
Tujuan membentuk rumah tangga adalah untuk mencari kebahagiaan, lalu buat apa mereka menikah jika akhirnya hanya ketidaknyamanan yang ada?
Anna harus mengesampingkan ego demi kebahagiaan yang sama-sama akan mereka rasakan.
Begitu sampai di rumah nanti, ia berniat akan memeluk Alan dari belakang. Kemudian mengungkapkan kata-kata rayuan yang sudah dikumpulkan dalam memori kepala. Ia juga akan meyakinkan Alan bahwa cintanya hanya untuk Alan seorang.
Dan Rafa? Rugi jika ia masih memikirkan Rafa.
Huh, pokoknya Anna sudah tidak sabar ingin mengungkapkan semua yang ia rasakan dengan bahasa kasih sayang yang pastinya akan membuat Alan berbunga-bunga.
“Bilang ke Ayah, aku pulang ya, Mbok!” pesan Anna pada Bik Rusni, tetangga Anna yang dijawab dengan anggukan kepala.
Anna berjalan keluar dan terbengong saat melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah. Tak lain mobil milik Alan.
Wow... Ia berniat akan memberi Alan kejutan, tapi malah ia yang duluan terkejut.
Alan menjemputnya? Apa itu tidak salah? Muka Anna langsung merona merah. Jantungnya pun berdegup kencang. Kedatangan Alan membuat dunianya yang suram berubah menjadi cerah.
Anna berjalan dengan kaki sedikit pincang mendekati mobil Alan. Sesaat ia terdiam melihat Alan turun dari mobil.
“Kamu menjemputku?” tanya Anna, sumringah. Kebahagiaannya tidak bisa disembunyikan lagi.
“Masuklah!” ucap Alan yang kemudian kembali masuk ke mobil.
Anna menggigit bibir bawah menyadari sikap Alan yang masih dingin. Bahkan ekspresi wajah Alan masih tampak kaku, tatapannya dingin dan tanpa senyum.
Anna memasuki mobil dan duduk di sisi Alan.
Mobil berputar meninggalkan halaman rumah.
Anna cepat-cepat membatalkan taksi online yang dipesan. Setelah urusannya dengan ponsel selesai, ia menoleh ke wajah Alan yang konsentrasi menyetir. Perasaan Anna yang tadinya bahagia, berangsur memudar dan berganti dengan kegundahan melihat sikap Alan yang dingin.
“Mas Alan...”
Belum sempat Anna meneruskan ucapannya, Alan sudah duluan memotong.
“Ayahmu tadi meneleponku, beliau menanyakan seberapa banyak kesibukanku sampai tidak bisa melihatmu. Artinya beliau menyuruhku untuk melihatmu. Jadi ya udah, aku berkunjung.”
Jantung Anna terasa seperti dipompa mendengar kata-kata Alan. Artinya Alan sedang menunjukkan bahwa sebenarnya ia terpaksa menemui Anna karena merasa diperintah oleh mertuanya.
Iris mata Alan sekilas melirik Anna demi dapat menangkap ekspresi wajah istrinya.
“Udah dong marahannya,” rengek Anna berusaha berdamai.
“Aku nggak sedang marah.”
“Itu, kamu merengut terus. Ngomong pun sepatah dua patah kata doang. Antara kamu marah atau enggak itu beda.”
Alan diam saja.
“Kenapa sih kita mesti kayak gini? Mau sampai kapan hubungan kita nggak nyaman gini? Aku ingin jadi istri yang baik untukmu, aku ingin kita hidup bahagia. Aku ingat kamu bersedia memulai lembaran baru bersamaku. Plis, jangan jadikan masalah yang kemarin sebagai alasan untukmu bisa dekat dengan Cintya.”
Alan masih diam. Pandangannya lurus ke depan.
“Mas Alan!”
“Seharusnya kamu nggak pergi ninggalin rumah. Apalagi kamu pergi tanpa ijin terlebih dahulu sama suami. Aku yakin kamu paham persoalan yang begitu.”
Anna mendengus dan menunduk. Alan malah memulai kasus baru. Bagaimana mereka bisa baikan jika harus mengulas percikan masalah yang timbul akibat masalah awal?
TBC