
Anna mengiringi langkah Alan menyusuri ruangan-ruangan luas yang sarat dengan kesibukan dan rutinitas pekerja. Seluruh pegawai tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Anna menggumam dalam hati, betapa dirinya diagungkan sebagai istri seorang Alan dengan menatap setiap orang yang mengangguk dan membungkukkan tubuh saat berpapasan sebagai bentuk hormat pada Alan dan juga Anna.
Mungkin bagi Alan, hal itu sudah biasa. Namun berbeda bagi diri Anna, yang mendapat sambutan tersebut ketika ia resmi menyandang status sebagai istri Alan. Anna merasa hal itu terlalu berlebihan. Berawal dari sosok Anna remaja yang sering berkeliaran di luaran rumah, kini telah bermetamorfosa menjadi Anna yang dewasa dengan kehidupan yang dipenuhi dnegan banyak peraturan. Mulai dari soal penampilan, cara jalan, cara makan, dan cara tertawa pun harus diatur demi menjaga image sebagai istri seorang Alan.
Kehidupannya yang dulunya terbiasa bergelut dengan alam, bermain air di sungai, berlarian di hamparan tanah luas, menyusuri pasar untuk mencari sepasang jepit rambut, dan jajan di pinggiran jalan, kini ditukar dengan kehidupan yang jarang terkena matahari, mulai dari berdiam di rumah, di jalan mesti pakai mobil, shoping hanya ke mall, semuanya tanpa sorotan sinar matahari.
Dan sekarang, Anna pun berada di dalam gedung yang atasnya disinari lampu-lampu, membuat kesan indah dan mewah di perkantoran itu. Rasanya baru kemarin Anna berguling bebas di tanah luas untuk menikmati hangatnya sinar matahari, sekarang dia sudah berada di sisi Alan sebagai sang istri pengusaha besar.
Setelah keluar dari lift pribasi, Alan dan Anna kini melintasi sebuah ruangan, dimana Alta tampak sedang duduk di meja kerjanya. Gadis berwajah hampir mirip dengan Anna itu langsung bangkit dan menganggukkan kepala sebagai tanda hormat dan sapanya kepada sang bos.
Alan balas mengangguk dan melenggang menuju ke pintu ruangannya.
“Salam Nona, Anna!” Alta tersenyum ramah saat pandangannya beradu dengan mata Anna.
“Salam.” Nona balas mengangguk dengan seulas senyum.
“Pak Alan, saya akan tunjukkan beberapa laporan keuangan yang harus segera dikoordinasikan kepada pihak terkait. Tadi saya sudah bicarakan hal ini kepada wakil Bapak dan beliau belum bisa memberi keputusan.” Alta mengikuti Alan memasuki ruangan bosnya.
“Bawa kemari laporannya!” titah Alan kemudian duduk di kursinya.
“Baik, Pak.” Gadis berblazer lengan pendek dan rok selutut itu melangkah keluar untuk menjemput map.
Anna berdiri di sisi Alan, tepat di sisi kursi pria itu.
“Aku di sini aja,” balas Anna ememilih untuk berdiri saja. Dia lebih nyaman berdiri di sisi Alan ketimbang harus duduk menyendiri di sofa.
Alta kembali memasuki ruangan membawa sebuah map, kemudian meletakkan map tersebut ke meja Alan. Bukan hanya map saja yang dia taruh ke meja, tapi juga sebuah gelas berisi kopi. Alta sangat hafal dengan minuman kesukaan bosnya, yakni kopi ginseng tanpa gula.
Alan mencium aroma kopi yang sangat nikmat, dan dia tidak bisa menolak aroma itu, mana mungkin ia akan melewatkan kenikmatan kopi itu begitu saja jika sudah mencium aromanya.
“Sepertinya kamu tidak bisa meninggalkan kebiasaanmu untuk menyuguhkan minuman kepadaku,” tukas Alan sambil meraih gelas dan meneguknya.
“Maaf, Pak. Seperti yang sudah saya katakan, kebiasaan lama saya pada Pak Naga sulit dihilangkan. Oh iya, Nona eh Ibu Anna, saya akan buatkan minum juga untuk Ibu Anna.” Gadis itu sepertinya melupakan keberadaan Anna hingga dia hanya membuatkan minuman untuk Alan saja.
“Kamu adalah sekretaris di sini, seharusnya OB yang membawakan minum untukmu,” ucap Anna.
“Bagi saya bukan masalah, saya memang terbiasa melakukan hal ini pada bos saya yang lama. Baik, biar saya buatkan minuman untuk Anda, anda mau minum apa, Bu?” Alta tersenyum ramah kepada Anna.
“Nggak usah, Alta. Aku sedang nggak berminat untuk minum.”
“Baik, Bu.”
Alan tampak serius memperhatikan laporan yang ada di hadapannya. keningnya bertaut, terdengar hembusan nafas berat dari mulutnya.
TBC