
“Kenapa ayah nggak nikah lagi aja? Biar ada yang ngejagain ayah. Biar ada yang ngurusin ayah kalau ayah sakit. Roda terus berputar, nggak selamanya kita dalam keadaan sehat terus kan, yah?” tanya Anna.
“Cara berpikirmu kini semenjak menikah jadi tambah dewasa. Ayah ini kan sudah tua, mana laku lagi,” seloroh Herlambang.
“Iiiih... ayah masih muda, kok. Pasti laris manis. Liat deh, sisa-sisa kegantengan ayah aja masih keliatan. Seenggaknya Anna bisa tenang kalau ayah nggak sendirian.”
Sejenak sorot mata Herlambang menerawang, seakan mengingat masa lalu. “Kalau ayah mau, sudah sejak kalian masih kecil-kecil, ayah menikah lagi. Tapi ayah lebih memilih menjadi ayah sekaligus ibu untuk kalian, mengurus kalian yang masih sangat kecil sampai kalian dewasa seperti sekarang. Butuh banyak air mata untuk bisa meninggalkan ibumu meski beliau sudah meninggalkan dunia. Ayah ingin tetap sendiri karena ayah masih sangat mencintai ibumu. Ayah tidak mau menyakiti wanita lain karena sikap ayah yang masih terus mengenang ibumu.”
Kisah cinta yang mengagumkan, kesetiaan menjadi simbol utama dalam hubungan mereka. Anna tercekat mendengar kisah ayahnya, mengharukan. Berbanding terbalik dengan rumah tangga Anna, tidak ada kesetiaan dalam diri Alan, suaminya itu selingkuh dan bahkan setitik pun tidak memiliki cinta untuk Anna. Omong kosong jika Alan mengungkapkan sayang namun sanggup bercumbu dengan wanita lain. Anna tidak mau ayahnya mengetahui masalah rumah tangganya, cukuplah ia mnejadi beban sedari kecil hingga bertahun-tahun lamanya, sekarang jangan ditambah lagi.
“Ya udah, Anna beres-beres rumah dulu.” Anna bangkit berdiri.
“Itu kan bisa dikerjakan besok. Sekarang kamu istirahat aja. Ayah tidak mau kamu kecapekan, jaga kesehatan, jangan sampai calon ayah kenapa-napa.”
“Siap, ayah!” Anna mengacungkan dua jempol. “Tenang aja, Anna masih kuat, kok. Pegel kalo nggak gerak nih badan.”
Anna mulai mencari kesibukan supaya bayang-bayang video itu lenyap dari kepalanya. Ia menyapu lantai, membereskan rumah, juga mengelap debu.
Anna sedang mengelap kaca jendela di teras ketika sebuah mobil behenti di depan rumah. Ia mengernyit dan menyipitkan mata berusaha menangkap siapa yang datang, sosok lelaki turun dari mobil. Anna yakin itu bukan Alan, sebab diantara sederet koleksi mobil milik Alan, tidak ada yang berwarna orange. Temaram lampu jalanan tidak begitu jelas menerangi sosok itu.
Oh... Ternyata sahabat sejatinya Alan. Tebak Anna, Reno muncul sebagai utusan Alan. Kenapa bukan Alan saja yang datang, mungkin ingin membujuk dan mencari perdamaian.
“Malam. Ada apa? Lo ke sini atas suruhan Alan?”
“Bukan. Ini atas kemauan gue sendiri. Alan bahkan nggak tau kalo gue ke sini.”
Anna tersenyum miris. “Lalu apa tujuan lo nemuin gue kalo bukan atas sepengetahuan Alan? Apa lo tau apa yang baru aja terjadi diantara kami? Dan itu alasan lo dateng ke sini?”
“Lebih dari itu. Gue udah kayak diary berjalan buat Alan, gue adalah tempat curhatan Alan. Semua tentang Alan, gue tau. Termasuk alasan kenapa lo lari dari rumah dan memilih tinggal di sini. Dia keliatan kuat dari luar, tapi enggak dari dalam.”
“Lantas lo mau bersihin namanya dan ngebujuk gue? Katakan ke Alan kalau gue nggak akan pernah berubah pikiran. Pergilah! Gue nggak punya waktu buat ngebahas ini.” Anna masuk ke rumah.
Reno hendak mengejar namun pintu sudah tertutup di jarak beberapa centi meter saja dari depan hidungnya.
TBC