
Sepertinya gelora cinta yang Alan rasakan terhadap Anna membuat pandangannya menjadi salah. Disaat ingin pelepasan, hanya Anna yang seakan-akan ia pandang.
Cintya berusaha membuat Alan lumpuh dengan ciumannya. Hingga akhirnya Alan membalas ciuman Cintya dan merengkuh gadis yang sedang menangis itu dengan dekapan erat. Alan membalas adegan panas itu. Namun ditengah permainan, Alan tersadar kalau wanita yang sedang bercinta dengannya bukanlah Anna melalui aroma tubuh yang menyengat hidungnya. Ia pun menghentikannya kemudian berlalu pergi meninggalkan Cintya sebelum ia sempat menyelesaikan semuanya.
Anna tercekat mendengar uraian cerita yang Reno sampaikan.
“Kejadian buruk itu bukan atas kehendak Alan. Mungkin dibalik semua ini ada permainan Cintya. Tapi percayalah, Alan Cuma cinta sama lo. Saat ini dia sedang butuh lo, temui dia. Lo itu motivasi buat dia.”
Ya Tuhan. Leher Anna kian tercekat.
“Alan ditusuk oleh orang-orang yang nggak dikenal.”
***
Mata Anna berair menatap tubuh yang terbujur tak berdaya di atas bed, selang infuse bergelantungan, separuh wajah Alan tertutup dengan alat bantu oksigen.
Anna mengusap sepetak kaca tempatnya bisa menjangkau pemandangan di dalam kamar. Ya Tuhan, Anna tidak menyangka jika keegoisannya meninggalkan Alan akan berbuah seburuk itu. Seharusnya Anna lebih mengedepankan kemanusiaan dari pada ego, tapi entah kenapa untuk sesaat ia bermain dengan pikiran kotor yang membuatnya ingin balas dendam atas rasa sakit yang dia alami.
Penyesalan datangnya selalu belakangan, tidak ada gunanya Anna meratapi keadaan. Alan hanya membutuhkan doa.
“Anna!”
Suara dari belakang membuat Anna hingga Anna menoleh ke sumber suara dan mendapati Wiliam yang sejak tadi memperhatikannya, kini berjalan mendekatinya.
Wiliam menatap syahdu menantunya. Tidak salah jika semua orang mengatakan Wiliam adalah mertua yang sangat perhatian pada menantu. Ia begitu peka terhadap Anna.
“Pisau itu menggores jantung Alan. Alan baru saja selesai dioperasi. Pelakunya sedang dalam pengejaran polisi. Kamu yang tabah, pasti kamu shock atas kejadian ini. Tapi ingat, kandunganmu juga harus dijaga, jangan sampai kejadian ini menguras pikiranmu,” tutur William bijak.
Anna meremas jemari tangannya merasakan telapak tangannya yang mendadak dingin seperti es. Andai saja William tahu penyebab Alan terbaring di rumah sakit, masihkah beliau menganggap Anna sedang shock?
“Sudah sejak tadi kami menghubungimu tapi ponselmu mati. Ponsel Herlambang juga tidak bisa dihubungi,” lanjut William.
“Aku terlambat mengetahui kejadian ini, Pa.”
“Tidak, Nak. Alan pasti merasakan kehadiranmu. Kamu adalah wanita yang dia cintai sejak dulu, bahkan sejak kamu masih remaja.”
Anna tergugu. Apa yang William ucapkan sama persis dengan yang Reno katakan.
“Sungguh? Benarkah Alan udah mengenalku sejak dulu?”
“Pernikahan kalian terjadi karena keinginan Alan. Sudah sejak lama Alan menginginkanmumu,” lanjut Wiliam yang disimak dengan seksama oleh Anna. “Dulu, ketika kamu masih berusia dua belas tahun, Papa sering datang ke rumahmu, membahas berbagai hal bisnis dengan Ayahmu. Untuk mengurus bisnis, Papa sering mengajak Alan agar dia bisa belajar. Waktu itu usia Alan masih dua puluh tiga tahun. Tapi kamu tahu apa yang terjadi?” Wiliam tersenyum sebelum melanjutkan. Ia membuka tutup botol minuman yang sejak tadi ia bawa, lalu meneguknya hingga habis. Rupanya Wiliam kehausan. Ia kembali menatap Anna yang mengerutkan dahi menunggu kelanjutan ceritanya. “Alan malah lebih suka memperhatikanmu yang saat itu masih bermain boneka bersama Angel, kakakmu. Dia menyukaimu sejak itu.”
Berarti apa yang Reno katakan adalah benar.
TBC