
“Mas Alan, jangan!” Anna menjerit saat Alan menarik ujung kaki Anna hingga tubuh Anna terseret lalu terbaring akibat dorongan dada bidang Alan. Kedua tangan Anna tidak bisa memberontak karena berada dalam cengkkeraman tangan kokoh Alan. Dan kedua kaki Anna, ditindih kaki Alan.
Apa yang bisa Anna lakukan? Tubuh mungilnya dibekuk oleh tubuh kekar Alan yang berada di atasnya.
“Jangan bikin aku menjerit dan orang-orang mengira kita sedang olah raga ranjang kelewat batas,” pekik Anna ketakutan menatap sorot tajam mata Alan yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
“Memang itu tujuanku.” Alan tersenyum sinis. “Olah raga ranjang.”
Anna membelalak kaget, kemudian kepalanya menggeleng-geleng. Tidak mungkin ia menyerahkan raganya pada Alan. Meski cintanya terhadap Alan sudah mengakar dalam kalbu, namun Anna masih ingin menjadi perawan, yang akan membanggakan suaminya kelak.
“Kita akan melakukannya.” Alan mendaratkan bibirnya di leher Anna.
Benar-benar sulit bergerak, Anna hanya bisa bertahan tanpa perlawanan. Posisinya sungguh terjepit.
“Mas Alan, jangan, plis!” Anna menggerak-gerakkan tubuhnya.
Alan tidak perduli. Ia berusaha membuat Anna merasakan sensasi yang belum pernah Anna rasakan supaya Anna tidak memberontak saat menikmati keadaan.
“Kamu pikir aku akan menyukaimu jika kita udah berbuat hal itu?”
“Kamu melanggar perjanjian kita.”
“Aku nggak perduli. Aku akan merobeknya bila perlu.” Alan menarik jilbab Anna hingga lolos dari kepala dan membuangnya ke sembarang arah.
“Ingatlah aku memegang copyannya.” Setengah hati Anna merasa takut, tak ingin menyerahkan kesuciannya pada Alan sebagai wujud ingin memberikan kebanggaan pada suaminya kelak, karena hubungannya dengan Alan jelas akan berakhir dalam hitungan waktu mundur. Skenario pernikahannya kini ada di tangan Alan. Untuk apa menyerahkan kesucian pada pria yang jelas-jelas berniat akan menceraikannya kelak? Namun setengah hatinya menginginkan Alan, pria yang kini sangat ia cintai. Apalagi di posisi sekarang, jarak telah terkikis habis dan Alan terus menggencarkan aksinya. Hingga saat gelenyar asing dirasakan oleh Anna, ia pun mulai melemah. Berontakan demi berontakan tidak lagi sekuat tadi.
Anna pasrah. Alan telah melumpuhkan benteng pertahanannya. Anna harus mengakui, Alan begitu lihai dan cerdik melumpuhkan lawan dalam hal ini. Lakukan Mas Alan! Anna memejamkan mata. Dan kelopak matanya langsung terbuka begitu merasakan gencatan Alan terhenti, pria itu bangkit dan berbaring di sisi Anna.
Anna menelan. Ada kelegaan melihat Alan menjauhinya, namun terbesit penyesalan kenapa Alan tidak melanjutkannya. Ah, serba salah.
Alan tersenyum menatap Anna. “Maaf, aku udah membuatmu takut. Aku tau kamu nggak menginginkannya. Kamu berharap kita secepatnya berpisah bukan? Bersabar ya!” Ia mengusap rambut Anna lalu bangkit meraih handuk yang entah sudah sejak kapan teronggok di lantai.
Anna buru-buru memalingkan wajahnya yang memanas sementara jemarinya meremas-remas. Ia menarik selimut untuk menutup tubuhnya, manik matanya menatap bajunya yang kini sudah berada di lantai.
Alan salah. Sekarang justru Anna tidak menginginkan perceraian, Anna menginginkan hubungan yang utuh. Tapi bagaimana caranya ia memulai untuk mengatakannya, sementara sejak awal sudah sama-sama diketahui, bahwa Alan memiliki kehidupan lain yang tidak bisa diusik. Dan bukankah sejak awal Anna yang ngotot ingin berpisah dari Alan setelah apa yang ia inginkan terpenuhi?
TBC