
Tapi sekarang dia sudah lega. Setelah selesai konsultasi dengan dokter, Alan menggendong Azzam keluar dan Anna mengiringi.
"Mas Alan, lain kali kalau ke rumah Papa, kita nggak usah bawa Azzam, deh. Aku takut hal ini terulang lagi," kata Anna saat mereka berjalan di koridor rumah sakit.
Alan memindahkan kepala Azzam dalam gendongannya itu dari pundak sebelah kiri ke pundak sebelah kanan, bocah itu tampak mengantuk dan menguap. Matanya sudah mulai sayu.
Dengan tatapan tegas, Alan berkata, "Kenapa kamu bicaranya begitu? Itu sama saja kamu menyinggung orang tuaku."
"Bukan itu maksudku, ini masalahnya berbeda. Kamu tahu sendiri kan sifat Azzam itu bagaimana. Dia hanya mau ditolong olehku, dan aku nggak mau lusa ini terjadi lagi saat aku nggak bersamanya. Lagi pula, kenapa bisa sampai seteledor itu sampai-sampai nggak ada yang tahu kalau Azzam memegang pisau."
"Ini sudah cukup menjadi pengalaman untuk mama dan papa, tentu mereka tidak akan membiarkan kejadian dan keteledoran itu terulang lagi."
"Lalu, kalau pun terjadi sesuatu pada Azzam, apakah papa dan mama bisa mengatasi? Mereka nggak mengerti bagaimana caranya mengatasi Azzam." Anna benar-benar tidak habis pikir bagaimana mereka yang sebanyak itu bisa sampai tidak ada yang tahu saat Azzam memegang pisau. Ini keteledoran besar.
"Kamu tidak bisa membuat peraturan untuk tidak mempertemukan orang tuaku dengan putraku, Anna! Aku tahu kamu mencemaskan Azzam, tapi bukan berarti begini caranya."
"Mas Alan, aku yang mengandung dan melahirkan Azzam, aku takut terjadi apa- apa kepadanya."
"Aku mengerti itu, kamu bisa berada di sisi Azzam saat dia berada di rumah papa. Memang dasarnya Azzam yang bandelnya kelewatan, dia bahkan sampai tidak mau ditolong oleh siapa pun. Suka mengamuk. Dan parahnya, keinginannya harus dituruti. Lihatla tadi, bahkan baby siter pun sampai tidak bisa mengatasinya."
Anna menghela nafas. Entah kenapa perasaan cemasnya terhadap Azzam membuatnya berkata demikian. mungkin Alan tidak senang jika kakek dan cucu tidak diperkenankan untuk bertemu. Kini Anna sadar, rasanya ia berlebihan atas perkataannya itu. Dan semua itu dia lakukan semata-mata karena rasa sayangnya pada Azzam yang berlebihan. Maklum, anak baru satu-satunya.
Alan hanya mengangkat alis emlihat ekspresi penyesalan Anna.
"Azzam ini mirip denganku," kata Alan saat memasuki mobil dan menyerahkan Azzam yang sudah tertidur pulas ke pangkuan Anna.
Andra menyetir mobil keluar area rumah sakit.
"Kata papa, aku dulu waktu kecil juga bandelnya begitu. Suka mengamuk jika keinginanku tidak terpenuhi, bahkan juga mengguling-guling di tempat umum, menangis meraung, entah kenapa sesuatu yang jelek begitu malah menurun pada anak," lanjut Alan.
Anna melirik suaminya yang bicara panjang lebar. Sia mengulumm senyum merasakan perubahan Alan yang sudah mulai kembali banyak bicara. Ternyata kepanikan dan kekesalannya membuahkan hasil juga. Dia mengecup kening Azzam yang pulas dalam pangkuannya.
"Termasuk ketika aku menginginkan seseorang, maka aku wajib mendapatkannya meski apa pun yang terjadi. seandainya gadis itu sudah menikah dengan orang lain, aku pun akan menunggu jandanya," lanjut Alan lagi.
"Kalau nggak janda janda juga?" seloroh Anna.
"Kubunuh suaminya. Keinginanku harus kudapatkan." Alan terkekeh pelan saat melirik Anna di sisinya menampilkan ekspresi nyengir.
Alhamdulillah, Alan kini sudah kembali seperti dulu. Gumam Anna.
Tbc