
Langkah Alan tergesa-gesa di sepanjang koridor rumah sakit. Demi memenuhi rasa tak sabar, detik berikutnya ia rela berlari sekencang-kencangnya seraya melonggarkan dasinya yang rasanya mencekik leher. Dia panik bukan main.
“Anna, plis, kumohon jangan melahirkan dulu!” bisik Alan entah bicara dengan siapa, hingga orang yang dia lalui menoleh keheranan ke arahnya.
Alan tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk menyaksikan secara langsung proses persalinan istrinya. Meskipun semalaman ia tidak tidur karena gelisah memikirkan kelahiran anaknya bahkan paginya sempat bekerja, namun Alan tidak merasa letih apalagi mengantuk. Beruntung, Wiliam begitu pengertian hingga membebastugaskan Alan dari kegiatan terbang ke luar negeri selama Anna hamil besar.
Alan sedang panik, cemas, resah, namun juga kebahagiaannya meledak-ledak.
“Anna sayang!” Alan menerobos masuk ke ruang rawat VVIP, dimana Anna akan melahirkan.
Alan semakin panik melihat ekspresi Anna yang berbaring miring, mulutnya terus mengeluarkan rintihan, dahi istrinya itu terlipat dan matanya terpejam sementara satu tangannya memegangi permukaan perut, sesekali mengelus-elusnya.
Alan memegang tangan Anna dan tangan lainnya mengelus kening istrinya itu.
Merasakan elusan hangat di kening, mata Anna terbuka menatap wajah Alan yang sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Kemudian dengan gerakan kilat, Anna menepis tangan Alan di keningnya.
“Maaf aku telat datang, seharusnya aku nggak pergi ninggalin kamu.” Alan menyesal.
Sejak kemarin, Anna mengaku mulas dan mengira kalau ia akan melahirkan. Tapi kenyataannya waktu kelahiran masih jauh. Dan Alan mengira hal serupa itu yang terjadi. Dia pikir, tidak akan secepat itu Anna dibawa ke rumah sakit.
“Kamu nyebelin, Mas.” Anna memalingkan wajah. “Udah dibilangin jangan tinggalin aku, masih aja ninggalin aku di saat kondisi begini.”
“Maaf. Aku nggak mengira kalau bakalan secepat ini.” Alan kembali mengelus kening Anna lembut lalu mengecupnya berkali-kali.
“Masak sih aku ditunggin sama Andra lahirannya, nggak lucu tauk.”
“Aku nggak mau ngabarin keluargamu ataupun keluargaku karena aku maunya cuma kamu yang nungguin aku.”
“Maaf.”
Hanya kata maaf yang terus terucap dari mulut Alan.
Ya ampun, Anna tidak memiliki waktu dan tenaga untuk mengomeli suaminya. Awas saja, nanti kalau bayinya sudah lahir, dia akan mengomeli Alan habis-habisan. Itu pun kalau dia berhasil melewati masa sulit mempertaruhkan nyawanya di ranjang persalinan. Dan lagi, kalau dia masih ingat ngambek. Anna kembali fokus dengan rasa ngilu dan nyeri akibat kontraksi yang kembali muncul. Pinggangnya rasanya sangat sakit.
“Anna, aku ada di sisimu. Aku menungguimu.”
Dalam hati Anna bersyukur, beruntung memiliki suami yang sangat perhatian. Diperhatikannya tangan Alan yang mengelus-elus perutnya.
“Aku lemes, Mas,” lirih Anna menahan rasa nyeri yang begitu hebatnya. Suara Anna terdengar sangat lemah, bahkan lebih mirip dengan bisikan.
“Tenang ya, sayang. Sabar. Kamu pasti kuat.” Alan berusaha memberi kekuatan dengan mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat. Meski sesungguhnya Alan juga panik, namun ia berusaha meredam kepanikannya itu dengan menampilkan ekspresi tetap tenang. Namanya juga Alan, paling bisa menutupi segala yang ia rasakan. Melihat Anna merintih dan menangis, Alan merasa kalau keadaan yang Anna alami sangat seram dan menakutkan.
Alan mengusap keringat di kening Anna.
“Sakit pinggangku, Mas. Sakit banget.” Anna meremas jari-jari Alan sangat kuat, hingga Alan nyengir menahan betapa pedih kuku Anna yang tanpa sadar mencakar-cakar tangannya.
TBC