
Anna melangkah keluar. Seharusnya Anna tidak bertujuan ke lantai 13, justru Alan yang memiliki tujuan ke sana, tapi kenapa malah Anna yang keluar lift sekarang? Anna menuju ke lift sebelah, tepatnya lift yang dipergunakan oleh umum. Beberapa orang yang berpapasan Anna di sekitar sana membungkukkan tubuh tanda hormat pada Anna. Beberapa orang lainnya yang berada di kejauhan terlihat memperhatikan interaksi antara Anna dan Alan dengan pandangan menghakimi, mereka merasa aneh melihat Anna yang keluar lift dengan raut cemberut meninggalkan Alan yang masih berdiri di dalam lift dengan ekspresi tenang.
Anna memasuki lift lain dan memilih turun ke lantai bawah. Pertemuannya dengan Alan di dalam lift benar-benar telah menyita waktunya, seharusnya dia sudah sampai ke lantai basement sejak tadi.
Anna melangkah keluar lift sesaat pintu lift terbuka. Suasana lantai satu sangat sepi, mungkin karena seluruh pegawai di kantor sedang disibukkan dengan pekerjaan dan berada di ruangan masing-masing. Hanya ada sesosok manusia yang dia lintasi di dekat pintu lift.
“Pulanglah dan nikmati hidupmu!”
Suara itu bersumber dari sosok yang dilintasi oleh Anna. Dan Anna tahu kalau itu adalah suara Alan. Pria itu ternyata sudah lebih dulu sampai ke lantai bawah sebelum dirinya.
Anna menoleh ke sumber suara, menatap Alan yang berdiri dengan tenang di posisi semula. Pria itu seakan terlihat tanpa masalah saat itu.
“Aku sungguh nggak mengerti dengan jalan pikiranmu! Kamu bukan Alan yang kukenal.” Anna berpaling kemudian berlalu pergi. Seharusnya dia menangis saat itu, tapi dia menahan sesak di dada, kemudian tangisnya pecah saat sudah berada di dalam mobil.
Dia tidak mengerti kenapa Alan secepat itu berubah. Dengan ringannya Alan mengatakan kalau dia bosan dengan kehidupannya dan menginginkan kehidupan yang berbeda. Anna mungkin tidak akan merasa sesakit itu jika sejak awal Alan memperlihatkan sikap buruk seperti sekarang, tapi bukan itu yang lan lakukan. Awalnya Anna merasakan kasih sayang yang berlebihan dari Alan, lalu pria itu tiba-tiba berubah menjadi tak peduli sekarang. Ada apa dengan Alan? Benarkah secepat itu dia berubah?
Anna akhirnya menjalankan mobil menuju ke rumah Angel, kakaknya. Dia langsung menubruk dan memeluk Angel sesaat setelah kakaknya itu membuka pintu.
Seketika, Angel terkejut melihat reaksi adiknya yang aneh. Datang-datang langsung memeluk. Angel tersenyum dan mengelus punggung adiknya.
“Loh, Anna, kamu kok menangis? Ada apa?” tanya Angel saat merasakan getaran pada punggung adiknya. Fix, adiknya sedang menangis sekarang.
Ya, Anna tidak kuat menahan tangis saat melihat wajah kakaknya. Tangisan itu tumpah begitu saja tanpa ijin, dia tidak kuasa membendungnya lagi.
Angel diam saja. Dia membiarkan adiknya menumpahkan tangis, membiarkan beban adiknya terlepas melalui tangisan. Sebab dia yakin, menangis adalah salah satu wujud wanita dalam membangun kekuatan dan melepas beban.
Setelah tangis Anna sedikit berkurang, Angel membimbing Anna masuk ke dalam dan duduk di sofa. Angel mengambil air mineral dan memberikannya kepada Anna.
Anna meneguk air minum tersebut sampai habis. Angel tertegun melihat isi gelas yang langsung kosong hanya dalam sekejap saja, Anna ingin menenangkan diri dengan air minum atau sedang kehausan ya?
“Anna, kamu sedang ada masalah? Ada apa, Dik?” Angel mengusap pelan punggung tangan adiknya.
“Kak, Anna nggak tahu mesti mulai dari mana.” Anna mengusap air mata di pipinya dengan jemari mungilnya. Dia sudah tidak menangis lagi.
“Mulai aja dari topik apa yang membuat Anna menangis.”
Anna menghela nafas, mengingat sikap Alan membuat ddanya menjadi sesak. Seharusnya dia tidak perlu menangisi sikap Alan yang nyeleneh itu, seharusnya dia tidak perlu menangisi perubahan sikap Alan yang mendadak aneh. Sebab perbuatan Alan itu tidak pantas untuk ditangisi. Terlalu mahal air matanya jika dibuang untuk hal seperti itu. mendingan ditampung untuk mengelap kaca atau apalah.
TBC
.
.
.