
Pukul 04.00 pm, Anna sudah duduk manis di salah satu kursi kafe Runner, tempat dimana dia sudah janjian dengan Dhani. Disaat kepala Anna menyebut nama Dhani, entah kenapa dia bertanya-tanya, namanya Dhani tapi kenapa berjenis kelamin wanita? Bukankah biasanya Dhani adalah nama pria? Atau jangan-jangan namanya Dhaniyem? Ah, kenapa Anna malah memikirkan nama panjang wanita itu?
Sejauh ini, Nona masih merasa penasaran hubungan antara Alan dan Dhani. Kenapa Dhani sampai harus mengirim chat kepada suaminya?
Entah sudah yang ke berapa kalinya Anna melirik ke arah jam tangan, sudah hampir empat puluh menit berlalu namun Dhani belum muncul juga. Apakah gadis itu berbohong?
Anna mengambil gelas di depannya dan menyedot isinya. Dia mengerjap karena isi gelas sudah kosong. Eh lah, Anna sampai tidak sadar jika isi minumannya sudah habis. Saking kelamaan menunggu, gelas minumannya pun sampai kering.
Apakah mungkin Dhani tidak datang? Anna mengambil ponsel, dia ingin menelepon Dhani, tapi enggan karena takut mengganggu. Sejenak dia mengusir rasa enggan mengingat jam kerja Dhani sudah selesai artinya Anna tidak akan mengganggu jika menelepon. Akhirnya Anna menekan nama Dhani saat menemukan kontak tersebut di ponselnya. Sayangnya nomer tersebut tidak aktif.
Kesal, Anna akhirnya bangkit berdiri hendak meninggalkan meja.
“Selamat sore!”
Suara dari arah belakang mengejutkan Anna. Dia menoleh dan mengangkat alis mendapati Dhani yang baru saja muncul.
Anna menarik lebar sudut bibirnya. “Kupikir kamu nggak datang.”
“Aku tadi banyak urusan sehingga tidak bisa langsung meninggalkan tempat kerja.”
“Ooh… duduklah!” Anna menunjuk kursi di depannya.
Dhani menarik kursi dan duduk di depan Anna.
“Mau minum apa?” tanya Anna.
“Tidak.” Dhani mengangkat tangan tanda menolak. “Aku ke sini hanya untuk menemuimu. Apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah ini mengenai aku?”
Anna menghela nafas. Kakinya di bawah meja menyilang. “Apakah kamu mengenal Alan?”
“Alan? Oh… dia teman sekolahku dulu. Dan sekarang dia bertetangga denganku. Kenapa?”
Ya ampun, Alan mana yang dimaksud oleh Dhani? Apakah ini artinya nama Alan adalah nama pasaran? Ups…
“Maksudku Alan William.”
“Alan Wiliam itu siapa? Aku nggak kenal.” Dhani menggelengkan kepala.
“Seingatku, kamu mengirim pesan kepada Alan dan membuat janji dengan pria itu. apakah kamu ingat?”
Dhani terlihat berpikir.
“Jangan lupa kita ada janji. Itu adalah kata-kata yang kamu tulis di dalam pesanmu,” ucap Anna menirukan kata-kata yang tertulis dalam pesan yang dia baca. “Kamu ingat?”
Dhani tertawa. “Ooh… Itu? iya benar, aku mengirim pesan kepada Tuan Alan, dia pemegang saham terbesar di beberapa perusahaan besar serta CEO perusahaan ternama dan motivator ganteng yang sering muncul di pemberitaan itu, kan? Eh, tunggu dulu, kenapa kamu bisa tahu isi pesan yang kukirim kepadanya?”
“Mm…” Anna bingung harus menjawab apa, jika dia jujur mengatakan kalau dia adalah istri Alan, akankah Dhani berterus terang kepadanya tentang hubungan mereka? Ataukah Dhani akan menyembunyikan sesuatu hal yang dia simpan bersama Alan saat tahu kalau Anna adalah istrinya Alan? “Aku… istrinya.” Akhirnya jawaban itu terucap juga dari mulut Anna.
Ekspresi wajah Dhani langsung berubah, lebih tepatnya berubah enggan. “Maaf jika aku tadi terlihat sedikit lebih mengarah kepada sikap untuk bergurau, jadi kamu adalah istrinya Tuan Alan?”
“Ya.”
Dhani tampak agak bingun, namun kemudian dia berkata, “Aku ini adalah asisten dokter yang ditugaskan untuk menjalankan perintah dokter. Dan salah satunya adalah mengingatkan pasien dokter untuk kontrol atau pun cek kesehatan.”
“Maksudmu Alan meminta dokter untuk mengingatkan jadwal cek kesehatan? Atau Alan menemui dokter bukan untuk sekedar cek kesehatan saja? Ataukah dia sedang melakukan kontrol kesehatan?”
“Untuk hal itu, aku kurang tahu karena dokterlah yang lebih tahu. kupikir kamu nggak perlu mencemaskan hal ini, Tuan Alan memang sering cek kesehatan dengan Dokter Rahman, dan hal itu beliau lakukan secara rutin. Ini sering dilakukan oleh orang-orang besar sepertinya bukan? Apa lagi masalah kesehatan adalah masalah vital, para pengusaha besar seperti Tuan Alan wajib melakukannya secara rutin, baik control gula darah, tensi, jantung dan lain sebagainya.”
“Tapi keluarga besar William memiliki dokter pribadi, tidak biasanya Alan melakukan cek kesehatan dengan dokter lain. Dokter Rahman bukanlah dokter pribadi keluarga William.”
“Nggak wajib juga cek kesehatan dengan dokter keluarga, mungkin Tuan Alan sudah beralih dokter dan beliau memakai jasa dokter lain untuk urusan kesehatannya. Atau mungkin lebih baik kamu tanyakan hal itu ke Tuan Alan secara langsung. Yang jelas, aku dan tuan Alan nggak ada hubungan apa pun selain hanya sebatas untuk sekedar mengingatkannya jadwal cek kesehatan. Itu saja.” Dhani seperti mengerti maksud tujuan Anna mengajaknya bertemu di sana, gadis itu meyakini kalau Anna menduga ada skandal antara Alan dengan dirinya akibat pesan yang dibaca oleh Anna.
Anna mengangguk. Mungkin kecemasannya memang berlebihan. Seharusnya dia tidak perlu menyelidiki sampai seperti ini. Setelah tahu kalau Dhani adalah asisten dokter dan tujuan mengirim pesan kepada Alan hanyalah sekedar untuk mengingatkan jadwal cek, minimal Anna merasa sedikit lebih tenang. Dugaannya yang simpang siur di kepala tidak terjadi. Anna berpikiran begini bukan tanpa alasan, sebab sikap alan akhir-akhir ini memang berubah dan Anna tidak tahu apa penyebabnya. Alan adalah pria pendiam, dingin dan tidak mudah berterus terang. Pria itu sanggup memendam suatu rahasia rapat-rapat tanpa orang lain tahu.
Anna dan Dhani berpisah setelah keduanya selesai mengobrol.
Bersambung
Maaf update Alan -Anna season 2 nyendat dan baru update setelah sekian lama. sebab aku sedang fokus nulis novel Salah Nikah di noveltoon, ada yang belum baca Salah Nikah gak? Nyesel deh kalau belum baca 😁😁😁
Aku juga lagi nulis di aplikasi Novel Me. mampir juga yah ke novelku dengan judul Pernikahan Palsu di apk Novel Me. 😘