
“Alan, lo yakin sama keputusan lo itu? Acara tadi bener-bener kelar, Lan,” ucap Reno sembari menoleh dan menatap gedung sekolah yang ditinggalkan.
“Yakin, Kombet. Kita udah di dalam mobil yang sedang melaju sekarang. Lantas apa lagi?” sahut Alan sembari menyetir mobil lamborghininya melintasi gerbang sekolah. Kombet adalah nama julukan spesial untuk Reno. Bukan hanya Alan yang memanggil Reno dengan nama itu, semua teman-teman dekat Reno memanggilnya demikian, termasuk seluruh teman kerjanya.
“Lo dikasih waktu dua jam untuk acara tadi, dan baru jalan sebentar udah lo bubarin begitu aja. Sekolah udah bayar mahal buat lo, dan lo...”
“Gue menolak transferannya,” potong Alan.
“Apa?” Reno terkejut bukan main. “Tawaran mereka besar dan lo nggak ambil uangnya?”
“Gue nggak selesein tugas gue, gimana gue bisa terima uangnya?”
“Nah, itu kesalahan elo. Hanya karena cewek tadi telat dateng, lantas lo ngebubarin acara begitu aja. Ya Tuhan.”
“Gue udah kasih komitmen sejak awal. Harus disiplin, nggak boleh ada siswa yang telat dateng, dan nggak boleh ada siswa yang ngobrol sendiri. Dan salah satunya udah dilanggar.”
“Seenggaknya lo jangan sekeras itu, dong. Namanya juga anak-anak, mereka kebiasaan bandel.”
“Kenapa lo seribut ini Cuma gara-gara gue bubarin acara tadi?”
“Lah, gue kan jadi nggak dapet bayaran juga. Harusnya gue menerima beberapa persen dari pendapatan lo hari ini, bukan? Tapi...”
“Lo tetep dapet persenan dari gue. Tenang!” potong Alan.
“Ooh...” Reno mulai tenang. “Hehee... Kirain.”
“Lo udah kenal lama sama gue, kan? Harusnya hal ini nggak perlu lo pertanyakan.”
“Oke, oke.”
“Gue ada meeting dadakan. Dan gadis tadi cukup jadi alasan buat gue kabur dari acara itu.”
“Ooh... Jadi cewek tadi cukup berjasa juga buat lo. Berkat dia, lo bisa menghadiri meeting dadakan ini. Tapi gue yakin ada resiko yang harus cewek itu terima. Kasian dia.”
Alan menoleh sekilas dan kembali fokus menatap ke depan. Kelajuan mobilnya diatas rata-rata mengingat betapa penting meeting yang akan ia hadiri.
***
“Gue dipanggil guru BP, nih,” ucap Anna saat berada di ujung koridor.
“Trus Rafa gimana? Bukannya lo udah janjian sama Rafa, ya?” sahut Joli sembari chatingan entah sama siapa.
“Urusan nanti, deh. Yang penting sekarang gue jumpain guru BP dulu. Daaa...” Anna memisahkan diri berjalan menuju ruangan BP.
Anna memasuki ruangan sesaat setelah mengetuk pintu. Guru BP sudah menunggu di sana. Beliau tidak langsung ke topik permasalahan, namun malah pakai kalimat pembukaan yang membuat Anna gelisah karena sudah dua kali menerima pesan dari Rafa menanyakan keberadaannya. Rafa sudah menunggu di depan gerbang sekolah. pasti kepanasan.
Anna menyembunyikan ponsel di bawah meja dan mulai membalas pesan. Sementara ia mengetik, guru BP tetap terus berbicara. Akan tidak sopan jika Anna malah sms-an disaat seorang guru mengajaknya bicara, terpaksa ia menyembunyikan ponsel di bawah meja supaya tidak ketahuan.
Anna
Gue diajak ngerumpi sama guru BP, nih. Bakalan lama.
Rafa
Ya udah, gue tungguin
Anna
Entar lo kepanasan.
Rafa
Ga pa-pa
Anna
Pulang aja gih
Rafa
Enggak, gue tetep tunggu.
Gue tunggu di warung depan sekolah, sambil minum es jeruk
Anna tidak lagi membalas.
TBC