
Usia kandungan Anna sudah genap sembilan bulan. Tepatnya sudah mendekati hari lahir si buah hati. Prediksi dokter kelahirannya sekitar tanggal 11 Januari, dan sekarang sudah tanggal 9 Januari.
Detik-detik itu adalah detik-detik menegangkan bagi Anna. Setiap malam, Anna sering tahajud dan berlama-lama saat bersujud. Saat hamil besar begitu, ia memang disarankan sering-sering bersujud.
Anna mulai cemas ketika kontraksi-kontraksi ringan mulai menyerangnya. Durasinya memang tidak lama dan jarang terjadi. Apakah sudah mendekati waktu kelahiran? Anna semakin cemas, karena inilah saatnya ia akan mempertaruhkan hidup dan matinya demi kehidupan yang baru.
Bukan cemas takut mati, sebab dia tahu bahwa kematian sudah Allah tetapkan, tapi cemas entah kenapa. Anna bingung mengartikan perasaannya.
Kemarin sore, ia merasakan perut bagian bawahnya terasa penuh dan sebentar-bentar ingin buang air kecil. Kemudian tengah malam kontraksi ringan mulai terjadi, hingga kini Anna sudah berada di rumah sakit. Berbaring di bed merasakan betapa rasa sakit di perut hingga ke pinggangnya sangat mendera. Kontraksi itu semakin lama semakin kuat. Dan sakit itu hanya terasa ketika kontraksi berlangsung, dan menghilang begitu saja saat kontraksi berhenti.
Durasi kontraksi semakin lama semakin cepat dan bahkan semakin nyeri rasanya. Anna mulai kelelahan dan mengeluarkan keringat yang membasuh sekujur tubuhnya. Bagaimana Anna sanggup melewati semua itu? Rasanya sangat menyiksa. Belum apa-apa Anna sudah merasa lemas dan bahkan tidak selera makan. kontraksi di perutnya semakin kuat dan rasanya sangat sakit, terutama pinggang Anna. Panas dan nyeri yang luar biasa.
Ia menoleh ke samping, tidak ada Alan di sisinya. Ya ampun, di saat begini pun Alan tidak ada di sisinya? Kemana suaminya itu? Anna mulai jengah. Padahal tadi ia sudah memberitahukan Alan ketika ia diantar Andra ke rumah sakit. Dan sampai sekarang, Alan belum juga muncul. Anna harus merasakan semuanya sendirian. Tidak lucu jika supir yang menungguinya melahirkan.
Ya ampun.
Tadi malam Anna mengeluh kalau kontraksi di perutnya semkain kuat, dan Anna merengek meminta Alan supaya tidak pergi kemana pun, namun Alan tidak bisa memenuhi permintaan Anna karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, hingga diam-diam paginya Alan pergi ke kantor dengan niat akan kembali secepatnya. Sayangnya, Anna malah sudah sampai ke rumah sakit sebelum ia menyelesaikan pekerjaan. Alan sungguh merasa menyesal telah meninggalkan Anna.
Alan menutup map dan memencet interkom, memanggil Collin. Hanya dalam hitungan detik, Collin sudah muncul ke ruangan Alan karena memang ruangan mereka bersebelahan.
“Tolong handle dulu meeting hari ini. Ini berkas yang perlu kamu pegang.” Alan menyerahkan map dan langsung diambil oleh Collin.
Dengan gerakan tergesa-gesa, Alan menyambar jas yang disampirkan di sandaran kursi dan berjalan dengan langkah lebar sembari memakai jas.
“Lo mau kemana? Buru-buru banget?”
“Ke rumah sakit. Anna mau melahirkan,” jawab Alan sembari berlari keluar ruangan tanpa mengancingkan jas. Di wajahnya tersirat ekspresi beraneka ragam, antara cemas, menyesal, bahagia teraptri menjadi satu. Lift khusus yang membawanya turun, rasanya lamban bergerak hingga berkali-kali ia memukuli dinding lift, tak sabar untuk sampai ke rumah sakit.
TBC