
Anna melumat es krim sembari mengikuti teman-temannya berkeliling mall. Mereka melihat-lihat boneka, pakaian, topi, parfum juga sendal. Keluar masuk toko mencari barang-barang yang diperlukan remaja kekinian. Kebanyakan pada beli boneka dan parfum. Dan Anna, gadis itu hanya membeli es krim dan sebuah buku. Mana mungkin Anna memiliki uang lebih untuk membeli barang-barang yang manfaatnya kurang efektif.
“Ya Allah, Ya Robbi, Ya Tuhan, gue ngeliat malaikat!” Ica membalikkan badan menatap teman-temannya.
“Apaan sih, Ca? Lebay amat,” sahut Airin.
“Itu liat ke arah kiri!”
Sontak Anna dan yang lainnya menoleh ke arah yang ditunjuk. Diantara manusia yang lalu-lalang, mata mereka langsung terfokus ke sosok pria berjas cokelat yang beriringan dengan empat pria dewasa lainnya, satu diantaranya seorang bule. Dilihat dari penampilannya, jelas mereka adalah orang-orang penting.
“Itu Alan Wlliam, kan?”
“Buset, keren banget. Ambil fotonya ah.” Ica menjulurkan kamera ponsel untuk mengambil foto Alan. “Eh ya ampun, kamera hp gue heng lagi. Pinjem hp lo, Ann.” Gadis itu merampas ponsel dari tas Anna yang resletingnya terbuka. Segera ia menekan aplikasi kamera dan mengambil gambar wajah Alan sedapatnya.
Semakin lama jarak Alan dan rombongan semakin dekat. Para pria itu tampak sedang berbincang membahas hal penting.
Anna hanya diam mematung tanpa melakukan apapun. Memangnya apa yang harus ia lakukan?
Alan melengos saat melewati Anna, tanpa sedikitpun bertegur sapa.
Anna mendengus melihat Alan yang tidak menghiraukannya. Padahal jelas-jelas pandangan mata Anna sempat bertabrakan dengan pandangan Alan. Mereka saling pandang namun hanya sepersekian detik, setelah itu Alan melengos.
Anna menatap punggung Alan hingga pria itu memasuki restoran. Anna masih memandanginya sampai pria itu duduk bersama rombongan di salah satu meja. Tidak ada yang membatasi pandangan Anna untuk sampai ke Alan karena mereka hanya dibatasi dengan kaca. Anna dapat melihat semua gerak-gerik pria itu, tak sekalipun Alan mengarahkan sorot matanya ke Anna.
Uh, dasar cowok sombong. Ngakunya calon suami, tapi ketemu di saat begini seakan tidak kenal. Setelah menggerutu dalam hati, detik berikutnya Anna mengutuki dirinya yang mengharap diperhatikan lebih oleh Alan. Memangnya siapa Anna? Anna cukup tahu diri, yang tidak ada apa-apanya di mata Alan. Mana mungkin Alan akan bertegur sapa dengan Anna yang kala itu mengenakan seragam putih abu-abu. Padahal keperdulian Alan menjadi kebanggaan tersendiri di hadapan teman-temannya. Dan nyatanya, semua tidak seperti yang ia harapkan.
“Ya udah yuk cabut!” ajak Anna.
Mereka beriringan.
Ica membuka galeri, melihat hasil potretannya. Dan terkejut saat menggeser-geser foto yang tersimpan.
“Aaaaa... buset, dah!” jerit Ica membuat sejurus pandangan mengarah kepada gadis yang tengah menutup mulut itu sambil memelototi foto di ponsel.
“Apaan lagi sih, Ca? Dari tadi ngejerit mulu. Nggak bosen apa teriak?” gerutu Arini.
“Fotonya ya ampun.” Tak ada jawaban yang Ica berikan, hanya kalimat itu dan berhasil membuat semuanya penasaran lalu mengelilingi Ica untk melihat foto yang membuat Ica menjerit heboh.
Sontak semuanya menjerit heboh saat melihat foto yang sama, tak lain foto Anna dan Alan berdua di dalam mobil.
TBC