Holy Marriage

Holy Marriage
Salah Sikap



“Aku mau keluar sebentar menemui teman-temanku. Maksudku… Mungkin agak lama karena akan ada banyak hal yang kami lakukan nanti,” ucap Anna pada Alan.


Alan membuka mata, dia mengusap-usapkan wajahnya ke perut Anna. Lalu mengangkat wajah dan menatap wajah cantik istrinya. “Teman-temanmu yang mana?” suara Arkhan kini terdengar jelas.


“Teman-teman kuliahku dulu.”


“Kemana?”


“Kafe, restorant dan tempat-tempat lainnya.”


“Oh.” Alan bangkit bangun. Dia melangkah menuju toilet. “Keamananmu tidak akan terjamin jika kamu bertujuan keluar rumah sampai seharian. Akan kupanggilkan bodyguard untuk mengawalmu.” Alan memasuki kamar mandi. Air keran terdengar mengucur saat Alan mencuci mukanya.


Anna terduduk di sisi kasur dengan bingung, pertanyaan besar menyerang benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alan? Sikap pria itu kembali seperti dulu lagi, over protektif, posesif dan Alan banget.


Anna menunggu hingga beberapa menit sampai Alan selesai menyikat gigi. Pria itu keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajah dnegan handuk.


“Nggak usah siapkan bodyguard untukku. Aku bisa jaga diri. Jangan berlebihan,” ucap Anna.


“Kalau begitu suruh Andra membawa Lamborghini, sebab belum tentu aman saat kamu bepergian dengan kendaraan di bawah satu milyar.” Alan mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang dia sambar dari penjemur handuk.


Sampai detik ini Anna masih mengernyit bingung. Seharusnya dia suka dengan sikap Alan yang kembali seperti dulu. Tapi perubahan sikap Alan yang mendadaklah yang membuatnya merasa aneh.


“Lamborghini tidak pernah absen servis, dijamin aman dan memuaskan,” lanjut Alan membuat Anna hanya bisa terperangah.


“Mm…” Belum selesai Anna bicara, Alan kembali bersuara.


“Oya, suruh Arni membuat makanan higienis untuk Azzam dan bawa bekal untuk Azzam. Makanan di luar tidak bisa dijamin tingkat kebersihannya. Kamu juga, jangan makan di tempat sembarangan. Jangan ikuti tema-temanmu jika mereka makan di tempat yang tidak terjamin. Pilihlah restoran yang bersih dan menjamin kehigienisannya.”


Anna bangkit berdiri seperti orang linglung, mimpi apa dia semalam sampai-sampai pagi ini mengalami kejadian menakjubkan? Alan berubah kembali seperti semula.


Langkah Anna terhenti saat mendapati Alan di hadapannya. pria itu tersenyum tipis dan menunjuk pipinya sambil berkata, “Apa kau yakin tidak ingin mencium pipiku?”


Kemudian dnegan gerakan kilat, Alan memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Anna.


Anna tersentak kaget, sesaat terdiam karena sikap Alan masih membuatnya bingung. Namun kemudian ia membalas ciuman suaminya itu.


“Salamat jalan, Baby! Hati-hati di jalan. Jangan balas senyum jika ada laki-laki tersenyum kepadamu, okey!” Alan melangkah pergi dan masuk ke kamar mandi sesaat setelah menyambar handuk. Dia menggantungkan handuk, melepas baju, menyalakan shower, kemudian tertegun sebentar. Kedua telapak tangannya mnapak di wastafel. Wajahnya menunduk mengingat kejadian barusan.


Apa yang baru saja dia lakukan tadi? Dia baru saja memanjakan Anna, mengungkap serangkaian perhatian dnegan kata-kata, mencium Anna dan bahkan berpesan supaya Anna berhati-hati.


Ya ampun, Alan sudah melupakan sesuatu. Ya, dia lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, Alan baru saja bangun tidur dan otaknya belum sinkron, dia merasa kalau dunianya masih sama seperti dulu. Sakit di kepalanya sedang tidak kambuh alias reda, sehingga dia tidak merasakan apa pun. Hal itu membuatnya lupa akan satu hal, bahwa seharusnya dia bersikap dingin terhadap Anna. Tapi kondisi tubuhnya yang sedikit membaik, membuatnya lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Disaat bangun tidur begini, Alan hanya mengingat satu hal, bahwa dia memiliki wanita cantik yang sangat dia cintai, Anna.


Alan mengesah saat menyadari telah melakukan kesalahan. Tapi apakah perbuatan yang dia lakukan tadi salah? Alan menarik nafas panjang. Dia menikmati ciuman istrinya, dia sudah sangat lama merindukan ciuman itu.


Tidak ada wanita yang dia cintai selain Anna, dan sudah sejak lama dia memndam hasratnya demi menjaga jarak pada Anna.


Apakah yang dia lakukan saat ini salah? Haruskah dia membicarakan masalah yang sesungguhnya kepada Anna?


Tuhan…


Alan sangat ingin menjaga perasaan istrinya. Dia tidak ingin Anna menderita saat harus dia tinggalkan. Alan baru sadar kalau tubuhnya berdiri di bawah shower saat rasa dingin menjalar di sekujur kulit tubuhnya.


Dia diam sejenak, membiarkan air mengguyur kepala hingga sampai kaki. Dia ingat, dokter mengatakan kalu usianya tidak akan lama lagi karena sakit itu sudah di stadium akhir. Sampai kapan dia akan bertahan?


Alan ingin memesankan kepada Anna, jika kelak dia tiada, dia meminta supaya istrinya itu mencari pria yang jauh lebih baik untuk menjaga dirinya. Tapi hal itu tidak pernah bisa terucap dari lidahnya karena takut Anna mengetahui hal yang sesungguhnya.


BERSAMBUNG