
Alan menatap datar kepanikan Anna. “Aku akan cari cara supaya kamu bisa bebas menentukan hidupmu, dan aku juga bisa bebas menentukan pilihanku. Kita bisa bekerja sama demi kenyamanan hidup kita masing-masing. Oke?”
“Suatu saat nanti kamu ceraikan aku aja kalau kamu udah dapet saham. Aku nggak keberatan jadi janda. Biar janda kan masih perawan. Setelah kamu cerein aku, kamu bisa nikah sama pacarmu itu. Lalu kenapa kamu mesti ngelarang aku minta cerai?”
“Karena kamu adalah kunci supaya saham tetap ada ditanganku. Perceraian hanya bisa terjadi jika aku yang memutuskannya, bukan kamu.”
“Jadi aku diperalat?”
“Aku butuh saham itu untuk mengalirkan dana, setelah dirasa cukup. Kita selesaikan urusan kita. Paham?”
Anna menggigit bibir bawah. Ternyata semua tentang materi. Alan melakukan pernikahan itu karena sebatas materi. Tapi ya sudahlah, ia tidak mau ambil pusing. Yang penting pernikahan itu terjadi di atas alasan yang sama-sama menguntungkan.
“Aku mohon, bersabarlah!” Alan mengusap pelan pipi Anna berusaha meredakan kekesalan gadis itu.
“Aku mohon, percepat urusanmu agar aku bisa segera bebas menentukan langkah. Aku juga butuh kehidupan, juga memiliki suami yang sesungguhnya.”
“Ya, semoga semuanya akan cepat kelar. Tapi aku butuh waktu yang nggak singkat. Entah tiga atau empat tahun ke depan.”
“Apa? Selama itu? Ukuran suami istri yang nggak saling cinta bertahan hidup dalam jangka tiga tahun itu lama banget. Apa lagi kalau sampai empat tahun lamanya. Aku bisa jamuran.”
“Lalu? Maksudmu apa? Kamu mau minta cerai dariku? Nggak akan!” Alan menekankan kalimat terakhir.
“Alasan apa yang membuatmu rela bertahan dengan gadis sepertiku?”
“Pertama, yang sekarang menikahimu bukanlah orangs embarangan. Akan banyak media yang menyorot bila aku menceraikanmu setelah menikah hanya sebentar saja. Aku bahkan memiliki keluarga besar yang semuanya adalah orang-orang terpandang. Perceraianku setidaknya berpengaruh pada nama baik keluargaku. Kedua, aku butuh kamu untuk misiku. Lagi pula, kamu masih sangat muda, jangan takut ketuaan menikah lagi. Usiamu sekarang ditambah empat tahun ke depan pun masih tergolong ranum, jadi jangan cemas.”
Anna mendengus. Sepertinya Alan yang justru diuntungkan banyak hal dari pernikahan itu. Sementara dirinya hanya diuntungkan sekelumit saja.
“Ingat Anna, yang menikah dneganmu sekarang adalah Alan William, jaga sikapmu di depan umum. Aku nggak mau nama baikku tercoreng gara-gara ada berita buruk yang judulnya istri pengusaha selingkuh. Paham?”
“Ini nggak adil buatku. Kamu diam-diam bisa bermain gila sama perempuan lain, sementara aku?”
“Kamu bisa hidup dengan Alan William, itu aja sudah cukup membuatmu merasa adil.”
Hidup Anna benar-benar akan terkekang nantinya. Ia mengesah.
“Boleh aku liat foto pacarmu itu?” tanya Anna.
Alan menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku nggak nyimpen fotonya.”
“Aneh, pacar kok nggak punya fotonya.”
“Karena aku nyimpen fotonya di sini.” Alan menyentuh dadanya seolah-olah gadis yang ia maksud ada di dalam hatinya.
Anna mengangkat bahu, tidak perduli. Kemudian ia meraih ponsel ketika mengingat sesuatu. Rafa. Ia harus melakukan sesuatu supaya Rafa mengetahui satu hal tentangnya. Ia langsung cekrak cekrek berfoto ria, menempelkan pipinya ke pipi Alan, memaksa pria itu tersenyum di depan kamera. Ia memeluk Alan tanpa segan demi mendapat gambar yang romantis. Kemudian memostingnya di grup CITA yang hanya terdiri dari Anna, Rafa, Joli, Arini dan Angel. Sayangnya, Anna melihat notif kalau Joli sudah keluar dari grup. Ternyata si ganjen itu merasa sungkan sendiri setelah bermain serong dengan pacar orang. Anna berharap Rafa akan shock setelah melihat foto yang ia posting.
TBC