
“Makanlah yang banyak supaya kamu sehat, sayang!” Alan menyantap Sushi dengan lahap. Netranya menatap wajah cantik nan menggemaskan di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Anna, wanita yang sudah sejak lama dia kagumi dan dia cintai.
Anna tersenyum tipis. Coba saja sejak tadi Alan begini, tentu Anna tidak perlu merasa waspada atas sikap Alan yang berubah aneh. “Memangnya kamu nggak takut istrimu ini menjadi gemuk?”
“Memangnya kenapa kalau gemuk?” Tanya Alan.
“Tentu aku nanti jadi jelek.”
“Jelek itu relatif,” jawab Alan sambil terus mengamati wajah Anna, membuat Anna yang sedang mengunyah makanan pun menjadi salah tingkah akibat tatapan Alan yang berbeda.
Detik ini, Anna semakin bingung dengan sikap Alan yang berubah-ubah. Sebentar manis, sebentar mesra, sebentar marah dan tiba-tiba cuek. Entahlah…
“Jadi, apakah menurutmu aku akan menjadi jelek kalau gendut?” tanya Anna.
“Pasti menjadi jelek di mata semua orang, kecuali aku. Meski kamu berubah menjadi segendut drum, pasti aku akan bilang kamu cantik.” Alan kemudian terkekeh.
“Kok, ketawa?”
“Anna, perasaan orang nggak akan berubah hanya karena fisik berubah.”
“Siapa bilang? Ada banyak suami nakal yang nggak selera pada istri karena bentuk fisik istri berubah. Kemudian mereka mencari wanita lain di luaran sana.” Anna membayangkan pria-pria berhidung belang hingga membuat kulit tubuhnya meremang.
“Jangan samakan aku dengan pria lain. Aku adalah Alan Wiliam,” tegas Alan. Detik berikutnya, Alan terkekeh lagi.
Anna mengernyit menatap tawa suaminya. “Kok, tertawa lagi? Apanya yang lucu?”
“Aku membayangkan kalau kamu gendut. Tubuhmu seperti balon, mukamu melebar, pipi tembem, lenganmu membesar, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan mana yang lengan dan mana yang betis.”
“Uuuugh… nyebelin!” Anna pura-pura cemberut.
Anna tidak berkomentar lagi, dia menyantap hidangan sambil sesekali melirik ke meja samping yang hanya berjarak beberapa meter saja dari mejanya. Dia melihat Azzam sudah mulai berulah. Bocah menggemaskan itu didudukkan di kursi dan merengek ingin turun dari kursi. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya dengan kuat, lalu menjerit keras, mengamuk dan menyerakkan makanan di meja.
Arni tampak membujuk-bujuk Azzam dengan berbagai kalimat ampuh, bahkan berkali-kali dia menunjukkan mainan kepada Azzam. Arni mengeluarkan mobil-mobilan, pesawat-pesawatan serta bola kesukaan Azzam dari dalam tas besar yang sengaja dia bawa sebagai antisipasi untuk membuat Azzam betah dengan situasi di restoran dengan memainkan mainannya. Tas besar yang dibawa Arni sudah seperti tas doraemon yang siap menyajikan barang yang diminta. Sayangnya Azzam tidak tertarik saat Arni memberikan benda-benda itu sebagai daya tarik untuk Azzam, bocah itu bahkan menampik dengan kuat mainan yang disodorkan ke arahnya.
“Mama.. mamama….” Pandangan Azzam terus tertuju ke arah Anna sambil memanggil-manggil mama meski panggilannya masih belum seberapa jelas.
Alan mengikuti arah pandang Anna. Dia menyaksikan betapa gaduhnya meja dimana Azzam dan Arni duduk.
“Lihatlah, Azzam ingin bersamaku. Aku bawa Azzam ke sini ya?” Tanya Anna penuh permohonan.
“Bawa saja dia kemari,” jawab Alan.
Anna meninggalkan meja makan. Azzam yang sejak tadi menggeliat di atas kursi dengan tubuh dipegangi terus oleh Arni itu pun akhirnya turun dari kursi, lalu terlepas.
Belum sempat Anna meraih tubuh Azzam, bocah itu sudah melangkah dengan cepat ke arah berlawanan. Dia salah arah. Gerak jalannya yang belum sempurna membuatnya terjatuh tepat di hadapan seorang pelayan yang membawa nampan berisi enam gelas jus. Sontak pelayan menghindari dengan gesit. Sayangnya pelayan itu salah bergerak hingga gelas di atas nampan pun bergoyang kemudian terjatuh ke lantai tanpa bisa diselamatkan. Suara pecahan beberapa gelas membuat situasi menjadi gaduh.
Azzam tidak menangis meski kepalanya sempat tertimpa salah satu gelas yang untung saja tidak pecah, bocah itu justru memainkan air jus yang berserak di lantai dengan tangannya sambil mengoceh. “Mamamammbbalalaatata…”
TBC
.
.
.