Holy Marriage

Holy Marriage
Sesuatu Yang Beda



Anna memasuki kamar dan melihat Alan masih tertidur dengan posisi yang sama seperti ketika dia tinggalkan tadi. Pria itu tampak sangat pulas. Anna merasa kasihan jika harus membangunkannya.


Setelah tadi dia mandi, kemudian bermian sebentar dengan Azzam di lantai bawah, bahkan sempat menyuapi Azzam makan, lalu dia kembali ke kamar dan Alan masih belum juga bangun.


Anna melihat jam dinding, sudah pukul 09.25 am. Dia duduk di sisi ranjang, menatap wajah tampan yang terpejam seperti bayi. Anna benci sekali dengan sikap Alan akhir-akhir ini, tapi kenapa perasaan cintanya tidak berubah? Entah berapa kali dia harus mempertanyakan hal yang sama dengan batinnya sendiri. Perang batin memang sulit, tapi itulah kenyataan yang dia alami.


Anna menjulurkan tangan dan mengelus kening Alan, berusaha membangunkan suaminya itu. Namun tidak ada gerakan sama sekali dari tubuh Alan setelah mendapat elusan tangan Anna. Hanya nafsnya saja yang terdengar keras dan teratur.


Dering ponsel membuat Anna mengalihkan perhatian ke ponsel Alan yang tergeletak di atas nakas. Bahkansuara dering sekeras itu pun tidak membuat Alan terjaga dari tidurnya.


Alta, sekretaris Alan memanggil.


Anna meraih ponsel Alan dan menjawab telepon. Belum sempat Anna mengatakan satu patah kata, Alta sudah lebih dulu berbicara di seberang sana.


“Halo, selamat pagi, Pak Alan. Jadwal peninjauan proyek akan dilangsungkan pagi ini, Pak. Tapi sepertinya Bapak belum hadir di kantor.” Suara Alta terdengar renyah.


“Maaf Alta, Mas Alan tidak bisa hadir ke kantor pagi ini.”


“Eh, maaf, Nona! Jadi ini Nona Anna?”


“Ya. Mas Alan sedang kurang sehat.” Anna sengaja mengatakan hal itu karena tidak ingin seluruh waktu Alan tersita hanya untuk bekerja. Biarkan wakil Alan alias kepercayaan Alan yang menjalankan tugas tersebut, tidak perlu Alan harus turun tangan menanganinya. Alan butuh waktu untuk beristirahat.


“Ooh… Pak Alan belum alihkan tugas tersebut kepada wakilnya. Tapi tidak masalah, kalau begitu biar saya konfirmasi ke bagian terkait.”


“Ya, makasih.”


“Sama-sama, Nona. Selamat pagi.”


“Pagi.”


Anna kembali meletakkan ponsel ke tempat semula. Pandangannya kembali tertuju ke wajah Alan. Pria itu masih tampak pulas.


Sebenarnya Anna ingin berpamitan pada Alan untuk bisa hang out bersama teman-temannya, tentu saja dengan membawa Azzam. Hari ini mantan teman-teman kuliahnya mengadakan pertemuan untuk bernostalgia. Anna ingin ikutan bersama mereka. Tapi bagaimana dia berpamitan pada Alan jika Alan saja tertidur puals begini? Serasa tidak tega membangunkan Alan.


Penampilan Anna sudah sangat rapi, sejak pagi dia sudah bangun dan berkemas karena berniat ingin keluar.


Anna menjulurkan tangan dan menyentuh lengan Alan lalu mengguncangnya pelan. “Mas Alan! Bangun!”


Alan menggeliat pelan.


“Mas Alan!”


“Hm,” gumam Alan tanpa membuka mata. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Anna.


“Bangun dulu sebentar, aku mau pamit keluar.”


“Kamu mau kemana, sayang? Jangan punya kebiasaan baru untuk meninggalkanku. Ayo, katakana kamu mau kemana, hm?” Alan menjulurkan lengannya dan menarik pinggang Anna, membuat tubuh Anna tertarik dan terjatuh di atas kasur. Lengan Alan melingkar di pinggang istrinya.


Anna mengernyit melihat sikap itu. kenapa Alan mendadak berubah? Bukankah akhir-akhir ini Alan bersikap cuek dan masa bodo terhadapnya? Lantas kenapa pagi ini semesra itu? Ada apa dengan Alan?


BERSAMBUNG


.


.


.