
“Selamat datang anak dan mantu tercinta….!” Wiliam merentangkan tangan dengan gaya seperti seorang host. Benar-benar, sudah tua pun masih sok gaul.
Anna geleng-geleng kepala dibuatnya. Anna melirik Alan yang saat ini berada dalam gandengannya, gandengan ala-ala raja dan ratu. Sebenarnya Anna tidak mau menggandeng Alan dengan gaya yang menurutnya terasa lebay itu, tapi gara-gara Alan yang menarik-narik tangan Anna dan melingkarkannya di lengan Alan, terpaksa Anna nurut dari pada ribut. Nggak lucu berantem cuma gara-gara masalah gandengan tangan. Bukan tanpa alasan Anna malas menggandeng Alan, aroma wangi tubuh Alan yang selama ini ia sukai, mendadak membuat perutnya eneg semenjak ada janin dalam kandungannya.
Seluruh anggota keluarga besar Wiliam memenuhi ruangan luas. Mulai dari yang muda sampai yang tua mengeriput ada di sana. Ini adalah kali keduanya Anna bertemu dengan keluarga besar Alan. Pandangan Anna mengedar menatap wajah-wajah gembira di sana.
Ini ada apa? Dalam rangka apa? Kok, rame gini kayak pasar malem? Anna menerka-nerka namun juga tetap bingung. Namun satu hal yang Anna tahu, Wiliam dan Laura terlihat bahagia karena masalah pelik yang sempat membuat Anna hampir terseret ke kepolisian sudah berlalu. Sayangnya mereka tidak tahu, dibalik penyelesaian masalah itu, kekerasan Alanlah yang turut andil hingga membuat Rafa menjadi bonyok.
“Gimana kandunganmu? Sehat, kan?” tanya nenek Alan yang langsung memegang tangan Anna dan menariknya hingga pegangan Anna terlepas dari lengan Alan hingga adegan romantis ala romeo juliet pun musnah.
Duuh.. Nih nenek udah tua tapi tenaga masih ngegas aja. Pikir Anna sambil mengulum senyum. Ia mengikuti si nenek mendekati sofa dan duduk di sana. Mereka bersisian.
“Sehat, Nek,” jawab Anna.
“Di telepon tadi Alan bilang kamu udah USG.”
“Iya, udah.”
“Laki-laki apa perempuan?” serentak nenek, kakek, Clarita, Stefi dan Wiliam, seperti paduan suara.
Anna takjub dengan antusias mereka.
“Jangan dekat-dekat! Kasian Anna kepanasan. Hus hush… ” Si nenek mengusir mereka yang mendekati Anna dengan melambaikan tangan ke udara.
“Yaaah… Nenek, serakah amat. Masak nenek doang yang boleh nanya-nanyain Kak Anna. Kami kan butuh informasi juga tentang debay di perut Kak Anna.” Clarita mengerucutkan bibir sembari melempar tubuh ke sofa agak jauh, merasa diusir.
“Tauk nih nenek. Heboh banget ama debay.” Stefi ikut protes sambil geleng-geleng kepa namun juga tersenyum. “Itu ponaan kami juga, Nek.”
Anna terhibur melihat tingkah nenek, ternyata begini keluarga Wiliam. Hangat dan penuh dengan canda. Pantas saja si nenek yang rambutnya terlihat gaul akibat warnanya yang putih semua itu awet muda.
“Jadi laki-laki apa perempuan?” tanya nenek lagi.
Anna sengaja diam menggantung jawaban supaya mereka semakin penasaran. Sesungguhnya ia melakukan USG bukan untuk mengetahui jenis kelamin bayinya, ia hanya ingin memastikan kondisi janin dalam kandungannya sehat-sehat saja.
“Laki-laki.”
“Alhamdulillah…” Gemuruh suara menyahuti dengan serentak seperti koor.
Lagi-lagi Anna geleng-geleng kepala. Sejak tadi mereka menunggu jawaban dan langsung ber-hamdallah ria begitu tau calon anaknya adalah laki-laki. Jadi mereka sangat menantikan anak laki-laki? Beruntung sekali Anna mengandung anak yang berjenis kelamin laki-laki.
“Jadi nanti kalau lahir dikasih nama siapa?” tanya Wiliam sambil menatap mata Anna dan Alan silih berganti.
“Azzam.”
“Shakeil.”
Anna dan Alan serentak menjawab namun menyebutkan nama yang berbeda. Anna menyebut nama Shakeil, dan Alan menyebut nama Azzam.
Alan dan Anna bertukar pandang.
TBC