
Andai saja Alan kelak menikahi Cintya, maka Anna tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi jika Anna sudah hamil. Mana mungkin Anna akan berpisah dari Alan. Selama itu pula Alan dan Cintya akan hidup ditengah-tengah kehidupan Anna.
“Kamu adalah suamiku, jadi kuminta jangan lagi dekati Cintya karena kalian masih berstatus sebagai kekasih. Apalagi hubungan kalian kelewat batas. Kuminta hentikan hubunganmu dengannya.”
“Kelewat batas gimana?”
“Cintya udah cerita semuanya sampai dimana hubunganmu dengannya, bahkan kamu udah melihat tubuh Cintya.”
“Dan kamu percaya?” Alan menaikkan alis sembari mengusap pipi Anna lembut.
“Tentu. Itu yang Cintya katakana.”
“Kamu terluka mendengarnya?” Alan tersenyum dan Anna kesal sekali melihat senyumannya itu, sepertinya Alan sedang meledeknya. “Aku nggak pernah melakukan hubungan intim dengan Cintya. Aku nggak pernah membuka bajunya.”
“Apa kamu tahan dengan godaan Cintya?”
“Kamu lebih percaya suamimu atau dia?”
“Antara kamu dan Cintya belum menikah, artinya kamu bisa dengan mudah memutuskan hubungan dengannya. Aku nggak mau kamu terus-terusan berzina dengan perempuan itu. Kita sama-sama memulai rumah tangga dengan baik. Sekarang jawab jujur, kenapa kamu belum juga mengakhiri hubunganmu dengannya? Apa kamu mencintainya? Kamu ingin menikahinya?”
Alan menatap tenang. Menciumi pipi Anna dengan lembut. “Boleh kubuka?” Alan memegang ujung jilbab Anna. Kemudian menariknya ke depan sebelum Anna sempat menjawab hingga jilbab itu lolos dari kepala Anna.
Alan mendaratkan kecupan singkat di rambut hitam Anna.
Alan menarik napas. Bola matanya berputar mencari objek pemandangan yang dianggap tidak menuntut, seperti mata Anna sekarang yang sedang menuntut kejujurannya.
“Katakan sejujur-jujurnya. Aku mau kejujuran,” tegas Anna.
Kata-kata itu terdengar seperti ultimatum yang memaksa Alan wajib bicara.
Alan menyentuh kedua lengan Anna dan menatap mata bening itu lekat-lekat. “Anna, antara aku dan Cintya akan berakhir jika memang itu yang kamu inginkan.”
Anna mengelus dada bidang suaminya itu. Sementara sorot matanya terus mengawasi ekspresi Alan yang sampai saat ini tampak gusar. Anna takut, Alan hanya sekedar menenangkannya. Pria itu hanya ingin mengambil kepercayaannya saja. Sementara di belakang Anna, Alan akan tetap bermain serong dengan wanita itu. Ketika Alan dan Cintya benar-benar melakukan hubungan gelap di belakang Anna, Anna akan kalah. Dia resmi dikhianati oleh suaminya sendiri. Anna takut hal itu terjadi.
“Kalian hanyalah sebatas berpacaran, nggak lebih dari itu. Aku berhak melarangmu melanjutkan hubungan dengannya karena aku istri sahmu. Plis, hentikan hubunganmu dengannya. Kalian hanya akan berzina dan membuat dosa. Aku nggak mau kamu menyentuhnya lagi, memeluknya, apa lagi menciumnya.”
Pernyataan Anna sedikit pun tidak membuat Alan rikuh, ia tetap terlihat tenang.
“Kamu benar, Cintya memang wanita yang luar biasa agresif. Dia mengatakan kalau dia sangat mencintaiku. Tapi semuanya akan berakhir. Dia yang agresif, bukan aku.”
Hati Anna terasa sakit mendengar pengakuan Alan, tapi itulah resiko dari keinginannya untuk mendengar kejujuran. Mata Anna sendu. Membayangkan suaminya mencium dan memeluk wanita lain, tentu itu bukanlah hal mudah baginya. Ia sudah sangat mencintai Alan, tindakan Alan itu menyakitinya. Sabar Anna, sabar.
TBC