
Alan berjabatan tangan dengan beberapa orang rekan bisnis, berpakaian necis, masing-masing mengenakan jas hitam, dua orang gadis turut menjabat tangan. Tujuh orang permisi keluar ruangan, termasuk dua gadis berblezer hitam dengan rok sepan selutut. Sementara satu orang masih tertinggal, duduk manis di kursi, ruangan tempat tadi terjadi adu argument saat meeting.
“Lama nggak ketemu rasanya kayak ada yang beda,” celetuk pria berbadan gagah di depan Alan. Tatapan pria itu meneliti tubuh Alan.
Alan mengangkat alis sambil tersenyum.
“Boleh kutebak?”
“Katakanlah! Apa yang menurutmu berubah dariku?”
“Aku terlalu lama di luar negeri sampai lupa kalau aku punya teman seburuk kau, Alan.” Pria itu memperhatikan ketampanan Alan. Sungguh sempurna fisik yang diciptakan Tuhan untuk temannya itu. Empat tahun tidak bertemu, membuatnya rindu pada canda tawa seperti dulu lagi.
“Hahaaa…” Mata Alan menyipit.
“Kau sudah menikah, bukan?”
Alan mengangguk, masih mengulum senyum. Ia tahu betul teman lamanya itu paling sensitif dengan hal-hal berbau wanita.
“Berarti kau sudah merasakan hidup bersama wanita, tidur bersama, dan tentunya menikmati semua yang dimiliki wanita.”
“Itulah salah satu tujuan menikah.”
“Udah berapa lama kau menikah?”
“Empat tahun lebih.”
“Pantesan.”
“Pantesan kenapa?”
“Tulang bisepmu tambah gede.”
“Kau ini.” Alan menggeleng-gelengkan kepala.
“Udah punya anak?”
“Berapa kali kau melakukan hubungan dengan istrimu dalam semalam?”
Alan tidak menjawab. Masalah privasi, cukup dia dan istrinya yang tahu. Tapi ia tidak tersinggung dengan pertanyaan itu. Dia kenal betul siapa pria yang sedang menjadi lawan bicaranya itu. Namanya Naga, isi kepalanya hanya wanita.
“Berapa istrimu sekarang?” Alan mengalihkan pembicaraan.
“Masih sama. Empat. Dua di Jakarta, satu di Kalimantan, satu di Medan.”
“Apa yang terjadi kalau istri pertamamu tahu? Dia akan terluka.”
“Kau ini payah, jangan bahas perasaan. Laki-laki punya nafsu. Apa satu wanita sanggup melayaniku yang hiper begini? Nggak ada larangan untuk laki-laki menikahi banyak wanita. Kalau ada yang menentang itu, berarti mereka menentang kitab suci yang selalu mereka pelajari. Di sana jelas tertulis kalau laki-laki diperbolehkan menikah lebih dari satu kali. Yang penting adil. Aku bahkan masih sering pesan wanita jika bosan bermain dengan itu-itu aja.”
Alan cukup tersenyum mendengarkan kata-kata Naga.
“Dengerin aku, biar kuajarin cara menyenangkan diri dan juga menyenangkan istri,” lanjut Naga antusias. “Manjakan istri dengan uang yang kau miliki, berikan apa saja yang dia mau. Wanita sudah merasa bahagia dengan materi yang bekecukupan. Cumbui dia dengan kemesraan, penuhi kebutuhan biologisnya dengan kelelakianmu. Sampai di situ, urusan kebahagiaan wanita kelar. Sekarang giliranmu membahagiakan dirimu sendiri. Cobalah untuk mencicipi wanita lain. Rasa istrimu pasti begitu-gitu saja. Apa kamu nggak penasaran gimana rasanya wanita lain? Aku udah ngerasain banyak wanita, dari sana aku bisa menemukan salah satu yang paling menggigit. Sensasinya beda. Kau mau coba?”
Alan menggeleng. “Untukmu aja.”
“Munafik kamu, Lan.” Naga terkekeh. “Apa kamu nggak ingin sepertiku? Kau masih ingat gimana mneggigitnya istrimu saat dia masih perawan? Dia pasti udah berbeda sekarang, apalagi udah punya anak. Carilah perawan lagi. Kau akan merasa kembali muda.”
“Kau belum tahu istriku. Nggak ada yang bisa menggantikannya.”
“O ya? Jangan kau sangka aku nggak tahu paras wajah istrimu. Aku tahu wajah istrimu dari media. Kuakui, dia sangat cantik. Pantas kau tergila-gila. Dia bahkan jauh lebih muda darimu. Hanya saja, permainan setiap wanita berbeda-beda. Apa kau nggak penasaran?”
“Naga, aku mencintai istriku.”
“Halah… itu bahasa basi. Kau punya uang, Alan. Kau bisa beli apapun kalau kau mau. Kenapa untuk urusan wanita kau terlihat mlempem? Apa kau takut ketahuan? Kau orang sibuk. Kapan pun kau mau, aku bisa lakukan dnegan wanita manapun.”
Alan hanya tersenyum.
TBC