
Sebenarnya Anna takut gendut, tapi Alan tetaplah Alan, yang akan melancarkan ancamannya untuk melakukan perbuatan mesum di depan umum jika Anna tidak menuruti kemauannya.
Dasar Alan… Anna geregetan tapi ya sudahlah, tak perlu mengeluh. Ia hanya perlu bersyukur sudah memiliki suami sesiaga Alan. Ralat, kelewat siaga malah.
“Jus alpukat aja, susunya jangan banyak-banyak.” Anna akhirnya memerintah dari pada Rina yang kena semprot oleh Alan gara-gara tidak menyediakan minum.
Rina bergegas ke belakang menyelesaikan tugasnya.
Alan menuruni anak tangga sambil menelepon. Sejak di kamar, ia tak henti bicara via telepon membahas pekerjaan. Begitu banyak kerjaan menuntut. Rencananya untuk libur kerja hari ini pun batal. Ia duduk di kursi setelah menyelipkan ponsel ke balik saku jasnya. Dengan sigap, bibirnya menyambar pipi Anna yang sudah lebih dulu duduk di sana. Alan bahkan menggeser kursinya hingga menempel di kursi Anna.
“Mas Alan, ini di meja makan. Entar apa kata Rina, Andra, atau Pak Sam yang lewat?” Anna menjauhkan wajahnya dari wajah Alan.
Alan tersenyum. “Apa salahnya?” Ia memegang tangan Anna.
“Sarapan dulu.” Anna nyengir. Sejak tadi malam, Alan terus saja menempel seperti perangko. Pria itu menunjukkan berbagai perhatian dan kasih sayang tanpa jeda. Hampir tak ada sikap tak menyenangkan dari Alan. Satu hal yang cukup membuat Anna merasa bangga, saat Anna akan tidur, pria itu menyelimuti tubuh Anna, ia juga memijiti tubuh Anna.
Alan berdiri lalu mengambil kotak susu dari kulkas. Cukup satu menit, susu hangat sudah tersaji di hadapan Anna.
“Minumlah. Kamu harus jaga stamina tubuhmu supaya air susu untuk Azzam lancar. Kamu keliatan makin seksi saat dalam kondisi begini.”
“Mas, Rina udah bikinin jus loh untukku.”
“O ya? Yau udah nanti jusnya biar aku yang minum. Buruan, minum susunya!” Alan duduk di sisi Anna dengan lengan merentang di sandaran kursi istrinya itu.
Anna tersenyum menatap gelas susu berukuran jumbo. “Nggak harus sebanyak ini juga kali, aku nggak mungkin habis kalau takarannya segini. Gelasnya kegedean.”
“Harus habis.”
“Aku bisa muntah kalau kebanyakan.”
“Ya udah, kalau nggak habis, nanti biar aku yang habisin.”
Alan pun tersenyum.
Rina menyuguhkan dua burger hangat ke hadapan Alan dan Anna, serta segelas jus alpukat.
“Loh, kok burger?” Anna heran menatap burger yang disuguhkan, ia tidak memesan burger untuk sarapan.
“Aku yang suruh Rina bikin tadi.”
Ya ampun, itu artinya Anna harus menghabiskan susu berukuran gelas jumbo plus burger? Untuk menghabiskan segelas susu berukuran jumbo saja Anna sudah merem melek, bagaimana jika ditambah dengan burger?
“Makasih, Rina. Kamu kalau mau bikin burger, bikin aja, ya!” tukas Alan yang diangguki oleh Rina kemudian ia beranjak ke dapur.
Mata Alan mengamati Arni yang baru muncul mengenakan pakaian putih dan menemani Azzam. Ia dengan sabar menyuapi bubur ke mulut Azzam.
“Cepetan makan! Entar keburu telat, sayang!” ucap Alan pada Anna. “Ini burger daging kelinci, enak banget.” Alan menyantap burger miliknya.
“Iya.” Anna terpaksa menyantap burger.
Tak lama sarapan menyusut dan habis. Beralih ke susu, Anna sedikit bergidik saat aakn menghabiskannya. Benar saja, susunya tidak habis.
Alan mengambil gelas susu dari tangan Anna dan meneguknya sambil tersenyum.
“Crazy,” lirih Anna geleng-geleng kepala.
Lagi-lagi Alan hanya tersenyum, ia merangkul Anna meninggalkan meja makan. Anna menghampiri Azzam dan mencium kening bocah itu.
TBC