Holy Marriage

Holy Marriage
Ingin Bersama



Azzam kecil yang tiba-tiba mengoceh itu pun menepuk-nepuk pipi Alan dengan tangan mungilnya. Plak plak plak… Tangan Azzam memang kecil, tapi gemuk dan berisi sehingga lumayan menyakitkan bagi Alan dan menghasilkan warna merah di pipi putih itu. alan memegangi kedua tangan Azzam dan menyatukannya.


“Hei, jagoan papa kok nakal? Kenapa papa dipukulin, hm?” Alan pura-pura marah.


Azzam memberontak dan menjerit merasakan kedua tangannya dipegangi dengan erat oleh Alan, dia bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya sangat kuat di pangkuan Alan sampai akhirnya Alan kuwalahan dan melepas dan menurunkan tubuh bocah itu.


Azzam berjalan mendekati Anna dan menggelayut di celana mamanya. Dia berjalan dengan sangat hati-hati karena memang dia belum seberapa lancar berjalan. Bocah itu seperti tidak ingin mendekat lagi dengan Alan setelah kemarahan palsu yang diciptakan oleh papanya.


Anna bangkit berdiri sambil meraih tubuh Azzam dan menggendongnya. “Apa kamu nggak bisa meluangkan waktu untuk liburan bersama anak dan istri? Atau minimal kamu ada di rumah setiap malam.”


Alan bangkit berdiri lalu mendekati Anna. Dia merengkuh pundak Anna dan membimbing tubuh istrinya berjalan menuju ke belakang, tepatnya menuju ke kolam renang belakang rumah. Sejuknya pemandangan air kolam yang dasar lantainya berwarna biru, membuat hati Anna terasa nyaman seketika. Meski kemarin Anna baru saja menjadi seperti detektif dengan mendatangi Dhani dan menanya-nanyai tentang Alan kepada gadis itu, tapi sekarang Anna mencoba untuk tidak berprasangka buruk terhadap Alan. Eh ralat, bukan berprasangka buruk, melainkan dia hanya sekedar ingin tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh Alan? Itu saja.


Alan duduk di kursi besi yang ada di tepi kolam. Dia menarik tangan Anna supaya duduk di sisinya. Wanita itu terhempas duduk di sisi Alan.


“Sekarang aku sudah bersamamu, aku akan menghabiskan waktu bersamamu.” Alan merentangkan satu lengannya di sandaran kurdi belakang punggung Anna.


Anna senang sekali mendengar pernyataan itu.


Sedangkan tatapan Alan kini beralih ke arah Azzam yang duduk di pangkuan Anna dengan posisi kedua kaki melingkar di pinggang Anna dan kedua tangan yang juga melingkar di tubuh Anna, sedangkan wajah bocah itu membenam di dada Anna. Aneh, Azzam tampak begitu lengket dan tidak banyak tingkah saat bersama dengan Anna. Tapi kenapa bocah tembem itu bertingkah tidak karuan saat bersama dengan Alan? Baru beberapa bulan Alan jarang menggendong Azzam, bocah itu tampak sedikit menjauh dari Alan.


“Nanti malam kita makan malam bersama, ya!” pinta Anna.


“Oke,” jawab Alan dengan senyum.


“Kamu jangan batalin makan malam. Kamu kan udah janji mau menghabiskan waktu bersama aku dan Azzam.”


Baru beberapa detik berselang, dering ponsel terdengar nyaring. Alan meraih ponsel dan melihat nama kontak yang menelepon. Alan melirik Anna setelah menatap ID penelepon.


“Siapa?” Tanya Anna.


“Dari kantor,” jawab Alan.


Wajah Anna berubah kecewa mendengar pengakuan Alan. Setelah menjawab telepon, Alan pasti akan meninggalkannya. Kenapa Anna malah jadinya merasa nelangsa ya ditinggal terus oleh suami? Apa begini rasanya menjadi istri orang penting? Bahkan dalam sebulan pun bisa dibilang hanya beberapa hari saja waktu untuk bersama-sama.


Alan menekan tombol diam hingga nada dering tidak terdengar meski masih terus berlangsung. Alan membiarkannya hingga panggilan berakhir.


“Aku tidak akan menjawab telepon. Aku akan bersamamu,” kata Alan sambil memasukkan ponsel ke saku kemeja.


Yess! Anna bersorak dalam hati.


BERSAMBUNG


.


.


.