
Alan sedang tidur saat Anna tinggalkan tadi, mustahil Alan pelakunya. Tidak mungkin Azzam terjatuh dari ranjang, karena ranjang Azzam dimodifikasi khusus seperti box bayi yang di sekelilingnya dipasang pagar setinggi lima puluh centi.
Anna keluar kamar, berteriak memanggil seluruh asisten rumah tangganya. Semua nama disebut satu-satu hingga mereka berkumpul di lantai bawah memenuhi panggilan majikan.
Rina memegangi kain lap, Andra memegangi kunci mobil karena tadi sedang mencuci mobil, Pak Tua si tukang kebun memegangi celurit, dan Arni berdiri di belakang Anna dengan kepala menunduk.
“Kalian ngeliat dimana Azzam?” tanya Anna yang berdiri di lantai atas.
Ketiga asisten rumah tangga yang berada di lantai bawah, serentak menggeleng.
Ya Tuhan, kemana Azzam? Anna berlari memasuki kamarnya dan menghampiri Alan yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.
“Mas Alan, bangun! Azzam hilang!” Anna histeris sembari mengguncang bahu Alan.
Bukannya bangun, Alan hanya menggeliat dan kini malah mengubah posisi tidurnya menjadi menelungkup.
“Mas Alan, Azzam hilang!” ulang Anna semakin histeris.
Alan meraih bantal guling dan menutup telinganya dengan bantal tersebut.
“Ya Allah, Mas Alan. Bangun, bangun!” Anna semakin kuat mengguncang bahu Alan, menarik bantal guling yang dipegangi Alan dan menjauhkannya dari telinga suaminya itu.
“Sayang, kenapa sih kamu malem-malem gini meracau nggak jelas? Masih ngantuk, nih.” Alan malas bergerak.
“Ini udah pagi. Kamu denger aku nggak? Azzam hilang!” Anna kesal melihat Alan yang begitu sulit dibangunkan. Bahkan sudah berkali-kali diberi tahu kalau Azzam hilang, tapi Alan tidak juga mau membuka mata.
Alan mengucek mata, lalu mengerjap-ngerjapkannya dengan berat. Ia menguap.
“Jangan ngigau, memangnya jin bisa ilang? Tanyain Arni dong, kan tadi malem Azzam tidurnya sama Arni.”
“Mas Alan, jangan ajari aku lagi soal itu. Semua penghuni rumah ini nggak ada yang tahu dimana Azzam. Ayolah!” Anna semakin kesal melihat Alan yang menganggap kepanikannya hanyalah sekedar kabar angin semata.
“Anna sayang, pagi-pagi gini kamu udah bikin lelucon. Nggak lucu. Kamu mau ngerjain aku? Di cek yang bener Azzamnya dimana. Mungkin dia main di kolong meja, atau dimana gitu.” Alan menarik tangan Anna, membuat wanitanya itu terhempas menimpa tubuh Alan. “Apa kamu Cuma lagi iseng mau main denganku, hm?” Alan memeluk Anna erat-erat sambil mendaratkan kecupan hangat di wajah wanita itu.
“Sakit, sayang!”
“Mau lagi?” Anna menatap tajam sambil menodongkan tinju ke arah Alan.
“Jangan!” Alan sampai lupa kalau istrinya itu jago silat dan suka pecicilan, mungkin tabiatnya itu belum sempurna hilang.
“Lakukan sesuatu! Jangan pancing emosiku. Jangan menganggap bercanda di saat sedang serius begini. Aku kehilangan anak.” Anna histeris hingga membuat Alan terpaku.
Alan bangkit bangun. “Oke, aku cek dulu.” Alan menuruni ranjang kemudian menuju kamar sebelah. Sebentar saja, ia kembali lagi dan mengangkat bahu.
“Kamu benar, Azzam tidak ada di kamarnya. Semua asisten rumah tangga juga nggak ada yang tahu kemana perginya Azzam.” Alan mendekati Anna yang sedang menangis.
“Lalu kemana Azzam? Siapa yang menculik Azzam? Mas Alan, lakukanlah sesuatu! Jangan diam aja!”
“Iya iya.”
“Ayo, kita liat cctv, pasti keliatan siapa yang menyelundup masuk ke rumah dan mengambil Azzam dari tempat tidurnya.”
“Tapi kamera cctv sedang rusak, dan aku belum sempet menggantinya.”
“Ya Tuhan…. Bagaimana caranya aku menemukan Azzam? Kita harus lapor polisi.”
“Tunggu, jangan lapor dulu. Azzam belum lama hilangnya, jangan sampai salah lapor.”
“Mas Alan, tapi ini…”
“Oke oke, kamu tunggu di bawah. Kita akan ke kantor polisi untuk membuat laporan.”
Anna mengangguk, keluar kamar menuruti titah suaminya.
TBC