Holy Marriage

Holy Marriage
Kecelakaan



“Artinya hanya kamu yang boleh bilang cerai? Dan aku nggak boleh nuntut cerai? Trus kalau suatu saat nanti kamu selingkuh, memperkosa orang, atau masuk penjara akibat tindakan kriminal, atau jadi buronan polisi, apa aku tetap harus jadi istrimu?”


“Yess.”


Jawaban mengerikan.


“Boleh diganti nggak tulisanmu itu?”


“Apa kamu berniat cerai dariku setelah menikah?”


“E enggak juga.” Cara bertanya Alan yang dingin membuat Anna gugup. Ini sama saja ia harus terjebak dalam pernikahan bersama Alan seumur hidupnya.


“Perjanjian di atas materai akan nggak berlaku jika dicoret.” Alan menampik tangan mungil Anna yang berniat mencoret tulisan Alan.


“Kita buat yang baru aja.”


“Kelamaan. Aku nggak punya waktu menunggumu menulis sebanyak tadi.”


Anna membeku di tempat. Dasar manusia es, udah sikapnya dingin kayak es balok, ngomongnya juga culas banget. Diliat dari luar doang perfect, tapi nyebelin. Pikir Anna menggertak geram.


Apa boleh buat, surat kesepakatan sudah ditanda tangani kedua belah pihak. Itu artinya Anna akan menjadi nyonya Alan selamanya?


Alan meminta tolong pada pelayan restoran untuk memfoto copy kertas itu dengan upah lumayan.


Setelah pelayan kembali dan menyerahkan kertas-kertas tersebut, Alan memberikan kertas salinan kepada Anna. Sementara yang asli, dia masukkan ke balik kemejanya.


“Ya udah, deal!” Anna menyodorkan kelingkingnya.


Anna kemudian memasukkan kertas ke dalam tasnya. Ia bangkit berdiri bersamaan dengan Alan yang juga berdiri. Tiba-tiba Anna merasakan bumi berputar cepat dalam hitungan detik dan ia menjerit ketika tubuhnya terhuyung hingga muka cantiknya hampir menempel di lantai. Sebelum hal buruk itu terjadi, tangan Alan spontan menangkap tubuh Anna.


Oh tidak, ternyata bukan bumi yang berputar, tapi sendal butut di kaki Anna yang tidak bisa kompromi. Heels-nya benar-benar patah hingga merobohkan keseimbangan tubuhnya.


Tiba-tiba saja Anna mencium aroma wangi tubuh Alan yang merasuk ke rongga pernapasannya. Dan ia terbelalak saat sadar sedang berada dalam dekapan tangan kekar Alan.


“Anna? Alan?” serentak Wiliam, Laura dan Herlambang yang baru masuk ke ruangan privasi itu, mengejutkan Anna dan Alan yang kini berada dalam posisi aduhai. Anna berada di atas badan Alan yang terduduk di lantai dengan satu kaki selonjor sementara kaki lainnya terlipat. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga membuat Wiliam dan Herlambang berpikiran buruk.


***


“Serius, Ayah. Yang tadi itu kecelakaan. Anna nggak ngapa-ngapain sama Alan. Beneran!” Anna mati-matian menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada ayahnya. Kini mereka berada di atas kendaraan beroda dua yang melaju menuju pulang ke rumah. “Tadi sendal Anna copot heel-nya. Dan Anna hampir jatuh gara-gara itu. Alan nolongin Anna waktu Anna mau ambruk, eh entah kenapa Alannya juga malah ikutan jatuh. Kayaknya Alan kedorong badan Anna.”


“Apa, Anna?” teriak Herambang sambil menoleh ke belakang supaya suara Anna terdengar di telinganya.


Anna pun mengulang kalimat yang sama demi menjelaskan duduk perkara.


“Ayah nggak denger, Anna. Suara angin yang kedengaran,” seru Herlambang yang kurang jelas mendengar kata-kata Anna. Helm yang menutup telinganya juga menjadi penghalang suara Anna ke pendengarannya.


“Pokoknya tadi itu kecelakaan, Yah. Alan sama Anna nggak ngapa-ngapain. Anna jatuh dan Alan nolongin Anna,” seru Anna lebih keras.


“Ya sudahlah, tidak perlu diributkan.” Herlambang menoleh sekilas ke wajah Anna melalui spion. Sementara kedua tangannya memegangi stang. “Yang jelas kalian itu saling suka.”


Tbc


Jangan lupa tekan tanda 💓 favorit, biar bisa ikuti cerita ini jika kalian suka