
“Enggak!” Anna menahan tangan Alan yang mulai bergerilya. “Aku nggak akan kuat dimadu oleh orang yang kucintai. Kalau aja aku nggak mencintaimu seperti saat pertama kali aku mengenalmu, akan kubiarkan kamu menikahi empat perempuan bila perlu. Tapi aku nggak mungkin bisa menahan sakit ketika orang yang kusayangi meniduri wanita lain.”
“Baiklah. Aku akan ninggalin Cintya.”
Anna terbengong. Tubuhnya terasa kaku. Kenapa semudah itu Alan mengucapkan akan meninggalkan Cintya? Alan hanya sedang terburu-buru ingin bersenang-senang dengan Anna malam itu hingga mengambil keputusan yang bisa membuat Anna secepatnya menyerahkan diri, atau kata-kata itu benar-benar tulus keluar dari mulutnya?
“Apa yang ada di pikiranmu? Cintya adalah wanita yang selama ini kamu cintai bukan? Lalu semudah itu kamu bilang akan meninggalkannya demi aku?”
“Ya.”
“Jangan hanya karena terburu nafsu lalu mengambil keputusan yang kemudian setelah kita melakukannya akan kamu ralat.”
“Peganglah kata-kataku.”
Mata Anna justru berkaca-kaca. “Aku akan menjadi jahat di mata Cintya karena akhirnya justru jatuh cinta padamu, bahkan ingin hidup selamanya denganmu. Aku nggak tega kamu menceraikan Cintya demi bisa hidup denganku. Andai aku di posisi Cintya, tentu itu akan sangat menyakitkan. Dia terkhianati. Tapi aku juga ingin bisa hidup selamanya denganmu.”
“Maka turuti kata hatimu. Hiduplah bersamaku, selamanya.”
Anna bahagia mendengar kata-kata itu, namun sisi hatinya yang lain merasa kejam karena harus berbahagia diatas penderitaan Cintya. “Lalu bagaimana dengan Cintya?”
“Yakinlah dia akan baik-baik aja.”
“Nggak mungkin. Dia pasti akan terluka. Aku jahat, Mas Alan. Aku egois.”
“Percayalah, aku akan selesaikan semuanya. Kita mulai semuanya dari awal, sayang!”
Kulit tubuh Anna meremang mendengar Alan memanggilnya sayang. Panggilan itu membasahi hatinya.
-----CUT-----
( Pasti banyak yg di bawah umur, jadi adegan kupotong. wkwk )
***
Anna duduk di atas motor gede yang melaju dengan kecepatan sedang. Kedua tangannya memegang pinggang Alan yang mengendarai di depan. Angin terasa lembut menerpa wajahnya. Sengaja Alan tidak mempercepat kelajuan motor. Jika ngebut, yang ada bukan romantisan, tapi tabrakan.
Tadi Anna mengajak Alan jalan-jalan, dan Alan menyetujui. Anna sengaja mengajak naik motor saja. Alasannya simpel, Anna ingin memeluk Alan sepanjang jalan. Selama menikah, Anna belum pernah merasakan naik motor bersama Alan. Setiap bepergian, mereka selalu naik mobil. Anna ingin menikmati keseruan naik motor bersama Alan di malam terang dan ditonton ribuan bintang.
Meski tadi Anna sempat kecewa, karena Alan sibuk komat-kamit sambil menempelkan ponsel di telinga tanpa jeda. Baru keluar kamar, ponsel Alan berdering dan lagi-lagi Alan terlihat sibuk membahas pekerjaan. Sampai di tangga, ponsel Alan kembali berdering. Dan lagi, Alan bicara via ponsel. Sampai di lantai bawah, Alan kembali bicara via ponsel, bahkan Anna sampai jamuran menunggu di teras.
Begitu selesai bicara dan melihat muka bete Anna, Alan langsung sadar kalau ia sudah membuat Anna terlalu lama menunggu. Dan dengan kesadaran penuh, ia pun mematikan ponsel demi bisa meluangkan waktu untuk Anna tanpa gangguan ponsel.
Melihat sikap Alan yang memahaminya, Anna pun tertawa girang. Kini mereka menikmati tamparan angin jalanan yang menerpa wajah.
Anna kemudian berdiri demi bisa merasakan sentuhan angin. Ia merentangkan tangan dan tertawa riang.
“Halo semuanyaaaaa….. Lihat siapa yang ada di depanku ini! Namanya Alan, dia suamiku. Ganteng, kan?” serunya pada orang-orang yang dilewatinya, pada Bapak-bapak, ibu-ibu dan para remaja yang naik motor di sekitarnya. Anna mengalungkan kedua lengannya ke leher Alan dan menempelkan depan tubuhnya ke punggung Alan. “Alan itu perhatian, loh. Penyayang lagi. Liat deh, mukanya baby face, Kan?” Sekilas Anna mengusap kedua pipi Alan, dan Alan tersenyum menanggapi kegilaan istrinya.
Seketika, Anna dan Alan menjadi pusat perhatian para pengendara lainnya di sekitar sana.
TBC