
“Oke. Saya stop dulu videonya.” Alan menekan tombol paus dan otomatis video terhenti.
Tak lama terdengar suara saling bisik anak-anak yang menyesalkan kenapa video harus dimatikan, padahal lagi seru-serunya. Para tokoh di video yang ditampilkan benar-benar menginspirasi. Tentu saja para siswa kecewa saat video diputus.
Pandangan Alan masih tertuju ke arah Anna yang kini terlihat berkumpul dengan teman dekatnya dan sibuk menanyai kedua temannya tersebut, tak lain Arini dan Joli yang menjadi korban banyak pertanyaannya.
“Rin, kenapa ngak nyamperin ke rumah gue tadi?” tanya Anna menyesalkan keterlambatannya.
“Udah. Gue bunyiin klakson berkali-kali depan rumah lo tadi, lo nggak keluar-keluar. kirain lo udah berangkat duluan,” jawab Arini berbisik.
“Joli, elo kenapa nggak telepon gue?” Pandangan Anna kini berpindah ke Joli.
“Nggak ada pulsa, Beib.”
“Aduh, udah deh jangan pada berisik. Liat ke depan itu si ganteng lagi... Eh, dia ngeliat ke arah sini,” bisik Arini gugup. “Apa dia ngeliatin gue, ya?” Arini membenarkan posisi anak rambutnya malu-malu.
Sontak pandangan Anna dan Joli mengarah ke depan, tepat pada saat itu manik mata Alan juga tengah menatap ke arah Anna, siswi yang sudah terlambat datang.
“Hei You! Come here!” Alan menunjuk Anna.
Deg! Jantung Anna berdetak sangat keras.
Mampus gue! Pikir Anna gugup. Sorot tajam mata Alan ditambah nada panggilannya yang tegas membuat Anna merasa takut.
“Maju sana!” bisik Joli kepada Anna.
“Cium aja kalo tuh cowok galak-galak. Hihiii...” Arini terkikik.
Disaat menegangkan begini pun Arini masih bisa bergurau.
Dengan langkah bimbang, Anna berjalan melewati beberapa siswa di depannya menuju ke depan. Kini ia berdiri di hadapan Alan dengan wajah menunduk.
Tatapan Alan beralih ke wajah-wajah di hadapannya setelah beberapa detik menatap Anna yang memaku di tempat.
“Hello semuanya, saya minta kalian tuliskan sepuluh saja impian kalian. Apapun itu,” titah Alan pada seluruh siswa.
“Mention your name!”
“Anna.”
“Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Allan sembari meletakkan mikrophone ke meja proyektor.
Anna mengangguk.
“Sebutkan!”
Disamping memikirkan impian apa saja yang akan ditulis, sebagian anak-anak memperhatikan Alan yang terlihat kesal atas keterlambatan Anna.
“Terlambat datang,” lirih Anna dengan suara bergetar menahan gugup.
“Sayangnya saya tidak suka dengan ketidakdisiplinan.”
Anna membeku di tempat. Telapak tangannya terasa dingin.
Tatapan Alan tertuju ke anak-anak. “Sudah selesai menulis?”
“Sudaaah...” serentak anak-anak.
“Sebenarnya masih banyak yang harus saya lakukan di acara ini. Tapi maaf, acara saya tutup. Saya tidak bisa mentoleransi ketidakdisiplinan. Ini sudah menjadi komitmen saya. Selamat pagi!” Alan menyerahkan mike ke Reno lalu bergegas pergi setelah menyambar setumpuk kertas.
Terdengar gemuruh suara anak-anak mengeluh kecewa. Sebagian menyalahkan Anna yang menjadi penyebab bubarnya acara tersebut. Sebagian menghambur menuju satu tempat, tak lain para cewek alay yang berlarian mengejar Alan dan minta foto bareng, cekrak-cekrek dengan gaya lebay.
Anna masih menunduk dengan pandangan matanya terfokus ke secarik kertas yang terjatuh dan terpijak beberapa orang yang melintas. Kertas milik Alan yang terjatuh tanpa disadari pemiliknya.
Reno sibuk menenangkan para siswa yang terlihat menggerutu dan panik, suaranya menggema melalui speaker. Ia kemudian meminta para siswa untuk mengumpulkan catatan yang mereka tulis.
TBC