
“Mas Alan, kamu kenapa?” Anna berdiri dan menatap Alan dalam jarak dekat. “Sikapku di depan keluargamu tadi ada yang ngecewain kamu, ya?”
Beberapa detik Alan menatap Anna dengan wajah mendung tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Ya Tuhan, sedih sekali Anna melihat tatapan Alan yang muram itu. sebenarnya Alan kenapa?
“Aku nggak pa-pa,” ucap Alan singkat.
“Tapi kamu keliatan frustasi banget. Mukamu sedih, Alan. Kamu kalau mau curhat ya curhat aja. Nggak pa-pa, kok. Aku siap dengerin curhatanmu. Siapa tau aku bisa kasih kamu solusi. Jangan dipendam sendiri. Nanti kamu bisa depresi. Aneh aja, mendadak kamu jadi sedih gini.” Anna menyentuh pipi Alllan dan meneliti wajah itu. Dalam jarak dekat begitu, seluruh garis wajah Alan yang tegas tampak jelas di matanya.
Alan maju dan memeluk tubuh kecil Anna erat-erat. Sontak Anna terpaku dan bola matanya berputar keheranan. Ada apa dengan Alan? Kenapa sikapnya aneh? Tapi Anna memakluminya, Alan pasti sedang butuh tempat untuk bersandar melepas beban. Dengan meletakkan kepala di pundak Anna, kemungkinan Alan akan merasa lebih nyaman. Dan Anna membiarkan keadaan itu berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Anna dapat merasakan setiap detak jantung Alan yang berdegup begitu kencang menghentak dadanya.
“Katakan, kamu kenapa? Apa ini soal Cintya?” tebak Anna sambil mengelus punggung Alan demi memberi kenyamanan pada suaminya.
Alan melepas pelukan, kemudian mengangguk.
“Cintya kenapa?” Anna menatap penasaran.
Bukannya menjawab, mata cokelat Alan justru menatap Anna lekat-lekat.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan pria ini? Pikir Anna bertanya-tanya. Mata Alan terlihat berair. Pria itu jauh berbeda dari biasanya.
Anna membiarkannya, tanpa penolakan. Mendadak tubuhnya terasa kaku, ada aliran aneh yang menjalar di peredaran tubuhnya. Ia tidak sanggup berbuat apa-apa. Hanya diam. Tubuhnya masih membeku saat tangan Alan mencoba berekreasi ke tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang saat sadar tubuhnya sudah berbaring di ranjang setelah sebelumnya Alan menuntunnya.
Alan yang kini berada di atas Anna, mengecup mesra telinga Anna.
Anna merasakan tubuhnya semakin lemas. Apa yang akan terjadi setelah ini? Ia melihat kancing kemeja Alan bagian atas sudah terbuka, memperlihatkan bentuk kotak-kotak berotot di dada pria itu.
“M... Mas Alan, kamu nggak boleh sentuh aku. Itu ada dalam surat kesepakatan kita. Aku masih ingin suci saat berpisah darimu nanti,” lirih Anna sangat gugup, antara takut dosa karena menolak suami, juga takut hal lain, entah apa itu.
Alan berhenti. “Anna, laki-laki mana yang tahan berdiam diri saat istrinya ada di depan matanya? Aku laki-laki normal, aku butuh itu. Apalagi aku udah menikah, ini halal, bukan?”
Anna tercekat menatap wajah Alan di atasnya.
“Tapi kita punya perjanjian yang juga harus dipatuhi. Kalau kamu menginginkan aku supaya patuh pada perjanjian itu, kenapa kamu enggak? Aku nggak boleh menuntut cerai bukan? Aku akan turuti itu, kamu juga harus turuti apa yang menjadi hakku. Di atas hakmu, tertulis hakku juga.”
Alan diam, namun matanya menatap mata Anna intens. Anna segera mengalihkan pandangan mendapat tatapan itu, tapi bingung mengalihkan kemana. Terpaksa kini hanya menatap leher kokoh Alan karena pandangannya terbatas.
“Oke. Aku mengerti. Kalau begitu, boleh aku menciummu?” Alan mengusap kening Anna.
TBC