
Alan menghela napas memaklumi kemarahan Anna. Wajar saja Anna semarah itu. Ia sudah keterlaluan.
“Aku benci kamu. Aku nggak nyangka kamu bisa setega itu ke aku.” Air mata dari sudut kedua mata Anna merembes deras. “Apa kamu tau gimana perasaanku ketika kamu turunin di jalan? Aku sedih. Aku nangis. Aku terluka. Aku ingin pergi menjauh dari kamu. Kamu itu maunya dingertiin tapi nggak pernah mau ngertiin.”
“Anna, hei Anna, plis jangan menangis dan jangan benci aku.”
“Kamu bilang cinta dan sayang sama aku, tapi buktinya aku diperlakukan kayak gini. Aku kecewa. Aku kecewa. Kamu jahat, kejam, algojo, hitler, semuanya.” Anna menjambak rambut Alan tepat di atas ubun-ubun.
“Adududududuhh...” Kepala Alan mengikuti kemana arah tangan Anna menarik rambutnya.
Alan meringis merasakan kulit kepalanya yang pedih dan rambutnya terasa akan jebol, tapi ia tidak melawan. Mungkin hukuman itu akan membuat Anna memaafkannya. Clarita terkekeh melihat adegan itu.
“Iya, kamu boleh jebol rambutku, semua rambut di tubuhku kalau perlu. Tapi janji setelah itu jangan marah lagi. Aku kan suamimu.”
“Iya, suami nyebelin dan kejam.”
“Hei, kamu memperlakukan suami kayak gini itu dosa, loh.” Alan menakut-nakuti supaya Anna merasa terancam, sekujur tubuhnya sudah meremang merasakan jambakan yang luar biasa dahsyatnya. Seumur hidup, baru kali ini Alan dijambak wanita.
“Iya, dosa. Suami memperlakukan istri kayak yang kamu lakukan ke aku itu juga dosa.”
“Plis, Anna. Udah, dong! Sakit!”
“Biarin!”
“Anna, sayang!”
“Biarin!”
“Aku akan menciummu kalau kamu nggak mau berenti.”
Ancaman itu berhasil membuat Anna melepaskan tangannya. Mana mungkin ia membiarkan Alan menciumnya di depan Clarita. Itu tidak baik untuk perkembangan jiwa bocah seumuran Clarita. Alan kembali memeluk Anna dan memejamkan mata sembari menyungging senyum.
Clarita yang sejak tadi ada di sana, senyum-senyum melihat reaksi kedua insan di hadapannya. Ia bukannya pergi, malah menjadi penonton. Tidak perlu ke bioskop untuk bisa menonton adegan romantisan yang bikin menangis haru dan baper-baperan, di depan mata pun ia sudah bisa baper.
Sikap Alan yang seakan-akan menunjukkan betapa ia perduli pada Anna dengan menghujani kecupan, disambut dengan sikap Anna yang merajuk dan mengancam, terlihat begitu manis di mata Clarita. Mereka so sweet. Dan jelas, mereka sebenarnya saling membutuhkan.
“Anna, ...”
Belum sempat Alan melanjutkan kata-katanya, terdengar suara rintihan dari mulut Anna.
“Arrgh...”
Alan dan Clarita serentak menatap wajah Anna.
“Anna, kamu kenapa?” Alan bangkit dan menyentuh lengan Anna, panik. Bola matanya liar mengamati sekujur tubuh Anna yang separuhnya terbalut selimut. “Apanya yang sakit? Mana yang sakit?”
“Clarita... ini...” Suara Anna terbata.
Alan semakin bingung karena Anna tidak menyebut namanya, malah nama Clarita yang disebut seperti hendak meminta bantuan pada Clarita.
Anna kembali merintih sembari menyentuh perut. Rintihan Anna yang melengking membuat jantung Alan berpacu kencang dihantui kecemasan. Dengan sigap, lengan kokoh Alan meraih selimut dan membuangnya ke sembarang arah hingga selimut teronggok di lantai. Begitu Alan mengangkat tubuh Anna, tampak bercak merah tertinggal di alas kasur. Alan berlari seperti orang kesetanan membopong tubuh Anna.
William, Laura dan Stefi terkejut melihat Alan berlari melintasi ruangan dimana mereka sedang berbincang membahas Anna. Alan tidak memperdulikan suara riuh Mama dan Papanya yang memanggil-manggil namanya menanyakan apa yang terjadi pada Anna.
Dalam gendongan hangat Alan, Anna merasakan cairan mengalir melewati kedua betisnya.
***
TBC.