Holy Marriage

Holy Marriage
Penjual Gadis?



Alan sedikit kikuk saat dua orang wanita yang baru saja ganti pakaian di tirai sebelah melintas dan menatap Alan heran. Pasti dua gadis itu bertanya-tanya, sedang apa dia di sana?


Alan berjalan keluar. Lagi-lagi menunggu di balik pintu yang tertutup. Ia menoleh saat Anna sudah berdiri di sisinya. Sekilas ia menatap gaun yang melekat indah di tubuh mungil gadis itu, perfect. Tidak salah ia memilihkan ukuran itu untuk Anna.


Setelah itu Alan membawa Anna ke salon. Alan meminta supaya Anna dirias hingga kesannya tampak lebih dewasa. Tak lupa, Alan juga mengganti sepatu Anna dengan sendal high heel supaya tubuh Anna yang jauh lebih pendek bisa mengimbangi ketinggian tubuh Alan.


“Aku dibikin kayak gini bukan karena mau dikirim ke Om-om, kan?” tanya Anna membuat Alan tersenyum.


Sebenarnya Alan hampir saja memuji kecantikan Anna yang kini berdiri di hadapannya dengan penampilan seperti disulap menjadi ratu sejagat, tapi pertanyaan Anna membuat Alan hanya bisa mengulum senyum dan melupakan kata-kata yang seharusnya ia ucapkan.


Garis tegas berwarna kecokelatan tampak memukau menghias Alis Anna, sekeliling matanya juga digais menggunakan eye liner, kelopak matanya berwarna merah muda, senada dengan pipi, lipstiknya sedikit merah. Sempurna, Anna terlihat sedikit lebih dewasa dengan riasannya kini.


Anna tertegun menatap senyuman yang terukir di wajah Alan, baru kali pertama ia melihat senyuman itu, biasanya muka Alan tegang mulu. Pria itu terlihat semakin tampan disaat tersenyum.


“Apa aku kelihatan seperti penjual gadis?” tanya Alan sembari mendekati Anna yang berdiri di dekat mobil. “Aku publik figur, jangan lupakan itu.”


Anna tertawa geli. Kenapa pertanyaan tadi bisa sampai terlintas di kepalanya?


“Ayo, masuk!”


Lagi, Alan membukakan pintu mobil untuk Anna. Anna kerap merasa bangga setiap kali Alan memperlakukannya begitu. Segera Anna menuruti perintah masuk ke mobil. Ia menggigit bibir bawah saat sadar belum melakukan satu kegiatan yang rutin ia lakukan, selpi. Kenapa ia tidak selpi dulu tadi sebelum keluar dari salon?


Cekrek. Cekrek. Dengan berbagai gaya, Anna menjepret wajahnya. Tiba-tiba matanya membelalak saat melihat wajah Alan sudah ada di belakangnya melalui kamera ponselnya. Pria itu tengah menatap Anna. Entah sejak kapan Alan sudah duduk di sana. Tanpa sengaja jempol Anna menyentuh tombol tengah membuat kamera kembali menangkap pemandangan di depan kamera.


Dengan gerakan kaku, Anna menurunkan ponsel dan kembali memasukkan ke tas.


Alan tidak mengomentari tingkah Anna. Ia menjalankan mobil dan membiarkan Anna merasa gugup sendiri.


Sepanjang perjalanan keduanya membisu. Hanya suara halus mesin mobil yang terdengar.


“Kita akan berada di sebuah party. Jaga sikap! Tampilah dengan feminim dan anggun,” tukas Alan setelah jeda lama.


“Anggun yang gimana maksudnya?”


“Jangan tertawa ngakak, jangan makan dengan mulut lebar, bicara yang sopan. Jangan bertingkah macam-macam. Cukup ikuti aku, banyak senyum, dan bicaralah seperlunya! Paham?” ucap Alan saat mobil berhenti di depan sebuah gedung bertingkat.


Anna mengangguk meski tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia kini merasa menjadi seperti boneka yang harus menurut oleh kendali si empunya.


“Common. Kita udah terlambat cukup lama. Tinggalkan tasmu di mobil, jangan dibawa!”


TBC