Holy Marriage

Holy Marriage
Kikuk



Pandangan Joli mengikuti arah tubuh Alan yang bergerak memasuki ruangan hingga hilang dibalik pintu yang tertutup. Kemudian ia berdiri di jarak dua meter dari Anna, lubang pintu menjadi pemisah antara mereka.


“Patah entar leher lo ngeliatin cowok sampe keblinger gitu,” ucap Anna dengan senyum.


Joli tidak menjawab, hanya menatap sengak.


“Mendingan lo obatin dulu hidung lo, deh. Keluar darah, tuh,” ucap Anna yang melihat darah segar mengalir dari lubang hidung Joli.


Sontak Joli menyentuh bawah hidungnya dan telapak tangannya menyentuh cairan. Ia langsung berlari menghambur menuju UKS.


Anna menyandarkan tubuh di dinding dekat pintu, cemas menunggu kabar dari Alan.


Lima belas menit kemudian, Alan keluar bersama dengan kedua orang tua Joli.


Anna menatap Alan dan kedua orang tua Joli silih berganti. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati terhadap kedua orang tua Joli hingga membuat muka Joli menjadi lebam seperti sekarang, mengingat selama ini kedua orang tua Joli sudah sangat baik terhadapnya. Mereka memperlakukan Anna seperti anak sendiri. Dan sekarang Anna malah berkelahi dengan Joli.


“Anna, kalian kenapa bisa sampe berantem gini, Nak?” tanya Ibunya Joli sembari mendekati Anna dan menatap prihatin, menyesalkan kejadian itu. “Kalian kan temenan deket udah lama, kenapa jadi begini?”


Anna menggeleng. Tidak tahu harus bicara apa. Mana mungkin ia tega mengatakan yang sebenarnya, biarlah orang tua Joli mengetahui kejadian itu dari mulut orang lain. Mereka pasti sudah mendengar kejadian yang sebenarnya dari Pak Firdaus.


“Nanti kalian saling maafan, ya!” lanjut Ibunya Joli.


Anna tersenyum menghargai. “Joli-nya ke UKS, Tan.”


Alan mendekati Anna sepeninggalan kedua orang tua Joli. Dengan kedua tangan yang terlipat di dada, bola matanya menyapu penampilan Anna.


“Kenapa ngeliatinnya gitu?” muka Anna memerah mendapat tatapan Alan yang rasanya sedang menilai-nilai dirinya.


“Ayo, pulang!” Alan balik badan. Anna mengikutinya menelusuri koridor.


Sepanjang berjalan, Anna melirik Alan yang berjalan di sisinya itu. Anna merasa sangat canggung. Ia bertanya-tanya apa yang sedang Alan pikirkan sekarang. Apakah Alan kesal atas perbuatannya itu? atau sebentar lagi Alan akan memarahinya?


Bel panjang berbunyi tepat pada saat Anna dan Alan sampai di ujung koridor.


“Anna, ini tasmu!” Arini yang berdiri di ujung koridor menyerahkan tas kepada Anna.


Anna menyambutnya kemudian mengucapkan terima kasih Arini sudah membawakan tasnya. Anak-anak kelas dua belas serentak menghambur keluar kelas, mereka menatap heran pada Anna yang beriringan dengan Alan. Ini bukan yang pertama kalinya menjadi pemandangan mereka.


Anna pamit pada Arini dan melenggang menuju mobil sport berwarna jingga yang bertengger di samping gedung sekolah. Alan membukakan pintu mobil untuk Anna, kemudian ia duduk di bagian kemudi.


Sontak kedekatan Anna dengan Alan menjadi sorotan anak-anak. Setahu anak-anak, Anna selama ini pacaran dengan Rafa. Setiap pulang dan pergi sekolah sering dijemput Rafa, sementara motor Anna dititipkan di rumah Joli. Kemudian Anna akan pulang ke rumah membawa motornya sendiri setelah Rafa mengantarnya sampai ke rumah Joli. Itulah yang selama ini Anna lakukan demi mengelabui Ayahnya supaya tidak ketahuan kalau ia pacaran. Gosip-gosip pun bertebaran di telinga anak-anak, menerka-nerka ada hubungan apa antara Alan dan Anna. Bukan hanya sekali Alan menjemput Anna ke sekolah.


TBC