Holy Marriage

Holy Marriage
Duh Azzam



Anna melompat turun dari mobil begitu sampai di depan rumah William. Langkahnya setengah berlari menuju ke rumah. Sayangnya ia harus bertabrakan dengan Alan saat hendak memasuki pintu akibat keduanya menaiki teras berlaianan arah, Anna menaiki teras dari sisi kanan, dan Alan menaiki teras dari sisi kiri.


"Duh, Mas Alan, lihat-lihat dong kalau mau masuk pintu, ini kening masih dipakai!" omel Anna sambil mengelus-elus keningnya yang sedikit membiru sesaat setelah kejeduk dagu Alan.


Siapa bilang kening Anna sudah tidak dipakai? Kalau tidak ada kening, pasti jidatnya bolong. Astaga. Alan menggumam.


"Aku sedang terburu- buru ini, kamu malah ngalangin jalan aja," tukas Anna.


Alan diam saja tanpa membalas perkataan Anna. Dia biarkan saja istrinya itu geregetan atas kejadian itu tanpa memprotes.


Segera Anna berlari masuk.


"Azzam mana?" tanya Anna saat berpapasan dengan asisten rumah tangga di ruangan tamu.


"Di belakang, Non. Dekat kolam renang," jawab asisten rumah tangga sembari membungkukkan tubuh tanda hormat.


Anna menghambur menuju ke tempat yang disebutkan. Ada banyak orang berdiri di sekitar sana menyaksikan amukan Azzam.


Dan tidak hanya jantungan saja, Anna hampir mati berdiri melihat Azzam menelungkup di lantai dekat kolam renang sambil menangis tersedu- sedu dengan suara sangat keras. Kepalanya menggeleng- geleng menolak setiap uluran tangan yang mengarah kepadanya. Semakin ada orang yang mendekatinya, dia semakin meronta dan mengamuk.


Jadi sejak tadi Azzam masih berada padaposisi berguling di tanah, berapa lama bocah itu tidak ditangani?


Mungkin Azzam kelelahan sampai dia tidak lagi berguling dan hanya terdiam di lantai sambil menangis sekuat-kuatnya, kini menelungkup.


Bukan posisi Azzam yang membuat Anna terkejut bukan main, namun darah merah segar yang berceceran di baju bocah itu yang membuat Anna hampir shock.


Anna menghambur mendekati Azzam, tanpa sadar menyingkirkan tubuh Luna begitu saja hingga tubuh mertuanya terhuyung kensamping. Anna langsung memeluk bocah itu, segera meraih dan menggendongnya.


"Mas Alan! Cepat bawa Azzam ke rumah sakit!" Anna berlari sambil menggendong tubuh bocah yang beratnya lumayan, membuat lengan Anna mengeluarkan tenaga ampuh.


Sepanjang berlari, Anna menatap leher Azzam yang tersayat dan sampai detik itu masih mengeluarkan darah segar.


Alan menyambut tubuh Azzam dan berlari membawanya ke mobil.


***


"Tidak ada luka serius, hanya tersayat kulit luarnya saja," terang dokter sambil mencatat sesuatu di kertas.


Alan duduk berseberangan meja dengan dokter, dia mengangguk lega. Kemudian ditatapnya secarik kertas yang diberikan dokter kepadanya.


"Itu resep obatnya. Silahkan ditebus di apotik," kata dokter laki-laki itu lagi.


"Tidak akan ada infeksi kan dok? Benar-benar hanya luka luar kan?" Alan ingin meyakinkan.


"Benar Tuan Alan, putra Anda baik-baik saja," jawab dokter.


Anna tampak sibuk mengelus-elus kepala Azzam yang kini duduk di bed sambil sibuk menarik- narik korden, sampai satu pengaitnya copot akibat tarikan kuat tangan Azzam. Anna sudah lelah melarang tangan Azzam menyentuh apa pun, tapi gagal. Sebab benda apa saja yang disentuh Azzam, mayoritas pasti langsungbsekarat dan rusak. Azzam mengamuk jika keinginannya tidak dituruti. Lengah sebentar saja, Anna sudah kecolongan dan Azzam kepergok sudah melepaskan satu pengait korden.


Meski begitu Anna tetap menciumi kening putranya itu, juga mengecek perban yang ditempel di leher Azzam.


"Tapi kenapa darahnya bisa sampai sebanyak itu, Dok? Apa nggak ada luka serius?" tanya Anna masih terlihat cemas.


"Tidak, Nyonya. Tenang saja, hanya luka di kulit luar saja." Kemudian dokter menjelaskan alasan kenapa sayatan itu mengakibatkan aliran darah merembes banyak dengan ilmu medis.


Mendengar penjelasan itu, Anna pun mengangguk paham. Bagaimana mungkin Anna akan tenang melihat ceceran darah segar di tubuh putranya? Keadaan itu tadi cukup membuat Anna panik bukan main.


TBC