Holy Marriage

Holy Marriage
Perampok



Rintik-rintik hujan mulai turun, mengenai ujung siku tangan. Separuh badan Anna terlindung atap gedung hingga rintik hujan hanya mengenai bagian depan saja.


Anna tidak perduli. Kesedihannya terasa lengkap saat rintik hujan mengenai sebagian tubuhnya.


“Jangan dekati aku!” pekik Anna saat mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya. Ia mengangkat wajah, terkejut saat melihat ke depan, sosok yang ia kira Alan ternyata adalah lima pria bertato, berbadan tegap, tinggi dan besar sudah berdiri di hadapannya. Wajah-wajah sangar, rambut gondrong dan tatapan bengis mereka membuat Anna ketakutan.


“Mau apa kalian?” Anna menyeret tubuhnya bangkit berdiri. Manik matanya berputar menatap ke sekeliling. Gang itu sangat sepi. Tak seorang pun melintas di sana. Bagaimana jika ia diseret dan dilecehkan oleh pria-pria sangar itu? Jantung Anna bergetar, tubuhnya lemas, tulang kakinya gemetar.


Pria-pria sangar itu semakin mendekati Anna, salah satunya mengunyah permen karet. Sorot tajam mata mereka membuat Anna semakin ketakutan.


“Cantik, jangan takut. Kita hanya akan bersenang-senang.”


“Ayolah manis, kemari! Ini akan terasa nikmat.”


“Jangan mendekat, atau aku akan teriak,” ancam Anna melihat kelima pria itu sudah berjarak dua langkah darinya. Anna bingung harus lari kemana, ia dikepung.


“Berteriaklah sekuat tenaga! Tidak akan ada yang mendengar. Ini jalur kami, sayang.” Pria itu menarik lengan Anna.


“Lepasin! Toloooooong…!” Anna menjerit histeris.


“Suaramu mengundang.” Pria itu mengusap selangkangannya.


“Ambil cincinnya. Itu berlian,” titah saah seorang diantara mereka.


Anna tidak merasakan apapun, tak ada pukulan mendarat di kepalanya. Justru suara gedebam robohnya tubuh seseorang yang ia dengar. Ia melihat pria tadi jatuh tersungkur dan Alan berada di dekatnya.


Sesaat terjadi adu mulut antara Alan dan preman paling menyeramkan, kelihatannya dialah kepala geng. Tak lama berselang, pria seram itu maju dan menyerang Alan. Tiga lainnya mengeroyok. Sementara satu diantaranya mendekati Anna.


“Mau apa? Mau kena tendangan lagi di tempat yang tadi, hm?” ancam Anna pada pria yang tak kapok sudah terkena tendangan dahsyat dari Anna.


Pria itu tidak perduli dengan ancaman Anna. Ia menyerang Anna, berusaha mengambil cincin dari jari-jari Anna. Satu lawan satu, Anna kini tidak seberapa takut untuk melawan. Hanya saja, ia mencemaskan kondisi janin dalam rahimnya. Jika ia bergerak terlalu brutal, janin yang masih terlalu muda jadi taruhan.


Dengan gesit, Anna melakukan perlawanan terhadap pria itu hingga tubuh si pria kembali tersungkur.


Anna tertegun melihat Alan yang mampu mengalahkan empat pria tegap itu, keempatnya jatuh terkapar.


“Dia istriku, kalau kalian berani menyentuhnya, hadapi aku!” gertak Alan.


Detik berikutnya tubuh Alan limbung setelah salah seorang memberi hantaman di tengkuknya. Alan merintih menahan sakit sembari memegangi bekas hantaman. Anna bahkan tidak menyadari saat satu preman itu bangkit dan melayangkan hantaman ke arah Alan,kejadian itu begitu cepat hingga tak terelakkan.


Salah seorang menodongkan pisau mengkilap tajam ke leher Alan setelah membuat tubuh Alan babak belur dengan pukulan bertubi-tubi.


“Serahkan cincinmu, atau suamimu akan mati.” Pria itu menusukkan sedikit ujung pisau ke leher Alan, darah segar mengalir dari tusukan, sekejap saja darah melebur bersama rintik hujan yang mulai deras. Kedua tangan Alan dibekuk ke belakang dengan pipi menempel di bumi.


TBC