Holy Marriage

Holy Marriage
Di Ruangan Itu



Seluruh keluarga besar William berkumpul di satu ruangan luas.


Suasana di ruangan itu terasa tegang dan mencekam, terutama karena William baru saja memuntahkan amarah yang luar biasa. Suaranya menggelegar bak petir. Emosinya mendidih dan membeludak.


Stefi yang menjadi pusat kemarahan William, hanya bisa menangis bagaikan terdakwa yang menunggu putusan hakim.


Laura, istri William diam membisu dengan tatapan kosong ke depan. Satu lengannya memeluk pundak Stefi yang menangis di pelukannya.


Om dan Tante sesekali menggerutu, terutama tante yang bibinya sesekali monyong-monyong mencibir Stefi.


Kakek sibuk mengelus-elus dada rata si nenek akibat sesak nafas nenek kumat lagi. Melihat William marah besar, si nenek pun jadi sesak nafas.


Clarita sibuk menghitung jumlah keluarganya yang memenuhi ruangan dengan jari-jarinya. Mulai dari papanya, mamanya, kakaknya, nenek, kakek, om, tante dan para sepupunya yang menghadiri ruangan seperti upacara adat saja. Clarita baru sadar ternyata jumlah keluarga besarnya sangat banyak sekali. Bahkan jika mengadakan kenduri, tidak perlu lagi mengundang tetangga. Keluarganya saja sudah cukup memenuhi ruangan luas.


Tak lama kemudian Alan datang. Ia muncul bersama dengan Anna. Azzam tertidur di gendongan Anna, kepala bocah kecil itu nyender lemas di pundak mamanya.


Dengan raut panik, Alan berjalan menuju ke tengah-tengah ruangan. Pandangannya langsung terfokus ke arah Stefi yang menutup wajahnya dnegan kedua telapak tangan, sesenggukan pilu.


“Stefi hamil dengan pria yang sudah beristri,” geram William dengan pandangan ke wajah Alan.


Tanpa mendengar penjelasan William, Alan sudah tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ia sudah menduga sejak awal bahwa kabar buruk yang akan dia dengar adalah kehamilan Stefi.


Alan menahan emosinya. Ia sesungguhnya sangat ingin memarahi Stefi, tapi sepertinya kemarahannya hanya akan membuat Stefi semakin frustasi. Keadaan Stefi kini sudah memburuk pasca kemarahan William, dan Alan tidak ingin menambah keruh perasaan Stefi.


Sekarang, bukan amarah yang harus dikedepankan, tapi solusi.


“Sudah sejak awal aku memperingatkanmu supaya menjauhi pria itu, Stefi. Tapi kenapa kau melanggarnya?” Alan mendekati Stefi, berbicara dengan suara datar tanpa nada emosi.


Stefi belum bisa menjawab, hanya sesenggukan saja yang dia rasakan. Lehernya tercekat.


“Stefi, kenapa kau melanggar titahku?” geram Alan. Niat hati tidak ingin memuntahkan amarah, namun entah kenapa sekarang alan malah jadi emosi. Dia ingat sudah melontarkan pesan sampai mulut berbuih, tapi Stefi malah emlanggarnya. Percuma saja bibirnya komat-kamit melontarkan pesan pada Stefi waktu itu.


“Keluarga kita adalah keluarga terpandang, sedikit saja masalah, pasti diincar wartawan. Hidup kita menjadi konsumsi publik, lalu mau ditarok mana muka papa jika sudah begini?” William kembali memuntahkan emosinya. “Dimana Stefi menelan ajaran agama yang selama ini ditanamkan? Apa saja isi kepalanya? Kenapa malah perilaku tak bermoral yang dia lakukan? Keluarga kita juga memiliki harta yang melimpah, lalu kenapa Stefi bisa sampai berhubungan dengan CEO yang sudah memiliki istri? Apa yang dia kejar dari pria itu? harta? Soal harta, kita sudah berlimpah. Ketampanan? Masih banyak pria lajangan bermuka tampan yang berleiaran di luar sana. Lalu apa? Cinta? Huh…” William mendesah kuat sambil memalingkan muka.


“Stefi!” hardik Alan. “Tidakkah kau mendnegarku? Apakah ucapanku sudah tidak kau hiraukan lagi?”


Stefi masih sesenggukan. Antara malu dan bingung berbaur menjadi satu.


Alan menoleh ke arah Anna, menatap tangan mungil yang menyentuh lengannya.


“Aku tidak habis pikir, selama ini Stefi selalu mendengarkanku. Tapi kenapa untuk urusan yang satu ini, dia bisa sampai mengabaikanku,” geram Alan. “Apa yang diberikan oleh Naga sampai Stefi bisa bertekuk lutut pada pria itu? apa yang menarik dari Naga sampai Stefi membantahku?”


“Apakah hanya aku yang dipandang bersalah di keluarga ini?” Akhirnya Stefi buka suara. “Apakah hanya aku yang kelihatan penuh dosa? Bahkan Kak Alan pun pernah melakukan kesalahan yang sama, mempermalukan dan menukar kehormatan keluarga ini dengan berpacaran bersama wanita lain saat Kak Alan memiliki seorang istri.”


Jantung Alan berdetak kencang mendnegar jawaban Stefi. “Apa yang kau bicarakan? Kau masih saja membicarakan masa lalu? Kau tahu kalau itu salah, maka jangan ikuti kesalahan. Kita hanya perlu memperbaiki masa depan. Kau ini seorang wanita, jika sudah hamil begini, apa yang akan kau lakukan?” Alan berbicara dengan datar dan tatapan tajam. “Apakah kau akan menikah dengan pria yang sudah memiliki banyak istri? Atau kau akan melahirkan bayimu tanpa ayah? Jawab!”


Brak!


Alan menggebrak meja.


Sontak Azzam yang tertidur pun langsung terbangun. Kepalanya terangkat dan matanya yang merah pun terbuka lebar.


“Huaaaa… Huaaaa…” Tangis Azzam pecah akibat kaget. Ia memelorotkan tubuhnya dari gendongan Anna dan berguling bebas di lantai.


Duuuh… Azzam kalau sudah mengamuk main guling-guling saja. Anna kelabakan membujuk bocah itu. bahkan Azzam menolak tangan Anna saat wanita itu meraih tubuh putranya. Azzam terus berguling bebas kesana kemari sambil menangis histeris dan mata terpejam, tangisnya terhenti saat hidungnya kepentok sepatu Alan.


Azzam membuka mata dan menatap wajah Alan yang tampak tinggi.


Lah, tangis Azzam langsung diam sesaat setelah hidung mancungnya kepentok sepatu. Tau gitu, sudah sejak tadi Anna menjedotkan hidung bocah itu ke sepatu Alan sepuluh kali.


TBC


O ya, kenalin ini Azzam






Ganteng kan Azzam. hehe