Bagaimana kalau kita ke restoran saja sekalian bisa makan bersama. Ayo!” Naga mlangkah. Namun baru dua langkah saja, tubuhnya terhenti saat mendapatkan hadiah berupa tinju dari Alan.


Duez!


Tubuh Naga terhuyung dan mundur selangkah mendapat tinjuan dari Alan.


TBC