Holy Marriage

Holy Marriage
Kacau



“Sayang, hapemu mana?” tanya Anna sepeninggalan kedua pelayan.


“Tuh, dicas.” Alan menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas nakas sambil melipat permadani.


Anna meraih ponsel Alan yang sedang di cas. “Loh, ini hapenya mati?”


“Mungkin lobet. Aku nggak tengok-tengok hape.”


“Aku mau ngeliat foto-foto yang tadi.”


“Besok aja.”


Anna mengangguk lalu membaringkan tubuh di atas kasur dan menyelimuti tubuhnya hingga ke leher.


“Ikan bakar tadi manggangnya pakai apa? Bumbunya apa?”


“Kenapa? Rasanya enak, ya?”


“Bukan itu. Tapi...” Anna mengerang.


“Tapi apa?” Alan menoleh ke arah Anna.


“Kok, perutku eneg banget. Melilit. Aduuuh... Kepalaku pun pusing.”


Anna memegangi kepalanya sembari menggeliat. Alan mulai cemas dan melompat menaiki ranjang. Dengan cepat tangannya meraih tubuh Anna yang menggelinjang.


Anna merintih, matanya terpejam dan alisnya berkerut tajam. Tangannya terus memegangi perut sementara satunya lagi memegangi kepala.


“Anna, kamu kenapa?” Alan panik bukan kepalang. Anna hanya makan ikan bakar sebelumnya. Dan sekarang Anna jadi begini? Apa mungkin ikan bakar itu penyebab Anna menjadi seperti itu?


Alan sama sekali tidak mencicipi ikan secuilpun, ikan sgede itu habis sendiri oleh Anna. Wajar Alan tidak tahu bagaimana rasanya.


“Anna! Anna!” Alan berteriak histeris saat tubuh Anna sudah lemas dan matanya terpejam erat, kepalanya menggelantung sangat lemah di lengan Alan.


Alan kembali meletakkan tubuh Anna dan melompat turun dari ranjang, lalu memutar kunci pintu, ia ingat sudah mengunci pintu setelah mempersilakan dua pelayan yang membereskan piring-piring kotor tadi. Ia harus membuka kunci pintu terlebih dahulu sebelum mengangkat tubuh Anna keluar kamar untuk mempermudah gerakan tubuhnya nanti.


Alan kemudian kembali naik ke ranjang. Tapi sial, kakinya tidak tepat menginjak sisi ranjang hingga ia malah terpeleset dan jatuh.


Pelipis Alan membentur lantai.


“Awh!” Alan merintih, namun detik berikutnya ia bangkit dan kembali menaiki ranjang dengan gerakan secepat kilat, seperti orang kesetanan.


Tangan kokohnya merengkuh tubuh Anna.


“Anna, bangun! Ada apa denganmu? Buka matamu. Aku sayang sama kamu. Jangan begini! Ya Allah, apa ini hukuman-Mu untukku? Jangan lakukan ini padaku Ya Allah, jangan biarkan istriku kenapa-napa.”


Alan sangat kacau melihat Anna lemas tidak sadarkan diri. Tangan Alan gemetaran mengangkat tubuh itu turun dari ranjang.


“Hahaaaa.....”


Alan membeku seketika mendengar gelak tawa yang keluar dari mulut Anna. Kini manusia dalam gendongan Alan itu terkikik seperti kuntilanak.


Tawa Anna kian meledak. “Kamu lucu banget kalau panik.”


Anna menjepit hidung suaminya itu. “Ternyata gampang banget bikin kamu panik.”


Alan masih tidak bisa bicara, rasa shock yang tadi menyekap seluruh organ tubuhnya belum hilang.


Anna langsung melompat turun dari gendongan Alan dan berlari menjauh.


“Jadi ceritanya kamu cemas kalau aku kenapa-napa? Heheee...”


“Masih aja kamu berani ngeledekin? Apa kamu nggak merasa bersalah?” Alan melangkah maju siap menerkam Anna. Ia merasa bodoh setelah dikerjain Anna.


“Enggak.”


“Awas kamu!” Alan mengejar Anna dengan menaiki ranjang dan melompat turun tepat di hadapan Anna. Kedua lengan kokohnya melingkar di tubuh Anna dan membopongnya menuju ranjang. “Keterlaluan. Bisa-bisanya kamu ngerjain suami kayak gini. Nggak lucu. Aku bisa kejang kalau kamu ulangi kayak gini lagi.”


“O ya?” Anna mengulum senyum menahan tawa, muka Alan masih terlihat lucu sampai sekarang.


“Kalau kamu mau membunuhku, gampang. Kamu tinggal lakukan aktingmu yang kayak tadi sekali lagi, maka besok akan langsung heboh di media mengabarkan ada pengusaha muda mati berdiri terkena serangan jantung.”


TBC