Holy Marriage

Holy Marriage
Jangan Ada Rahasia



Alan menaikkan alis saat melihat Anna yang hanya terbengong. Melihat reaksi itu, Anna sadar sedang diperintah masuk. Anna masuk ke mobil saat Alan memutari mobil dan duduk di sebelah Anna.


Mobil melaju meninggalkan mereka yang memandang iri melihat adegan Alan yang mengistimewakan Anna.


Manik mata Anna melirik saat mobil melintasi Rafa yang entah sudah berapa lama menunggu di luar pagar sekolah. Seperti terhipnotis, cowok itu sampai turun dari atas motor saat melihat wajah gadisnya berada di dalam lamborghini yang melintasinya melalui kaca yang setengah terbuka. Rafa mengacak rambut frustasi menyaksikan Anna dibawa lelaki lain yang levelnya tentu jauh dari dirinya. Raut kecewa jelas terpancar dari wajah cowok itu.


Yess!


Anna berseru girang dalam hati. Ekspresi frustasi yang ia lihat di wajah Rafa, membuatnya seperti berada di atas angin. Sepertinya pernikahannya dengan pria asing akan berhasil membuat Rafa jungkir balik.


Anna melirik ke samping saat sadar sedang menjadi objek perhatian Alan. Terbukti manik mata pria yang sedang menyetir itu tidak mengarah ke depan, melainkan ke arah Anna.


Ada yang salah? Pikir Anna heran mendapat tatapan aneh dari Alan. Dan ia sadar baru saja bertingkah heboh diiringi jeritan kecil saat menyadari telapak tangannya dalam posisi menggenggam. Jadi seruannya yang berteriak ‘yess’ sambil menarik tangannya yang menggenggam dari udara menuju ke dada itu bukan hanya angan-angannya saja? Itu tadi benar-benar ia lakukan? Dan Alan pasti merasa aneh dengan tingkahnya tersebut. Andai ada cctv di dalam mobil itu, Alan pasti bisa memutar ulang rekaman kejadian yang baru saja Anna lakukan sebagai bukti tingkah aneh Anna.


“Maaf. Aku tadi kegirangan, ya?” lirih Anna sambil menunduk.


“Menurutmu? Kamu bahkan nggak sadar udah bersikap heboh di dalam mobilku.”


“Tapi aku nggak heboh-heboh amat.”


“Perlu kuputar ulang rekaman kejadian yang baru aja kamu lakukan? Cctv yang terpasang di sudut mobil ini cukup menjadi bukti.”


Yah? Jadi beneran ada cctv yang terpasang di dalam mobil ini? Kenapa nggak sekalian kuali sama kompor, biar komplit. Pikir Anna garuk-garuk kepala.


“Apa itu salah?” lirih Anna agak takut.


“Apa yang membuatmu segirang itu?” Alan balik tanya.


“Apa karena cowok tadi?”


Deg!


Pertanyaan Alan membuat jantung Anna melemah. Manik mata Anna melirik Alan yang ternyata kini sedang menatapnya tegas. Anna semakin gugup ditatap begitu.


“Kamu berteriak girang sambil menonjolkan genggaman tangan seperti orang menang badminton, juga menghentak-hentakkan kaki. Itu ekspresi tergirang yang pernah kulihat. Seperti menang undian.”


“Apa aku segirang itu? Kok, aku sampe nggak sadar, ya?” Anna menggigit bibir bawah merasa malu.


“Karena kamu terlalu gembira. Kamu lakukan itu setelah kita melintasi cowok di luar pagar sekolah tadi. Siapa dia?”


Oh My God... Ini maksudnya Alan marah apa gimana? Anna mendadak gusar. Ia meremas rok abu-abuny, kemudian mengelus-elus rok yang tanpa sadar sudah mengeriting.


“Pacarmu?” tegas Alan.


Anna masih diam bergelut dengan kecemasan.


“Jawab jujur!”


“Kamu marah?” lirih Anna tidak berani menatap Alan.


“Aku paling benci dengan kebohongan. Bicara yang jujur! Bohong itu manis, tapi buruk untuk diikuti. Dan jujur itu pahit, tapi baik untuk dijalani. Kamu adalah calon istriku, jangan menyembunyikan apapun dariku. Akan fatal akibatnya jika aku tau belakangan.”


TBC