
“Perbuatan Rafa yang menggoda perempuan sudah beristri itu sangat hina, tapi lebih hina perempuan bersuami yang melayani godaan pria lain. Ingat, Rafa itu pria hidung belang. Dia bukan pria baik-baik. Pria beriman mana yang sudi menjatuhkan harga dirinya di hadapan Allah dengan cara membuka pakaian wanita yang bukan mahromnya?”
Itulah kata-kata Angel yang cukup membuat Anna berkaca diri. Dan ia tidak lagi membalas chat Rafa. Selain takut dosa, ia juga mulai sadar bahwa Rafa bukanlah pria yang pantas untuk ia layani. Perlahan namun pasti, perasaan Anna terhadap Rafa mulai melebur saat itu.
Sudahlah, Anna tidak ingin mengingat masa lalu. Ia harus menatap masa depan. Bukan Rafa, pria yang pantas mendapatkan cintanya. Mungkin akan ada pria lain yang menjadi tambatan hati Anna, yang Anna sendiri belum tahu siapa dia.
“Kita mau kemana?” tanya Anna.
“Entar juga tahu.”
Selalu begitu jawaban Alan.
Mobil menepi, melewati pintu gerbang yang otomatis terbuka ketika seorang satpam memencet tombol.
Pandangan Anna menjelajah ke gedung bertingkat tinggi di depannya. Dan ia bisa menebak, itu pasti kantor milik Alan.
Anna melepas sealbelt dan buru-buru keluar dari mobil sebelum Alan membukakan pintu untuknya. Alan sudah berdiri di depannya dan mengulurkan tangan meminta digandeng. Anna tersenyum dan menuruti permintaan Alan, ia melingkarkan tangan kanannya di lengan kokoh itu. Mereka berjalan menuju gedung, melewati pintu utama yang otomatis terbuka di jarak satu meter sebelum mereka melintasi. Begitu memasuki ruangan lobi yang luas, kulit Anna langsung disambut dengan sejuknya angin AC.
Semua orang yang berpapasan dengan Alan, tersenyum menyapa sambil membungkukkan badan sebagai tanda hormat. Anna juga kecipratan dihormati, mereka juga menunduk hormat pada Anna.
Alan tidak memperkenalkan Anna pada para karyawannya, mereka pasti sudah mengenal Anna sejak hari pernikahan itu berlangsung.
Sepanjang berjalan di sisi Alan, Anna merasa seperti puteri yang sedang menggandeng pangeran dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Ternyata begitu rasanya menjadi orang tajir yang memiliki jabatan, selalu dihormati orang.
Pintu terbuka setelah cukup lama mereka saling pandang di dalam lift. Lantai 57. Tepatnya lantai di mana ruangan Alan berada. Alan membawa Anna memasuki sebuah ruangan luas.
“Ini ruanganmu?” tanya Anna dengan pandangan menyapu seisi ruangan. Benar-benar terkesan mewah dan nyaman.
“Ya.” Alan duduk di kursinya. “Sengaja kubawa kamu ke sini supaya kamu tau kantorku. Udah selayaknya kamu tau kantor suamimu.”
Anna mengangguk-anggukkan kepala.
Tok tok.
Pintu terbuka ketika sosok lelaki di balik pintu memasukinya. Lelaki berkemeja hitam itu menatap Anna dan Alan silih berganti. Kemudian ia tersenyum ketika pandangannya jatuh ke mata Anna, dibalas senyum pula oleh Anna.
“Hallo istri Alan, selamat datang di kantor ternyaman se-Indonesia.” Lelaki sok akrab itu berjalan masuk dan menyalami tangan Anna seakan-akan sudah mengenal Anna bertahun-tahun lamanya.
Anna tersenyum saja menanggapi lelaki ramah itu. Ukuran tubuhnya tidak jauh dari Alan, sama-sama tinggi dan kekar.
“Hei, Pak Alan yang terhormat, kenapa lo nggak bilang kalo ada adik ipar di sini? Kalo tau gini kan gue suruh OB bikinin minum sejak tadi. Kasian kan adik ipar kehausan.” Lelaki itu menepuk lengan Alan cukup kuat.
TBC