Holy Marriage

Holy Marriage
Bertemu Kembali



Seperti pagi itu, ia ingin jalan-jalan keluar, bosan di rumah sepanjang hari libur. William tidak ada di rumah. Laura jangan ditanya, wanita itu jarang ada di rumah. Clarita djemput teman-teman sekolahnya tadi. Dan Anna? Ia melenggang keluar berniat akan pergi pergi berbelanja ke mall. Dari pada naik taksi, Anna lebih memilih diantarin Pak supir. Anna mengambil ponsel dari dalam tas selempangannya untuk menghubungi supir.


“Anna, mau kemana?”


Anna menoleh dan mendapati Stefi berjalan ke arahnya.


“Mau ke mol,” jawab Anna.


“Boleh aku ikut denganmu? Aku nggak ada jadwal apa-apa hari ini, tapi nggak tau harus kemana.”


“Tentu. Yuk!” Anna tersenyum riang. Kebetulan ia sedang butuh kendaraan dan Stefi menawarkan jasa yang dibutuhkan.


Stefi memasuki garasi. Anna naik ke mobil yang menghampirinya.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di mall. Anna dan Stefi berkeliling mencari barang yang bisa dibeli. Anna memborong banyak pakaian gamis kekinian yang memiliki pasangan dengan jilbabnya. Mereka sempat makan es krim, makan burger, dan terakhir minum kopi di kafe.


Anna mengulang pandangannya saat sepintas melihat sosok yang sepertinya ia kenal. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita menenteng beberapa paper bag melenggang di tengah keramaian.


Anna yang sedang duduk di salah satu meja kafe, berlari keluar demi memastikan apa yang ia lihat. Dilihat dari postur tubuh, gerak jalannya, cara berpakaiannya, juga rambutnya, persis seperti Cintya. Anna berlari diantara keramaian mengejar sosok yang menurutnya adalah Cintya, tapi kehilangan jejak saat berbelok. Entah kemana arah wanita itu menghilang.


Anna berusaha mengingat-ingat sosok yang ia lihat tadi, ia sulit memastikan karena hanya kelihatan dari arah samping saja.


Bukankah Cintya sedang berbulan madu ke luar negeri bersama Alan? Lalu kenapa dia ada di sini? Pikir Anna bingung. Ia kembali ke meja kafe dan duduk ke kursi semula. Stefi sampai bingung melihat Anna yang lari ngibrit tanpa pamit.


“Kamu ngapain lari keluar? Ngejar apa?” tanya Stefi.


“Ah, enggak. Salah liat orang tadi. Kirain temen.”


“Temenmu kenapa kok sampe harus dikejar begitu? Ada hutang sama kamu?”


“Enggaklah. Kamu bisa aja.” Anna tertawa.


“Siapa tahu. Kok, ngejarnya sampe segitunya.”


“Heheee...”


***


Tidak ada tempat lain yang dituju Anna kecuali kamar. Tiga orang pembantu mengikutinya sambil membawa perbelanjaan lalu meletakkannya di lantai kamar Anna.


“Ini tarok mana, Non?” tanya Rina.


“Udah, situ aja. Entar biar kususun sendiri. Kalian pergilah!”


Tiga pembantu berlalu pergi setelah Anna memerintah. Anna menatap ke setiap sisi kamar. Ruangan menjadi lebih padat dengan barang-barang miliknya. Jika Alan kembali nanti, pasti Alan akan mengira salah masuk kamar, mengingat isi kamar benar-benar sudah berubah.


Anna tersenyum geleng-geleng kepala. Ia membalikkan badan dan terkejut saat melihat sosok pria berdiri di dekatnya, kini tepat di hadapannya. Entah sejak kapan pria itu ada di sana.


“Mas Alan?” Entah kenapa perasaan Anna gembira bertemu suaminya. Dan ia mengernyitkan hidung saat mencium aroma wangi yang tiba-tiba merasuk ke rongga pernapasannya. Cepat-cepat ia melepas pelukan. Yang namanya kangen memang tidak bisa dibohongi, reflek saja tubuhnya maju dan memeluk Alan tanpa sadar.


Alan menatap Anna dengan senyum.


Ya ampun, senyuman yang dipadu dengan tatapan itu, sangat menawan. Akhirnya Anna bertemu Alan lagi setelah berminggu-minggu hanya bisa mendengar suaranya saja. Rasanya berbeda, seperti baru kenal.


TBC