Holy Marriage

Holy Marriage
Oh Bali



Selama dua hari Anna dirawat, Alan lebih seperti asisten bagi Anna. Ia menjaga Anna selayaknya menjaga bayi. Anna merasa dimanja. Makan disupain, mau tidur dibelai-belai, mau mandi di kamar mandi pasien pun ditemani Alan. Alan menyediakan semua yang Anna butuhkan tanpa sedikitpun terlalaikan.


Setiap malam, Alan tidur satu kasur dengan Anna. Ketika perawat datang memberikan menu makanan pasien, Alan hanya akan cengar-cengir dan menunjukkan kartu tunggu pasien.


Perawat geleng-geleng kepala melihat sosok suami yang satu itu, menunggui pasien dengan cara tidur satu kasur dengan pasien dan memeluk pasien semesra mungkin. Hanya Alan, penjaga pasien yang bersikap seromantis itu.


Alan masa bodo. Lagipula ia tidak melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Dia hanya tidur bareng dengan istrinya dan memeluk istrinya dengan satu tangannya. Sudah, itu saja, tidak lebih. Kalau kepergok perawat, anggap saja itu adalah adegan romantis.


“Boleh tidur, kan?” tanya Alan ketika kepalanya sudah terangguk-angguk ngantuk sementara sejak tadi Anna tidak berhenti menyuruhnya.


Wajar Anna meminta tolong suaminya, karena sekarang tangannya sedang diinfus, ia jadi sulit bergerak. Lagi pula dokter mengatakan kalau Anna belum boleh banyak bergerak.


Anna tersenyum dan mengangguk. “Boleh.”


***


Anna meraih handphone, di sana terlihat pukul 03.05 Am. Senyumnya mengembang melihat Alan tertidur di lantai beralaskan selembar kasur mini yang dikirim Andra ke rumah sakit.


Anna bangkit dan mendekati Alan. Tangannya menjulur ingin menjangkau tubuh suaminya, namun tertahan di udara. Niatnya ingin membangunkan untuk minta bantuan, tapi tidak tega melihat Alan tertidur pulas.


Beberapa hari terakhir, Alan kurang tidur akibat siaga menjaga Anna.


Anna berjalan ke kamar kecil sambil menyeret tiang infus. Dibiarkannya tiang infus tegak di luar dan ia masuk ke kamar kecil. Setelah selesai dengan urusannya di kamar kecil, Anna kembali ke ranjang dan berbaring.


Anna bersyukur, Alan kini jauh lebih mengerti, lebih dewasa dan baginya sempurna menjadi suami. Karena tidak ada hal yang lebih utama dalam rumah tangga melainkan kasih sayang.


Terima kasih, Ya Allah.


Anna tersenyum.


***


Setelah Anna dan Alan menempuh perjalanan yang lumayan, turun dari pesawat dan disambut taksi, mereka langsung pesan kamar hotel. Baru satu jam yang lalu Anna dan Alan sampai di kota Bali, Anna sudah merengek minta jalan-jalan. Belum sempat Alan merebahkan tubuh setelah selesai shalat subuh, Anna sudah packing barang ke dalam tas kecil sebagai perlengkapan untuk jalan-jalan.


Terpaksa Alan menuruti.


Yang pertama dituju adalah Danau Beratan Bedugul, danau yang memliki suasana alam asri dan berhasil menyegarkan otak. Sebuah Pura yang disebut dengan nama Pura Ulun Danu menjadi salah satu lokasi yang mereka singgahi.


Anna dan Alan sempat menikmati permainan air, mereka menyewa perahu dan berkeliling di atas permukaan air danau.


Mereka menuju banyak Pura, Pura Besakih, Pura Uluwatu.


Keesokan hari, mereka mengunjungi Tanjung Benoa. Karakteristik air di sana sangat tenang, sehingga cocok untuk permainan air.


TBC