
“Ibu Anna!” Suara Alta terdengar jelas di telinga Anna.
Sontak Anna menoleh ke sumber suara. Alta sudah berdiri tak jauh darinya. Ingin rasanya Anna meninju dan menampar wanita rendahan itu, namun dia tidak ingin kembali seperti Anna yang dulu. Dia lebih memilih menyelesaikan msalah dengan otak, bukan dengan fisik dan kekerasan.
“Kau? Masih ada urat malumu untuk menemuiku?” hardik anna dnegan sorot mata tajam menghunus.
Alta menunduk, melangkah mendekati Anna dengan tetes air mata. Entah air mata buaya atau kadal. Dia terlihat sangat sedih dengan tangisannya itu. cih.
“Bu Anna, aku sangat menyesal. Aku benar-benar menyesal atas kejadian yang menimpa Pak Alan.” Alta semakin mendekat, dan wajah yang dipenuhi penyesalan itu dibanjiri air mata. “Sayalah orang yang selama ini memberikan racun di minuman Pak Alan, atas perintah Pak Naga. Semua saya lakukan karena kebutuhan hidup. Perusahaan pak Naga berada di ambang kehancuran, beliau meminta saya untuk menyingkirkan Pak Alan dengan cara itu. dan berhasil. Beliau juga ingin masuk di keluarga Pak Alan dengan cara mendekati adiknya Pak Alan supaya bisa menduduki kursi kekuasaan di perusahaan Pak Alan setelah Pak Alan meninggalkan dunia ini. Tapi rencana Pak Naga terkendala karena adiknya Pak alan malah menikah dnegan pria lain. Dan… seharusnya hari ini menjadi hari terakhir untuk Pak alan jika dia tidak pergi ke luar negeri selama beberapa bulan waktu itu. namun karena kepergiannya ke luar negeri, proses racun yang bekerja pun terhambat dan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Sebelum saya menyelesaikan tugas saya untuk menyingkirkan Pak Alan, tanpa sadar saya justru jatuh cinta kepadanya. Entah kapan perasaan itu tumbuh. Saya pun akhirnya menghentikan perbuatan saya, demi ingin melihat kehidupan Pak Alan lebih lama lagi. Saya jatuh cinta kepadanya. Saya mengaku salah. Saya bersalah.” Tangisan Alta pecah, terdengar semakin keras. Gadis itu ambruk dan menjatuhkan diri ke lantai, tepat di hadapan kaki Anna. Dia bersimpuh.
“Saya berjanji akan pergi jauh meninggalkan kehidupan Pak Alan. Saya mengaku salah. Saya mencintainya. Dan sebab itulah saya ingin melihat orang yang saya cintai hidup bahagia. Saya mengaku salah sudah menginginkan Pak Alan yang terlihat begitu sempurna di mata saya. Saya ingin menjadi seperti Anda. Tapi sekali lagi saya akui, saya salah.” Alta terus menangis sesenggukan. Kepalanya menunduk tepat di depan kaki Anna.
“Setiap perbuatan harus dipertanggung jawabkan. Bukan berarti kau minta maaf lantas hukum tidak berjalan. Semua yang sudah kamu lakukan merupakan tindakan kejahatan. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu,” ucap Anna dengan gigi menggemeletuk. Untung saja tabiatnya yang suka main tonjok sudah sedikit berkurang, sehingga ia bisa menahan diri untuk tidak mengintimidasi Alta dengan aksi tendang dan pukul. Sangat disayangkan, wajah secantik Alta, bahkan mirip dnegan Anna, memiliki tabiat buruk. Merusak citra baik Anna saja.
“Pergilah! Tunggu saja pihak yang berwajib menjemputmu!” tukas Anna tegas. Dia tidak akan merelakan wanita di hadapannya itu dilepaskan ebgitu saja. Wanita itu harus menerima akibat dari perbuatannya. Saat ini Anna sedang dilanda ketakutan yang luar biasa, takut terjadi hal buruk pada Alan.
Alta akhirnya bangkit berdiri. Dia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi, masih dnegan isak tangis sesenggukan.
Tak lama kemudian, William, Laura dan Clarita, bungsunya Alan muncul bersamaan dan langsung menghampiri Anna. Beberapa menit lalu Anna sudah mengabarkan kondisi Alan yang dilarikan ke rumah sakit pasca kejadian di kantor.
Dengan raut frustasi, Laura menanyakan kondisi Alan, “Bagaimana Alan?”
Anna sangat mengerti perasaan Laura, wanita yang melahirkan putranya itu tentu merasa terpukul dan sedih atas kejadian yang menimpa Alan.
“Masih ditangani dokter.”
“Sudah. Sabar. Berdoa saja,” ucap William menennagkan istrinya. Dia tampak lebih tegar dari Laura.
Clarita, gadis yang sehari-harinya bergelut dengan seragam sekolah itu hanya berdiri dan diam saja, manik matanya terpusat ke wajah-wajah bimbang di hadapannya. Ekspresinya datar. Sepertinya dia malah kelihatan bingung harus berekspresi seperti apa.
“Mas Alan dikelilingi orang-orang berhati busuk, Pa. kita harus memperkarakan masalah ini ke hukum. Ini tindak kejahatan dan sudah mengancam nyawa,” ucap Anna pada William. “Aku sudah mengumpulkan bukti.”
“Kamu tunggu saja suamimu di sini, biar papa yang mengurus masalah ini ke hukum,” kata William.
“Sungguh, Pa?”
“Ya. Alan adalah putra papa, ini juga menjadi kewajiban papa. Anak buah papa akan dnegan mudah menyelesaikan ini.”
Anna mengangguk. “Akan kuberi petunjuk kemana papa harus mengumpulkan bukti.”
“Papa akan meneleponmu nanti untuk meminta petunjuk. Sekarang papa harus segera pergi untuk secepatnya mengurus masalah ini. Baik-baik di sini, kabari papa kondisi terkini Alan.”
Anna mengangguk.
William mengusap lengan Laura sebentar sebelum akhirnya dia pergi.
BERSAMBUNG