Holy Marriage

Holy Marriage
Sesuap Mie



Mata Alan melebar menatap sendok yang sudah menempel di bibirnya. Sekilas ia melirik Mang Ucup yang tersenyum melihat tingkah Anna dan Alan.


Terpaksa Alan membuka mulut dan mengunyah mie.


“Enak, kan?” Anna tersenyum menanti jawaban Alan.


Alan terdiam merasakan mie yang kini sudah ia telan. Rasa memang tidak bisa berbohong, sungguh lezat. Alan ingin kembali menyantapnya, satu sendok atau dua sendok lagi. Ah, tapi ia gengsi. Masak sih sosok Alan makan mie yang sejak awal ia sendiri sudah ilfil menatapnya.


“Astaga, bajuku.” Alan memekik melihat kemejanya terkena tetesan kuah mie ayam, menguning.


“Ya ampun. Ini nodanya pasti susah hilang.” Anna menyambar tisu dan buru-buru mengelap kemeja bagian dada pria itu. “Maaf. Gara-gara suapanku, jadinya gini.”


Anna menggigit bibir bawah menatap kemeja yang seharusnya berkilau, sekarang berubah jadi kotor. Kemeja itu pasti mahal. Gimana kalau nodanya nggak mau hilang? Pikir Anna merasa bersalah.


“Udah, udah. Nggak pa-pa.” Alan menjauhi tangan Anna yang terus mengusap kemejanya.


“Ya udah, aku makan dulu, ya. Biar kita cepet pulang dan kemejamu cepet dicuci. Kalo cepet dicuci semoga aja nodanya bisa hilang.” Anna kembali menyantap sisa mie dengan lahap.


Air liur Alan menggelitik melihat Anna makan. Yasalam, Alan ngiler, pengen makan mie ayam lagi. Satu sendok mie yang Anna suapkan ke mulutnya terasa seperti hanya pengganjal gigi saja. Alan bahkan ikut menelan saat Anna menelan mie.


Selesai makan, Anna mengembalikan mangkuk kepada Mang Ucup.


“Bungkusin tiga lagi, Mang,” titah Anna.


“Beres.” Mang Ucup segera melaksanakan perintah.


“Tiga? Untuk siapa?” tanya Alan.


“Mereka hanya berdua.”


“Satu lagi untukku. Satu mangkuk masih kurang. Heheeee...” Anna nyengir sambil garuk-garuk kepala. Malu ketahuan rakus. Sebenarnya tidak rakus, hanya kelewat doyan. Habisnya mie ayam buatan Mang Ucup sangat enak sekali.


“Ini, Neng.” Mang Ucup menyerahkan tiga bungkus mie ayam yang langsung disambut oleh Anna.


Anna mengeluarkan dompet kecil berwarna pink lalu mengeluarkan isinya. Matanya membelalak melihat selembar uang sepuluh ribuan, selembar lima ribuan dan dua ribuan dua lembar. Ia kembali mengecek isi dompet berharap ada keajaiban, siapa tahu ada tuyul yang tiba-tiba menyelipkan uang ke dompetnya gara-gara salah kirim duit. Ah, harapan konyol.


“Yaaah... Cuma ada sembilan belas ribu. Kurang uangnya,” lirih Anna dengan muka memerah menahan malu melihat recehan di tangannya. Ia melirik Alan dan bertanya, “Bisa ditambahin nggak?”


Alan menaikkan alis tanpa menjawab. Ia mengambil uang kembalian dari Mang Ucup lalu memasukkannya ke dompat.


“Udah dibayar sama Masnya, Neng,” ucap Mang Ucup membuat Anna terbelalak dan kembali memasukkan uang ke dompet malu-malu. Anna sampai tidak menyadari kapan Alan mengeluarkan uang dari dompetnya. Mungkin waktu ia sibuk mengobrak-abrik dompet mungilnya tadi. Anna jadi malu.


“Ayo, pulang!”


Teriakan Alan barusan membuat Anna mendongak dan melhat pria itu sudah berjalan agak jauh. Ia berlari mengejar Alan, menyeberangi jalan lalu membuka pintu mobil dan masuk.


“Letakkan bungkusanmu itu ke depan. Panas kena pahaku!” titah Alan menatap tiga bungkus mie ayam yang Anna letakkan di tengah-tengah mereka duduk.


“Pak, nitip tarok depan, dong!” Anna menyerahkan kantong berisi mie ayam kepada supir yang langsung disambut supir dan diletakkan di sisinya duduk.


TBC