Holy Marriage

Holy Marriage
Tangisan Alan



Alan tahu, itulah cara Anna menahan rasa sakitnya. Jika memang rasa sakit akan menghilang dengan cara mencakar seluruh tubuh Alan, maka Alan rela dicakar sampai hancur badannya. Alan sungguh rela. Tapi kenyataannya tidak bisa, Alan ikut meringis melihat Anna yang meringis dan meneteskan air mata, sesekali mengaduh.


Seorang suster masuk dan mengecek kondisi Anna.


“Baru pembukaan tiga. Pembukaan sepuluh baru bisa lahiran. Sabar ya, Bu!” ucap suster kemudian keluar lagi.


“Hah?” Anna memekik hebat.


Apa-apaan ini? Ini saja sakitnya sudah luar biasa. Masak sih segini sakitnya dibilang masih pembukaan tiga? Padahal sudah sangat lama Anna merasa kesakitan sejak tadi. Jadi yang selama itu baru pembukaan tiga? Ya Tuhan. Lalu ia harus menunggu berapa lama untuk mencapai pembukaan sepuluh yang Anna sendiri tidak mengerti itu apa?


Anna tak henti melafaz zikir dalam hati. Apapun yang terjadi, Anna pasrah pada Allah.


Alan sesungguhnya tidak tega melihat Anna dalam kondisi seperti sekarang. Jika bisa digantikan, Alan memilih untuk menggantikan posisi Anna sekarang. Ternyata begini perjuangan seorang Ibu melahirkan anaknya ke dunia. bBetapa berat dan berjasanya seorang Ibu. Pantas seorang Ibu menyandang surga di telapak kakinya. Pantas Rosul mengatakan tiga kali untuk seorang Ibu dihormati anaknya, dan ayah hanya kebagian satu kali saja. Inilah salah satu alasannya. Setelah seorang Ibu membawa anaknya dalam kandungan selama kurang lebih sembilan bulan lamanya, proses melahirkan anak juga butuh perjuangan yang sangat dahsyat.


Anna menghantikan kegiatan tarik napas dan menghembuskannya pelan ketika merasakan setitik air jatuh di keningnya. Ia mendongakkan wajah dan melihat Alan menangis.


Seketika itu cengiran kesakitan dan tangisan Anna terhenti. Ia memperhatikan Alan yang terlihat asik menangis.


“Mas, kok malah nangis, sih? Ini aku yang mau ngelahirin, malah kamu yang mewek nggak jelas?”


Alan cepat-cepat menghapus air matanya dan menatap Anna agak canggung.


“Kamu akhir-akhir ini jadi cengeng, dikit-dikit nangis. Jangan nangis lagi! Jelek tuh mewek-mewek,” celetuk Anna.


Anna benar, Alan sudah dua kali menangis.


“Kamu di sampingku begini aja udah cukup, kok. Aku seneng. Udah, jangan mewek lagi, jangan cengeng.”


Alan bingung jadinya, seharusnya dia yang menenangkan Anna, lalu kenapa sekarang malah sebaliknya?


“Aduuuh Mas, sakitnya dateng lagi. Adaaaw!” jerit Anna tiba-tiba sambil memegangi pinggang, kelojotan di atas bed, mengagetkan Alan dan beberapa suster yang masuk.


“Sabar, sayang! Sabar! Ya Allah, begini amat perempuan mau ngelahirin. Nggak tega, Ya Allah,” ucap Alan entah pada siapa.


Ketika akhirnya bed Anna didorong menuju ruang persalinan, Alan mengikutinya dan menunggui hingga saatnya Anna disuruh mengejan.


Di tengah perjuangan Anna yang histeris menjerit, menangis dan mengejan, Alan menciumi wajah Anna, memeluk wajah itu sambil membisikkan kalimat-kalimat suci, tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Alan sampai menangis saat mengucapkannya. Air matanya berbaur dengan keringat dan air mata Anna.


Anna tidak menyadari tangisan suaminya karena sedang konsentrasi dengan proses persalinannya yang benar-benar menyita tenaga dan air matanya. Selang oksigen yang ada di bawah hidungnya terasa sangat mengganggu. Anna ingin menyingkirkannya jika tidak ingat ia sedang butuh oksigen.


TBC


Yuuk, baca PACARKU DOSEN.


Sambil nunggu cerita ini update.


Klik profilku dan pilih judul itu, atau cari aja judul itu di pencarian.


Yg udah baca pasti tau banget keseruannya, buseeet gilaaaa