Holy Marriage

Holy Marriage
Gemes



“Jodoh? Amit-amit. Najis mugholadoh. Jangan sampai.” Rina mengepalkan tangan dan mengetuk-ngetukkan kepalan tangannya ke atas meja lalu ke jidatnya.


“Nah, itu kebiasaan emak-emak jaman purbakala, tangan dikepel trus diketokin ke meja, udah gitu ngetokin jidat sendiri,” komentar Andra menanggapi tingkah Rina yang dibalas dengan juluran lidah.


“Nah, malah diterusin. Tadi lap meja yang melayang, bentar lagi meja,” sahut Anna memperingatkan Andra dan disambut cengiran oleh Andra. “Hati-hati sama perempuan, bukan Cuma bibirnya aja yang ganas, tangannya juga bisa ngamuk. Perempuan itu sensitif, senggol dikit ngena di jantung.”


Rina dan Andra tertawa ngakak mendengar pidato pagi-pagi sang majikan.


“Ketawanya disambung nanti lagi. Mas Alan mana?” Anna menatap wajah Rina dan Andra silih berganti.


Keduanya mengangat bahu.


“Situ yang jadi istri, nanyanya ke saya?” celetuk Andra yang langsung diinjak kakinya oleh kaki Rina. Spontan Andra mengaduh kesakitan sambil membungkukkan badan memegangi kaki yang sakit.


“Loh, gimana sih? Janjinya pagi-pagi Mas Alan mau pergi bareng aku ke rumah ayah. Kok, sekarang malah ngilang?” Anna bicara sendiri sambil membuka tas untuk merogoh ponsel.


“Emangnya jin bisa ngilang?” komentar Andra sambil cengar-cengir. Posisinya kini sudah agak jauh dari Rina, sehingga Rina tidak bisa menghadiahinya pukulan ataupun pijakan manis. Rina memang begitu, tidak suka jika Andra menjawab majikan dengan kalimat nyeleneh.


Seingat Anna, Alan kembali tidur setelah shalat subuh, meski tadi Anna merepet dan mengingatkan kalau tidur setelah salat subuh itu tidak baik, tapi Alan tidak menghiraukan, malah menutup badan dengan selimut sambil bilang, “Masih ngantuk, sayang.”


Jengah merepet, Anna pun membaca Al Qur’an kurang lebih satu jam lamanya. Setelah itu, ia tidak mendapati Alan lagi di ranjang.


Anna membuka ponsel dan melihat pesan tampil di sana. Dari Alan.


Alan


M’f aku pergi gk pamitan.


Aku ke kantor bntar, ada urusan mendadak.


Nanti aku pulng cepet kok


Anna menarik napas panjang sembari menggigit jari. Disaat begini kenapa Alan masih mengurus pekerjaan? Bagaimana jika mereka telat menghadiri acara akad pernikahan Angel? Anna pun segera membalas.


Anna


Y udah, gk apa2


Tapi cepet pulang ya sayang


Jari Anna agak gemetar saat enulis kata sayang.


Alan


Oke.


Jgn nunggu aku, nanti sakit


Anna tersenyum merasa diperhatikan. Ditengah kesibukan, Alan masih sempat membalas pesannya. Raut gembira terpancar jelas di wajah Anna yang sedang kasmaran. Anna mengetik pesan lagi.


Anna


Iya. Kamu juga jangan telat makan.


Alan


Siiip.


Aku makan di jalan nanti


Sampai ketemu nanti.


Mmuach utk kening


Anna tertawa sendiri. Kulit tubuhnya meremang membaca kecupan dalam pesan. Baru kali ini Alan mengirim pesan seromantis itu. Anna suka. Ia jadi seperti orang gila, senyum-senyum sendirian. Tak lama kemudian, pesan masuk lagi. masih dari Alan.


Alan


Mmuuuach… utk pipi


Lagi, pesan dari Alan.


Alan


Mmmmuaaach.. utk bibir


Dan masih lagi.


Alan


Mmmmmmuuuaaach… utk yg legit.


Anna mengerutkan dahi geleng-geleng kepala. Apaan itu? Dasar Alan. Ia paham sekali suaminya itu mesum tingkat akut. Ia tertawa sambil meremas ponsel membayangkan pipi Alan yang diremas. Jika suaminya itu ada di depannya, pasti sudah diuleni habis-habisan.


Anna menelepon Ayahnya, memberitahukan bahwa ia akan datang secepatnya ke acara ijab qobul Angel. Untung saja saat itu Ayahnya memberitahukan masih ada waktu satu jam ke depan.


TBC