
Sejurus perhatian tertuju ke arah Azzam yang tergeletak di lantai dengan sorot mata mengarah ke wajah Alan. Bocah itu kini malah kelihatan santai dengan memegangi ujung kaki dan mengangkatnya ke atas.
Suasana tegang yang tadinya mendominasi ruangan itu, kini berubah menjadi lebih santai karena ulah Azzam.
Azzam menampik tangan Anna yang terjulur ke arahnya untuk menolong membangkitkan tubuhnya. Ia menggeleng-geleng menatap tangan itu, kemudian ia melepas kakinya yang sejak tadi dipegangi dan bangun sendiri dengan membalikkan tubuhnya lalu bangkit berdiri.
“Kakeeeek…!” seru Azzam sambil berlari mendekati kakeknya.
Dada William yang sejak tadi terasa panas membara akibat emosinya yang sudah sampai ke tingkat ubun-ubun, mendadak seperti ada salju menghujani dan terasa dingin saat melihat tawa cucunya yang tampan. Ia baru sadar kalau sosok yang dia anggap diamond, sudah sejak tadi berada di sana. Seharusnya sudah sejak kadatangan Azzam, dia menciumi cucunya itu. Tapi gara-gara dadanya dipenuhi dengan kemarahan terhadap Stefi, ia sampai lupa memeluk cucunya itu.
William jongkok dan merentangkan tangan, menunggu cucunya sampai kepadanya.
Azzam tertawa lebar sambil berlari kencang menuju ke arah William. Tubuhnya yang gemuk membuat bok*ngnya goyang sana goyang sini, larinya pun terlihat agak kesulitan akibat celana panjang levis berbahan kaku yang dia pakai.
Bruk!
Lagi-lagi tubuh gemuk itu terjatuh ke lantai.
“E eeh…” Tante sampai teriak melihat tubuh Azzam terbanting. Bahkan dagu Azzam sempat terantuk lantai, tapi bocah itu tidak menangis.
Haduh, Azzam! Entah sudah berapa kali tubuh menggemaskan itu terguling dan jatuh dalam sehari. Jidat terantuk, dagu kepentok, book*g terjerembab, terpeleset dan masih banyak lagi. Tapi dasar bandel, bocah itu tidak menangis setiap kali kejungkang atau pun terkena musibah sejenisnya.
Azzam bangkit bangun tanpa bantuan siapa pun. Anna yang berada paling dekat dnegan Azzam pun tidak mau membantu karena ia tahu Azzam pasti menolak bantuannya. Anna sudah sangat mengenal Azzam, yang paling anti dibantu saat terjatuh.
Azzam meraih tangan William yang merentang dan langsung memeluk kakeknya itu. bocah itu menjatuhkan kepalanya di pundak William.
William tersenyum tipis menatap wajah tampan cucunya yang nyender di pundaknya, wajah seperti copy paste Alan William. Mirip sekali dengan Alan saat kecil.
“Kakek, ayo ke taman. Tengok ulal,” ajak Azzam yang kerap kali dibaw ke belakang rumah untuk melihat lukisan dinding bergambar ular dan berbagai jenis binatang di belakang rumah, dekat kolam renang.
“Pergilah duluan ke belakang, Kakek menyusul. Ajak mamamu!” ucap William.
“Gak mau. Maunya cama kakek. Ayo, kek. Ayo, ayo, kita tengok ulal,” Azzam melepas pelukan dan menarik-narik lengan kakeknya.
Stefi menunduk diam.
Azzam menatap wajah kakeknya yang jauh di ketinggian darinya. “Kakek malah-malahnya nanti saja. Ayok, pelgi cama Azzam nengok ulal. Ayo, Kek.”
William mengusap pucuk kepala Azzam. Suara Azzam membuat kemarahannya memudar. Ia pun menggendong Azzam menuju ke belakang.
Alan menarik lengan Stefi, menyeretnya menuju ke ruangan lain. Alan melepas lengan adiknya saat sudah berada di ruangan lain. Dia berdiri menghadap adiknya, menatap wajah sembab itu dnegan sorot tajam.
“Stefi, katakan apa yang akan kau lakukan sekarang? Minta pertanggung jawaban lelaki yang sudah memiliki empat istri itu atau bagaimana? Jawab!” geram Alan.
Stefi diam saja dengan kepala menunduk.
“Kenapa kau melanggar ucapanku? Jauh-jauh hari aku sudah bilang supaya kau menjauhi pria itu.”
“Ini terjadi sebelum kakak memberi peringatan kepadaku,” lirih Stefi masih dnegan kepala tertunduk.
“Jadi…”
“Ya, aku sudah ikuti ucapanmu untuk menjauhi pria itu. tapi semuanya sudah terlanjur, kak. Bahkan sekarang aku juga tidak tahu apakah Mas naga bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya atau tidak setelah aku memperingatkan supaya dia menjauhiku. Sekarang kami sudah tidak berhubungan lagi, itu juga atas kehendakmu, kak.”
“Ya Tuhan…” Alan mengusap wajah kasar. Frustasi.
“Kenapa kau seceroboh ini?” Alan kesal. “Kenapa kau tidak berpikir panjang sebelum melakukan hal bod*h ini? Kau adalah seorang gadis, dan kau tahu konsekuensi yang harus kau terima jika kau melakukan hubungan terlarang dengan seorang laki-laki. Astaga!”
Alan menoleh saat merasakan sentuhan di lengannya. Ia melihat Anna sudah ada di sisinya. Sesaat hatinya terasa dingin merasakan sentuhan itu. Anna memang selalu bisa membuat hatinya menjadi sejuk meski dalam kondisi sedang emosi begini. Untung ada Stefi di hadapan Alan sekarang, jika tidak, tentu dia sudah mengajak Anna ke ranjang akibat sentuhan tangan Anna di kulitnya yang mengantarkan setrum panas di tubuhnya. Gawat!
“Mas Alan, lebih baik kamu temui Naga dan bicarakan masalah ini dengannya,” ucap Anna.
Alan menatap Anna, kemudian kepalanya mengangguk.
BERSAMBUNG