
“Tapi aku udah pesen ke Andra supaya sampein ke kamu kalau aku ke rumah Ayah,” lirih Anna merasa bersalah.
“Dan akhirnya malah kecelakaan. Itu akibat pergi nggak diridhoi suami.”
“Kok, malah jadi aku yang terus-terusan salah, sih?”
“Kenyataannya begitu.”
“Jangan marah-marah terus ngapa, sih?”
“Apa sama sekali nggak membentakmu, dimana letak masalahnya?” protes Alan yang merasa tidak mengeluarkan suara bernada keras.
Anna kehabisan kata-kata. Amarah itu tidak harus disampaikan dengan cara membentak atau bicara kasar, amarah bisa ditunjukkan dari sikap dan cara bicara yang dingin. Seperti yang Alan lakukan sekarang. Anna ingin mengatakan itu, tapi ia tidak mau membuat kekesalan Alan semakin memuncak. Cukup dirinya saja yang menelan rasa kesal.
“Aku akan memindahkanmu ke kampus lain,” celetuk Alan akhirnya.
“Aku udah terlanjur nyaman berdekatan dnegan Stefi, Arini dan teman-temanku yang lain. Akan butuh adaptasi di lingkungan baru untuk hal itu.”
“Ooh... Aku lupa kalau itu adalah kampus idamanmu. Okelah, terserah kamu aja.”
“Aduuh... kenapa sih kamu nggak ngerti juga? Aku bicara sesuai dengan logika dan fakta, aku nggak mengada-ada. Apa aku harus mengorbankan sekolahku semata-mata hanya demi memenuhi emosimu?” Nafas Anna mendesis keras, ia menoleh ke wajah Alan yang hanya separuh.
Alan diam saja, ekspresinya datar.
“Turunin aku!” ucap Anna sebagai bentuk protes dan merajuk. Dan ia terkejut ketika mobil benar-benar menepi dan berhenti.
What? Alan benar-benar menurunkannya? Padahal tadi Anna hanya mengancam, hanya merajuk supaya Alan merubah sikapnya yang dingin. Tapi kenyataannya Alan benar-benar menghentikan mobilnya. Anna menatap Alan dengan mata berair.
Sedikitpun Alan tidak menoleh. Kedua tangannya masih setia pada bundaran setiran dan pandangan matanya masih lurus ke depan.
“Apa lagi yang ditunggu?” tanya Alan ketika Anna tidak beranjak turun.
Akhirnya Anna melepas sealtbelt, cepat-cepat turun, dan menutup pintu dengan kuat.
Mobil melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
Air mata menetes di pipi Anna melihat mobil yang dinaiki Alan menghilang dari pandangan ditelan keramaian.
***
Selama dua jam Alan berjiabaku dengan pekerjaan. Beberapa detik duduk di kursinya usai meeting dengan klien dari Vietnam dan bicara banyak hal dengan Collin, ia meraih ponsel dan menelepon Anna. Ia ingat sudah menurunkan Anna di tepi jalan. Keningnya mengernyit mendengar operator ngoceh menjawab teleponnya. Artinya ponsel Anna tidak aktif.
Apakah Anna sedang marah sampai-sampai ponselnya dinonaktifkan? Alan menelepon Rina dan menanyakan keberadaan Anna. Sayangnya Rina mengatakan kalau di rumah saat itu tidak ada yang namanya Anna. Majikannya belum pulang sejak beberapa hari yang lalu mengaku akan menginap di rumah Herlambang. Artinya Anna tidak pulang ke rumah. Lalu kemana dia? Alan mulai cemas.
Alan menelepon Angel menanyakan keberadaan Anna. Jawabannya sama, Anna tidak bersama mereka.
Mampus! Alan semakin kalang kabut.
Anna kemana? Alan langsung menelepon anak buahnya dan mengerahkan mereka untuk mencari Anna.
Berbekal kepanikan yang semakin meluap, Alan berkeliling mencari keberadaan Anna. Ia menelusuri setiap gang, bolak-balik melewati jalan dimana ia tadi menurunkan Anna, menanyai orang-orang yang berjualan di sekitar sana tentang Anna, tapi tak seorang pun yang tahu.
“Cewek yang tadi mondar-mandir di jalan sekitar sini memang ada tadi, Mas,” jawab salah seorang pria penjual cilok di trotoar. “Pakai baju warna biru ya, Mas?”
Wajah Alan berubah cerah, ada kemungkinan penjual cilok itu melihat kepergian Anna. Tak salah, Anna mengenakan baju berwarna biru muda.
“Iya iya, bener itu cewek yang saya maksud. Kemana dia?”
Pria itu menoleh ke kiri kanan mencari orang yang dimaksud. “Noh, itu dia. Dari tadi mondar-mandir mulu itu di situ.”
Pandangan Alan mengikuti arah telunjuk pria itu dan terkejut saat melihat sosok wanita berjalan-jalan sambil tertawa-tawa sendiri, mengorek-ngorek hidung dan kemudian bicara sendiri.
Orang gila?
Sinting! Untuk apa Alan mencari orang gila.
“Itu baru aja stres orangnya. Rumahnya kebakaran. Situ saudaranya ya, Mas?”
Alan tidak menghiraukan ucapan si penjual cilok dan berlalu pergi menaiki mobilnya. Memangnya ia kelihatan mirip dengan orang gila itu sampai-sampai dikira saudara? Pikirannya sudah kacau, malah semakin kacau dibikin si tukang cilok.
TBC