Holy Marriage

Holy Marriage
Gengsi



Sejurus pandangan di ruangan utama menatap Alan yang melenggang dengan muka datar.


“Kak Alan, mana Kak Annanya?” seru Clarita polos. Rambutnya yang diikat dua bergoyang seiring dengan kepalanya yang bergerak-gerak.


Sebenarnya Alan ingin langsung masuk kamar tanpa harus menjelaskan perkara yang terjadi pada semua orang, tapi sorot mata penuh tanya di hadapannya membuatnya merasa harus bicara.


“Alan, kamu ini bagaimana? Anna jelas-jelas tadi sudah ikut denganmu, tapi kok bisa tidak sampai ke sini?” tanya Herlambang dengan dahi bertaut. “Apa yang terjadi?”


“Jadi sekarang Anna-nya dimana?” tanya nenek Alan.


“Kalian berantem?” sahut yang lain.


Alan frustasi dengan pertanyaan bertubi-tubi, kepalanya mulai berat.


“Anna nggak enak badan, dia harus kuantar pulang.” Alan mengesah, terpaksa berbohong.


“Oooh...” Serentak mereka menjawab seperti paduan suara.


“Semuanya silahkan makan malam, maaf aku nggak bisa ikut. Aku harus istirahat.” Alan sekilas mengedarkan pandangan ke wajah-wajah yang hampir memenuhi ruangan, terlihat raut kecewa di wajah mereka. Ya, tentu saja mkecewa atas ketidakhadiran Anna. Tujuan diadakan dinner adalah untuk berkenalan dengan Anna, tapi acara inti justru gagal total. Lalu harus bagaimana lagi, Alan tidak dapat akal untuk mengatasi situasi.


Alan berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Ia bertemu dengan supirnya tepat di depan pintu kamar. Supirnya itu melewati pintu samping sesuai perintah Alan.


“Ini mie ayamnya, Tuan.” Supir menyerahkan dua bungkus mie ayam dan disambut oleh Alan.


Alan masuk ke kamar. Ia menelepon Rina, pembantunya untuk mengantar mangkuk dan sendok serta segelas air mineral. Tak lama Rina datang mengantar yang dipesan. Alan mengunci pintu kamar sesaat setelah Rina pergi. Ia menuang mie ayam ke mangkuk. Air liurnya sudah duluan menggelitik sebelum mencicipinya. Aroma dan penampilan mie tersebut benar-benar membuat nafsu makannya naik. Ia terdiam sejenak, membuang rasa ilfil akan makanan pinggiran jalan. Akhirnya aroma sedap yang menyeruak ke hidungnya mengalahkan ilfil yang sejak dulu merajai.


Alan tersenyum setelah melahap mie. Benar-benar lezat. Antara gurih, pedas, manis dan enak, terasa pas lidah. Ia tidak perlu terburu-buru menghabiskan mie ayam tersebut, sebab ia sudah menjamin situasi aman dengan mengunci pintu. Andai ada yang memergokinya, pasti mereka akan mempertanyakan dari mana asal mie ayam tersebut. Higienis atau tidak. Dan bla bla...


Dua bungkus mie ayam pun ludes sekali duduk.


Dalam hati Alan bergumam, Mang Ucup akan kucari kemana kau pergi.


Usai makan dan meneguk air mineral. Alan mengganti pakaiannya dengan kaos putih dan celana selutut. Ia berbaring di ranjang king size dan merentangkan tangan untuk meregangkan otot-otot. Lama tidak fitnes, tubuhnya malah terasa kaku.


Denting ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia mengambil ponsel di sisinya dan melihat pesan masuk. Dari Anna.


Anna


Mie ayamku ketinggalan. Huhuuu...


Anna


Kalau kamu ga suka, jangan dibuang mie ayamnya


Kasih aja ke asisten rumah tanggamu, ya.


Anna


Kok ga bales pesanku?


Kamu udah tidur?


Cepet banget tidurnya?


Biasanya cowok tuh suka begadang.


Alan akhirnya menyerah dan membalas.


Alan


Mie ayam udah kukasih supir


Anna


Ooh... oke, yang penting ga dibuang


Rejeki ga boleh disia-siain


Makasih traktirannya.


Sering-sering ya. He hee


Alan tidak membalas, ia kembali memejamkan mata dan tidur.


***


TBC