
“Kau sendirian dating ke sini bukan? Jangan bawa Anna kemari karena Papa nggak mau dia tau.” William mengambil sebuah surat kabar.
Belum sempat Alan menjawab, William sudah melempar beberapa surat kabar yang ia raih dari meja ke lantai. Alan menangkap beberapa judul yang menyatakan pengusaha muda bernama Alan William berselingkuh lengkap dengan foto-foto vulgar. Seketika dada Alan terasa memanas melihat dirinya yang sedang dicium oleh gadis berpenampilan seksi, tak lain Cintya. Di sumber yang lain, tampak pula fotonya sedang tersenyum bertatapan dengan Cintya, satu tangannya merangkul gadis itu. Alan tidak mau menyentuh Koran-koran yang berserak di lantai. Giginya menggemeletuk menahan emosi. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Beberapa judul yang tertera jelas menyudutkan nama baiknya. Ya Tuhan. Sosok pengusaha muda yang selama ini dikagumi dan kerap dijadikan sampul wajah sebagai motivator, kini namanya jatuh akibat berita tersebut. Haruskah masalah pribadinya menjadi konsumsi public? Awalnya, dialah yang melarang Anna berhubungan dengan pria lain karena takut merusak reputasinya, sekarang justru dirinya sendiri yang menjadi sumber malapetaka.
“Mau ditarok mana muka Papamu ini?” Suara William mengguntur keras. “Kau sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Apa ini balasanmu kepadaku? Aku pertaruhkan semuanya hanya demi kau yang kuanggap mampu diandalkan, tapi nyatanya justru satu-satunya anak yang kuharapkan menjatuhkan nama baik keluarga.”
Alan mengesah, dibiarkannya William meluapkan emosi tanpa harus menjawabnya.
“Kau sudah menikah Alan, ingat itu! Bagaimana perasaan Anna saat tahu suaminya ternyata tidak bermoral? Selama ini aku memperdalam agamamu dengan menyekolahkanmu di sekolah berpotensi agama, supaya akhlakmu tetap terjaga meski kita hidup dalam harta berlimpah, supaya kau tetap ingat bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, supaya kau tidak pernah lupa diri, dan supaya kemuliaanmu menjadikanku meraih kebaikan di akhirat kelak. Tapi apa nyatanya? Ditengah hingar-bingar kehidupan orang-orang elit, kau gadaikan agamamu dengan berselingkuh. Dimana letak akal sehatmu? Dimana kau buang pendidikan agama yang selama ini aku berikan? Kau bahkan telah berkali-kali menyakiti Anna yang nggak berdosa. Apa jawabanmu ketika Anna menanyakan hal ini nanti? Andai mengumpat dengan kata-kata kotor tidak berdosa, maka aku sudah menghujanimu dengan ribuan umpatan kotor.”
Alan diam saja. Sorot matanya masih menatap ke surat kabar yang sampai saat ini membuat dadanya terasa membara. Gerakan manic matanya mengikuti surat kabar yang bergerak saat tangan mungil menyentuh dan mengangkatnya. Alan melirik Anna yang tengah mengamati Koran-koran tersebut satu demi satu.
William berhenti ngomel, memperhatikan Anna dengan seksama. Ekspresinya mendadak sedih melihat menantunya membaca judul berita yang pastinya melukai perasaannya.
“Aku hanya ingin keutuhan rumah tanggaku,” jawab Anna.
“Kau dengar itu? Istrimu tidak menuntut banyak hal dari kejadian ini, dia hanya menginginkan satu hal saja, supaya kau meninggalkan gadis itu dan mempertahankan rumah tanggamu. Bukan salah Cintya jika dia menggodamu, salahkan dirimu sendiri yang tidak tahan godaan dan tidak kuat iman. Kau harus memperbaiki dirimu,” tegas William.
“Ya, aku tahu aku salah. Dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya,” jawab Alan. “Maaf Pa, mungkin aku mengecewakanmu. Tapi percayalah, aku akan perbaiki semuanya.”
Alan menggandeng tangan Anna menuju keluar. Mereka masuk ke mobil.
“Jalan, Ndra!” titah Alan.
TBC