Holy Marriage

Holy Marriage
Gedeg



“Udahlah, Pa. Jangan terus-terusan hakimi anakmu,” ucap Laura ketika suaminya terlihat akan bicara dan meluapkan kemarahannya.


“Mau kemana?” tanya William ketika Alan berjalan menuju ke anak tangga.


“Menemui Anna.”


“Jangan temui dia jika hanya ingin membuatnya menangis. Sengaja Papa tidak memberitahukanmu soal ini supaya kamu sadar diri.” William menarik lengan Alan hingga langkah kaki Alan terhenti. “Papa tidak mau tahu alasan apapun yang membuatmu berbuat seburuk itu pada Anna. Intinya kamu adalah seorang suami, kamu yang harusnya melindungi istrimu. Ini malah sebaliknya, kamu terus-terusan menyakitinya. Kondisi Anna buruk saat kau turunkan di jalan. Dia menangis dan tubuhnya memucat. Belum sempat Papa turun dari mobil, dia menyentuh kepalanya dan sepertinya pandangannya kabur hingga tanpa sadar dengan kondisi sempoyongan, dia berjalan ke arah tengah jalan. Sampai akhirnya dia terserempet mobil lalu jatuh pingsan. Apa kau tahu dengan kejadian itu?”


Wajah Alan memucat mendengar penjelasan Papanya. Ia menghentakkannya tangan Papanya yang memegangi lengannya hingga terlepas, lalu berlari menuju ke kamar. Saat itu ia hanya ingin bertemu dengan Anna, tanpa perduli dengan apapun. Ia masuk kamar dan mendapati Anna terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Wajah Anna tampak memucat.


Clarita yang menunggui Anna sontak berdiri begitu Alan masuk dan menggantikan posisinya duduk di sisi ranjang.


“Anna, aku datang.” Alan mengusap kening Anna dengan lembut. “Bangun, sayang. Aku mencintaimu. Bangun, plis!” Alan menciumi punggung tangan Anna.


Tidak ada tanda-tanda Anna akan membuka mata. Anna tetap tidur dengan hembusan napas yang teratur. Sebenarnya Anna sudah terbangun sejak Alan mengusap keningnya. Tapi ia malas membuka mata. Hatinya terasa nyeri mendengar suara Alan. Salahkah jika Anna ingin membelenggu suami untuk memberinya hukuman?


Anna sedang kesal, kecewa dan ingin unjuk rasa. Terlalu sakit untuk menyambut Alan disaat kondisi hatinya sedang kacau-balau. Untung saja di dekatnya tidak ada martil. Kalau saja ada, ia takut akan khilaf mengetoki kepala Alan dengan benda keras itu. Ya ampun, sadis sekali pikirannya.


“Anna nggak pa-pa, kan?” Alan menoleh ke arah Clarita.


“Kak Anna lagi istirahat,” jawab Clarita.


“Kenapa Anna nggak dibawa ke rumah sakit?”


“Setelah keserempet mobil tadi, Kak Anna langsung dibawa ke rumah sakit sama Papa. Tapi setelah siuman, Kak Anna ngotot minta pulang dan Papa membawa Kak Anna pulang ke sini. Papa bilang, Papa nggak yakin Kak Anna akan baik-baik aja kalau di bawa pulang ke rumah Kak Alan.”


Segitunya pemikiran Wiliam terhadap Alan, sangat kritis. Ah, tapi Alan tidak perduli. Alan naik ke ranjang dan berbaring di sisi Anna. Alan menciumi wajah Anna tanpa perduli siapa yang melihat. Lengan kokoh Alan memeluk Anna dan memberi usapan ringan di bahu istrinya itu.


Anna secepatnya memalingkan wajah hingga kini yang terjangkau oleh pandangan mata Alan hanyalah sebagian pipi Anna saja.


“Kamu udah bangun?”


“Pulanglah sana! Pergilah!” Anna malas menatap wajah Alan.


“Jangan hukum aku seperti ini. Aku minta maaf. Aku janji nggak akan ninggalin kamu.”


“Bukannya kamu udah ninggalin aku di tengah jalan?” kata Anna sembari mengernyit, seperti menahan sesuatu.


Kata-kata itu membuat hati Alan terasa ngilu. Namun ia tetap memberikan pelukan sehangat mungkin.


“Anna, tatap aku!” Alan meraih dagu Anna dan memutarnya hingga menghadapnya. Namun dengan cepat Anna kembali memalingkan wajahnya.


“Nggak,” sahut Anna.


“Anna, lihat aku!”


“Nggak!”


“Anna!”


“Enggak!”


TBC