Holy Marriage

Holy Marriage
Perintah Aneh



“Mm... Aku boleh minta satu permintaan nggak?” Anna melirik Alan, takut apa yang akan dia katakan menjadi biang kekesalan Alan.


“Apa?”


“Kamu dateng lagi ke sekolah dong untuk ngelanjutin tugasmu yang belum kelar waktu itu. Aku disemprot guru dan disebelin temen-temen gara-gara jadi penyebab kamu ngebubarin acara. Sekarang aku pengen kamu dateng lagi ke sekolah untuk kegiatan yang sama.”


“Itu akan mengganggu jam belajar kalian. Sebentar lagi kalian akan ujian. Nggak baik kalau aku ambil waktu belajar kalian.”


“Kalau begitu ambil jam setelah belajar aja, kan bisa dimulai setelah jam pulang sekolah.”


“Akan kuatur dan kubicarakan dengan kepala sekolah.”


“Makasih.” Anna sumringah, betapa lega dan bahagia dengan respon Alan yang begitu bijaksana.


Setelah itu keduanya membisu. Tidak ada perbincangan selama dalam perjalanan pulang.


Anna disibukkan dengan urusan ponselnya yang sejak tadi tak henti berbunyi. Sambil senyam-senyum, Anna membalas pesan masuk.


“Siapa? Rafa?” tanya Alan membuat Anna berhenti chatingan.


Anna mengangguk, harus jujur. Ia ingat Alan paling benci dikadalin, huh buaya kok dikadalin.


Alan membuang muka dan menatap ke luar. Ia menikmati temaram lampu yang menerangi jalan. Beberapa menit keduanya tanpa komunikasi.


“Kamu nggak mau pulang?”


Anna menoleh ke sumber suara, Alan menatapnya datar. “Tentu aja aku mau pulang.”


“Kenapa nggak turun?”


Dengan muka memerah malu, Anna membuka pintu dan turun.


“Makasih, ya. Dadaaah...!” Anna melambaikan tangan. Lalu balik badan dan berlari masuk rumah. Langkahnya terhenti saat melihat Herlambang dan Angel, keduanya sedang berbincang di ruang tamu. Anna kembali menghambur keluar.


“Mas Alaaaaaan... Tungguuuu.... Mie ayamku ketinggalan!” pekik Anna sekeras-kerasnya. Namun mobil sudah jauh meninggalkannya, bahkan kini sudah berbelok dan hilang dari pandangan.


“Ya ampun, kok bisa lupa, sih? Nggak jadi deh makan mie ayam dua porsi. Ayah sama Kak Angel juga nggak jadi dibawain oleh-oleh mie ayam.” Ia mengusap permukaan perut. “Nasibmu, rut. Apes.”


Di sisi lain, Alan duduk manis di atas mobil yang melaju. Ia mengambil ponsel dari kantong kemeja saat ponselnya berdering. Jempolnya menyentuh ujung bawah layar ponsel, membuat nada dering langsung berhenti. Sengaja dia diamkan. Berisik.


“Tuan muda, mie ayam milik Nona Anna ketinggalan ini, Tuan. Apa kita kembali lagi untuk antarkan mie ayamnya?” tanya supir menatap majikannya melalui kaca di atas wajahnya.


“Nggak usah. Terus jalan, Pak.”


“Baik.” Supir menurut. Sebenarnya ia ingin mengatakan kalau ia kasihan dengan Anna, pasti gadis itu sangat menginginkan mie ayam tersebut, alangkah lebih baik memutar arah sebentar untuk mengantarkan mie ayam yang tertinggal. Tapi siapa yang berani membantah majikan seperti Alan? Dari sorot matanya saja sudah membuat lawan bicara gemetaran, bagaimana supir akan sanggup membantah?


Untuk kedua kalinya nomer Anna menelepon, Alan kembali melakukan hal yang sama. Mau sampai jempol Anna copot dari tempatnya gara-gara capek menelepon, Alan tidak akan menjawab telepon Anna.


Mobil melewati gerbang dan berhenti tepat di depan rumah megah setelah memutari air pancur yang ada di tengah-tengah halaman luas.


“Pak, antar mie ayamnya ke kamarku! Tapi lewat pintu samping, ya! di ruangan depan dipenuhi keluarga besarku. Ambil satu bungkus buat Bapak.” Alan turun dan melenggang masuk.


Supir hanya melongo mendengar perintah yang kedengaran agak aneh.


TBC